Saturday, December 22, 2012

"Where There is Love, There is Life" - Mahatma Gandhi

I've known Candra and Dinda since they're still boyfriend and girlfriend. I was there when finally they tied the knot as husband and wife. And now, they're expecting a baby. Yay-ness! So when they asked me to document their maternity, I couldn't say no even though I was like errrr... I didn't really know what to do, I wasn't sure I can do it, and so all the insecurities went on. And then, another problem came after. Well, I knew what I wanted from the beginning, how the final photos would be like. But "knowing it" is far different from "doing it". I didn't know what to do with the photos. So, I googled numbers of Photoshop tutorial and did a lot of trials and errors, still I couldn't get the photos I wanted. I'll try again later though. Well, I should stop making excuses for my amateurish works. So, from the bottom of an amateur's heart, I hope they'll happy with the results.











p.s. Phrases on the first and second pictures belong to Sandra Chami Kassis
      on the third picture is from  Suzanne Finnamore, The Zygote Chronicles 
      and the last one is quoted from Mahatma Gandhi.

Tuesday, December 11, 2012

Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?


Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu punya siapa?
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada itu 
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat dengan dada
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa dekat 
Kesedihan yang selalu kau bawa-bawa 
Kesedihan yang selalu kau bawa





Friday, November 9, 2012

Nukilan



Nukilan yang kembali pada pagi yang hampir jam dua
Setelah jeda-jeda dalam percakapan panjang kita yang tak lagi biasa

adalah:

Ramalan akan kesempurnaan. Lagu tentang merayakan akhir pekan. Anjing yang terlalu sering berpindah tempat tinggal. Kue ulang tahun pada tengah malam.

Sedang katamu, bercakap denganku rasanya seperti menyaksikan bintang jatuh
Ah,


Monday, October 29, 2012

an Indian in Indonesia


From 27th October to 4th November 2012, me and 16 of my friends from Kelas Pagi Yogyakarta got an opportunity to present our works on "Pameran Tugas Akhir KPY Angkatan 2: We are All Family". I had four photos displayed on this exhibition.

Jauh, 2012

The title of my photos is "Jauh" or "Distant". The subject on my photos is Sainik, an Indian who lives in Indonesia. He lives kilometers away from his family and as a result he missed some important occasions such as weddings. His absence cause an effect; it is as if he's being 'erased' from family documentation. The purpose of my photos is then to recreate the occasions and to put back Sainik on those family documentation. I used LCD projector because it gives an illusion of beingness. During the shoot, I asked him to pretend as if he was at the wedding, with his family. I wanted him to interact, to show emotion, and I pictured a sort of sadness, a sort of distance. The result illuminated me; I realized that distant is not merely about metric system, it's not only about physical presence, it's beyond that.

I was kind of having this uncertainty, this dissatisfaction with my works. I thought I didn't achieve what I really wanted. However tonight, I got a very positive review from Don Hasman. You have no idea how simple words from a simple man (even though he's anything but simple and everybody knows it) like Don Hasman can be like the greatest encouragement that I should've trusted myself more, that I actually have a little spark of hope to continue to learn photography. You know I always lack of confidence when it comes to photography. 

Anyway, these photos are work of many and I thank them whole-heartedly;
Mentor : Doni Maulistya
Talent : Paramvir Sainik
PA & Lighting : Romulus Alfianto
DI Artist : Edi Wijayanto
Assistance also came from Suryawan Wahyu Prasetyo, Habibi Ibnu Firdauz, and Nani.
I borrowed external flash from Candra Aji and projector from KPY.
Advices from Kurniadi Widodo & Berto Gesit

I post some other photos from this project which didn't make to the exhibition.




Wednesday, September 5, 2012

Test shoot

So, just like a pro (hahahaha) I had a test shoot with Ari Abrisam Abassy, the guy whose back you see on Suryawan Wahyu Prasetyo's book cover (see my previous post).

And here they are, two photos I took before the photo shoot. Am I a pro or what... haha... Okay... okay... who am I kidding here anyway :p






Sunday, September 2, 2012

Book Cover "Menunggu Pulang"


So, this Yuya guy, a good friend of mine, asked me million zillion years ago to do his book cover. And I waited and I waited until he finished his writings... BAM! A million years has passed and this is it! A humble cover for his book entitled "Menunggu Pulang"




this is actually a work of many;
Ari Abrisam Abassy as the talent
Romulus Alfianto as the PA & DI artist
Ponti Almas Karamina as the friendly critics

and let's salute Suryawan Wahyu Prasetyo as the author.

Saturday, August 25, 2012

Things You Can't Buy

Meet my sisters; Heni & Dania, and brother; Dani. In the last Ied, we reunited and took pictures, and laughed.





you can have all the money in the world but thