Monday, August 13, 2018

Bapak Menulis Cerita Tentang Dirinya Sendiri

Bapak, orang tua kandung saya, dikukuhkan sebagai seorang guru besar. Cita-cita yang lama beliau upayakan. Saya melihat jalannya yang terseok dan lama untuk sampai di atas sana, menyampaikan orasi ilmiah dari penelitian yang dibanggakannya.

Pada hari pengukuhannya, seorang rekan sejawat membacakan  riwayat hidup bapak. Naskah itu memperkenalkan saya pada bapak yang lain, bukan bapak yang saya kenal semenjak saya bisa mengingatnya.

Kenangan paling mula saya dengan bapak adalah menelusuri lorong pasar menuju tukang bubur ayam langganan sementara saya duduk di atas bahunya. Sampai hari ini, bapak tetap pergi ke pasar setiap pagi. Bapak yang saya kenal adalah bapak yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Naskah riwayat hidup itu ditulis oleh bapak sendiri.



BIOGRAFI PROF. DR. H. ACHMAD ASRORI, MA

Achmad Asrori merupakan nama yang disematkan ayah dan ibunya. Beliau lahir di Lampung Utara, 10 Juli 1955.  KH. Cik Manan almarhum adalah ayahanda tercinta yang sudah membesarkan dan mendidik beliau sampai menjadi orang hebat seperti saat ini. Dan Ibunda Hj. Zainamon almarhumah adalah ibunda yang dengan penuh kesabaran dan kasih sayang menghadapi berbagai kenakalan Asrori kecil.  

Asrori mengawali pendidikannya di Madrasah Diniyah Ibtidaiyah Muhammadiyah, Ogan Lima, Kotabumi, Lampung Utara dan lulus tahun 1969.  Sebagai anak nomor dua dari empat bersaudara, Asrori termasuk anak-anak yang cukup kreatif, mandiri dan sedikit bandel. Ketika Kelas 3 SD, ayahnya berangkat ke tanah suci kurang lebih tiga bulan di perjalanan, selama itu pula Asrori jarang pulang ke rumah, dan sering bermalam di pasar. Karena kebandelannyalah akhirnya tahun 1969, ketika sedang bermain kelereng, orang tuanya mengirimkan Asrori ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Dengan sangat terpaksa, Asrori menerima keputusan dari orang tuanya dan sejak itu dia tidak pernah pulang ke Lampung sampai menyelesaikan gelar BA nya. Hampir 10 tahun ayah dan ibunya menahan kerinduan untuk berjumpa dengan si buah hati belahan jiwa.

Jiwa pendidik yang sudah tertanam sejak awal membuat Asrori memilih PGA Nahdlatul Ulama, Blitar, Jawa Timur untuk melanjutkan pendidikannya dan lulus pada tahun 1975. Dengan prestasi yang cukup bagus, Asrori diterima di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Malang dan menyelesaikan sarjana mudanya tahun 1978, serta menyelesaikan sarjana lengkapnya tahun 1983 di perguruan tinggi yang sama. 

Selain jiwa pendidik yang tertanam dalam dirinya, ternyata Asrori juga piawai berbisnis sejak muda. Selama kuliah di Malang, beliau membuka bengkel dan jual kembang, dan melakukan penataan taman di rumah-rumah pelanggan. Ini salah satu kompetensi tambahan yang tidak pernah kita ketahui selama ini. Dan yang paling menarik lagi, Asrori terkenal sebagai juragan becak di kota Malang. Kurang lebih ada 40 becak yang dimilikinya di kota dingin tersebut selama menyelesaikan perkuliahan. 

Setelah menyelesaikan sarjana lengkapnya, Asrori pulang ke Bandar Lampung dan mulai mengajar di beberapa sekolah sebagai guru honorer. Antara lain; di SMA 2 Mei Bandar Lampung, SMP PGRIBandar Lampung, Madrasah Masyarikul Anwar (MMA) Bandar Lampung, menjadi Dosen Dosen Luar Biasa pada Lembaga Bahasa IAIN Raden Intan Lampung, Dosen Luar Biasa di Fakultas Ushuluddin dan akhirnya menjadi Dosen Tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung 1985 sampai sekarang.

Beberapa jabatan penting yang pernah diamanahkan pada beliau antara lain; Sekretaris Jurusan Bahasa Arab tahun 1986 - 1989. Pembantu Rektor Bidang Kerjasama IAIN Raden Intan Lampung tahun 2002 – 2006, Asisten Direktur I Program Pascasarjana IAIN Raden Intan Lampung 2008 – 2017. Dan saat ini, beliau adalah Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam pada Program Pascasarjana IAIN Raden Intan Lampung. 

Di luar kampus beliau aktif di kegiatan-kegiatan NU, dan pernah menjabat sebagai Wakil Bendahara Nahdlatul Ulama Wilayah Provinsi Lampung 1984 – 1987. Ketua Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama Wilayah Provinsi Lampung, A’wan Nahdlatul Ulama Wilayah Provinsi Lampung, Penasihat Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Lampung, Pengurus Dewan Masjid Indonesia Provinsi Lampung sejak 2012 sampai sekarang. 

Seluruh jejak karir dan kesuksesan hidupnya tidak terlepas dari doa ayah dan ibunya tercinta, dan hadirnya sosok istri tercinta, Dra. Hj. Halimah Agus. Bersama perempuan cantik ini lahirlah anak-anak yang luar biasa, Chusna Amalia, S.S., M.Pd, Heni Anggraini S.ST., M.Kes, Dania Hellin Amrina, SE., ME dan Dani Amran Hakim, SH., MH.

Berbagai karya ilmiah sudah dihasilkan Asrori, hingga menghantarkannya menjadi guru besar seperti saat ini. Beberapa buku yang sekarang menjadi rujukan mahasiswa dan para pembaca antara lain Kurikulum PAI IAIN: Dalam Dimensi Profesionalisme Guru, Pengembangan dan Reorientasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan Reorientasi Ilmu Pendidikan Islam; Paradigma Klasik Hingga Kontemporer. Dan artikel yang terbit di beberapa jurnal nasional dan internasional antara lain berjudul Islamic Education Development Strategy in Facing the Global Challenges dan Contemporary Religious Education Model on The Challenge of Indonesia Multiculturalism. Dan masih banyak karya-karya lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 

Semoga gelar akademik tertinggi yang diraih beliau akan menghantarkan beliau pada kemuliaan hidup yang penuh barokah dan rahmat Allah SWT. 

Burung kutilang terbang tinggi
Burung elang di kebun tebu
Setelah Meraih gelar akademik tertinggi
Semoga semakin bisa digugu dan ditiru

Pulang ke rumah setiap minggu
Hilangkan penat dari bekerja
Semakin Banyaklah membuat buku
Agar menjadi professor yang berkarya

Pergi Haji ke Kota Mekah
Jangan Lupa bawa Peniti
Jika Guru besarnya penuh berkah
Insya Aallah Syurga menanti

Tuesday, November 3, 2015

Aku tahu, kamu akan menjadi seorang bapak yang baik

kita bertiga



Hey, teman hidup.

Untuk aku, tiga puluh empat minggu terakhir adalah salah satu dari sekian banyak waktu-waktu paling seru yang pernah aku jalani bersama kamu.

Dimulai dari berita besar yang ngga kita sangka-sangka.

Bahwa aku hamil bukanlah kabar yang waktu itu ingin kita dengar. Iya, kan? Kita punya rencana panjang yang belum melibatkan kehamilan atau anak atau mengubah haluan hidup kita seratus delapan puluh derajat jungkir balik sebagai sepasang orang tua. Tapi aku hamil!
Hanya butuh satu dua hari untuk merasa ngga percaya, takut, ngga siap, bahkan ngga terima. Lalu aku jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada bulatan hitam yang tercetak di foto hasil USG pertama yang kita pajang di pintu lemari es itu. Cuma bulatan hitam di tengah-tengah segitiga yang kata dokter adalah rahimku, sekadar gambar dua dimensi di depan pintu lemari es. Tapi ia berhasil membuatku jatuh cinta.

Aku tahu, kamu juga merasa begitu.

Thursday, October 22, 2015

32 Minggu

ini kamu, waktu itu usiamu baru 12 minggu





Terima kasih untuk tiga puluh dua minggu yang sangat mudah, anakku, A

Tiga puluh dua minggu yang bagiku terasa lebih ajaib daripada keajaiban paling ajaib yang pernah dialami manusia biasa

Tiga puluh dua minggu yang bahagianya mengalahkan bahagia-bahagia yang sudah-sudah 
      
Tiga puluh dua minggu yang membuat aku percaya
Bahwa aku bisa jatuh cinta pada seseorang bahkan sebelum aku bertemu dengannya. 


Thursday, June 11, 2015

Tihau (femina, 9-15 Mei 2015)



Jalan menuju Dusun Abung Barat, Lampung, memang agak berliku. Dari jalan besar yang biasa dilewati bus-bus malam antarkota antarprovinsi dan truk-truk besar pembawa hasil bumi, ada sebuah jalan kecil membelah kebun-kebun lada. Jalan kecil itu berbatu dan becek karena proyek pelapisan aspal belum menyentuhnya. Turun naik menantang siapa saja pengendara yang lewat di sana. Ada sebuah turunan yang curam sekali lalu tanjakan yang tajam sekali, mirip mangkuk. Dan pada bagian dasar mangkuk itu, di salah satu sisi, ada tiga makam berdampingan. Sepasang berukuran manusia dewasa dan satu yang lain berukuran anak kecil. Kayu-kayu nisan tiap makam sudah melapuk, maka agak sulit membaca siapa yang dikubur disana. Tapi aku tahu siapa mereka.

Sunday, April 5, 2015

Selamat Jalan, Pak

Selama saya jadi mahasiswa ngawur di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, UNY, salah satu dosen yang betul-betul saya kagumi adalah Pak Asih Sigit Padmanugraha.
Dari beliau saya mula-mula belajar, dan kemudian dibikin jatuh cinta pada Creative Writing. Kelas-kelas yang diampu beliau berkesan sekali, yang masih saya ingat sampai sekarang kelas Menulis di semester III dan VI. 

Di kelas Menulis, setiap minggunya kami diminta untuk membuat esai satu halaman berupa ulasan kritis mengenai karya sastra Amerika tertentu. Kami mengulas karya-karya penulis perempuan Amerika seperti Amy Tan dan Anne Bradstreet, elemen horor dalam karya Edgar Allan Poe, fiksi ilmiahnya H.G. Wells, dan lain-lain. 

Sempat dibikin gemas sebab saya selalu mendapat nilai 6- atau mentok di angka 7- untuk tulisan-tulisan yang saya pikir sudah keren sekali itu. Sampai suatu hari akhirnya tulisan saya dinilai 9 oleh beliau. Rasanya kepengin saya bingkai dan pajang tulisan saya itu, satu-satunya yang mendapat nilai 9 selama satu semester kuliah Menulis. Memang saya tidak sampai membingkai lalu memajang tulisan itu di dinding tetapi tetap saya simpan sampai sekarang. 

Sunday, March 8, 2015

Sebaris Dua (Atau Lebih) Kalimat Pembuka Cerita Pendek



Belakangan, saya kembali menulis. Terakhir, cerita pendek saya dimuat pada 14 September 2014, lima bulan yang lalu, di Koran Tempo. Dan cerita pendek yang dimuat itu, saya tulis pada akhir 2013, lebih dari satu tahun yang lalu. Belakangan, saya kembali menulis. Tersendat-sendat dan seringnya tak tahu harus ke mana setelah satu atau dua baris (atau lebih) kalimat pembuka. Berikut beberapa kalimat pembuka yang sepertinya tak membuka apa-apa.


(satu) 8/3/15
Di saat-saat seperti ini, bahkan kopi paling enak tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tentu saja bagaimana rasa kopi yang paling enak itu akan berbeda menurut lidahmu dan lidahku. Aku akan menambah dua sendok gula. Kau selalu mengerenyitkan dahi setiap kali memergoki aku melakukannya. Dua sendok gula untuk satu sendok kopi.


(dua) 7/3/15
Tiga hari ia berada di sana. Tiga hari sebelum akhirnya mereka menemukannya. Terbaring di dasar danau dengan permukaan paling tenang, setengah tubuh melesak ke dalam lumpur, mengikuti berat batu yang dibebat pada salah satu kaki. 

(tiga) 2/3/15
Segalanya tampak terbakar di Somerville. Jalan-jalan setapak, bangku-bangku di taman, dinding-dinding gedung. Wening menengadah dan mendapati bahkan langit pun berwarna merah.
“Aku ingin ke pantai,” gumam Wening. Tak akan ada yang terbakar di sana, pikirnya lagi, meski aku bisa tenggelam.

(empat) 25/2/15
Jika nanti akhirnya pelukis itu datang menghampiriku, aku harap ia akan melukis kucing dan hanya kucing untukku. 

(lima) 24/2/15
Ruang tunggu ini ribut sekali. Seperti ada yang menumpahkan isi pasar tradisional, konser musik di gelanggang olah raga, dan penonton pertandingan sepak bola sekaligus di sana. Perempuan-perempuan- muda, muda sekali, setengah tua, tua- berbicara tak henti-henti. 

(enam) 3/12/14
“Tak ada jalan ke Roma. Tidak jalan yang itu atau pun lainnya. Tidak ada jalan” katanya.
“Dan aku telah mengutukmu dalam tujuh bahasa berbeda.”
“Kau harus takut.”
Tetapi aku tidak takut. Ia bisa menyerapahiku dengan desis racun yang keluar dari ujung-ujung percabangan lidahnya. Dan racun itu bisa membakarku sekaligus hingga aku berubah abu. Aku tidak takut.

(tujuh) 19/10/14
Aku memutuskan untuk tidak menyukainya. Setelah kebersamaan panjang kami, melalui pertimbangan yang cermat dan teliti. Kukatakan sekali lagi, ini bukanlah jenis keputusan, “Pokoknya aku tidak suka!” Aku bahkan menulis keuntungan dan kerugian jika aku menyukainya serta keuntungan dan kerugian jika aku tidak menyukainya. Aku memutuskan untuk tidak menyukainya. 

(delapan) 12/10/14
Kita adalah sepasang kekasih terakhir di muka bumi ini.  

(sembilan) 28/8/14
Aku membenahi lipatan pada ujung baju kurung. Usianya lima tahun, baju kurung yang tengah kupakai ini, dan hanya sekali-sekali keluar dari lemari. Kerudungku jatuh dari atas kepala, membebaskan anak-anak rambut, tertiup angin sepoi dari luar jendela. 

(sepuluh) 11/7/14
Hening. 
Hening membawa pikirannya yang gaduh ke mana-mana. Meski bibirnya- dengan kedua belah bertemu sempurna- itu terkatup, sedang ada keributan yang tak bisa kuduga-duga di dalam sana. Riuh rendah, sembrono, dan kurang ajar.
Tetapi, Hening tetaplah Hening.



Bahkan kopi paling enak tak banyak membantu. Saya mengetik sebaris kalimat, merasa konyol, menghapus kalimat, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, merasa konyol, membayangkan hal yang lain yang mungkin terjadi selanjutnya, mengetik, merasa konyol, menghapus, mengetik ulang, membayangkan apa yang akan tokoh lakukan, mengetik, merasa konyol, menutup naskah. 
Begitulah. Saya akan kembali melakukan hal yang sama besok. Mungkin kalimat-kalimat pembuka di atas akhirnya akan membuka sesuatu.


Tuesday, January 27, 2015

Aku mencari-cari tulisanmu tentang seorang gadis yang kau temui di sebuah kedai kopi





Aku mencari-cari tulisanmu tentang seorang gadis yang kau temui di sebuah kedai kopi. Tentang senyum canggung yang saling kalian tukar. Tentang kopi pesanannya dan kopi pesananmu. Tentang kubangan kenangan yang tiba-tiba mengepung. Tentang sendat pada percakapan kalian. Tentang kau yang tidak merasakan apa-apa kecuali kegembiraan bertemu seorang teman lama, dan mungkin ia juga tidak merasakan apa-apa kecuali entah kecuali apa kau tak ingin menebak-nebak. Tentang kau yang mengantarnya pulang dengan Vespa kebanggaanmu. Tentang ia yang ragu-ragu berpegangan pada ujung jaketmu. Tentang ucapan selamat tinggal dan bukannya sampai jumpa lagi.

Aku mencari-cari tulisanmu tentang semua itu tetapi tak berhasil menemukannya. Jika kau membaca tulisan ini, lalu kebetulan masih menyimpan tulisan yang aku suka itu, bersediakah kau mengirimkannya ke kotak surel milikku?

Terima kasih.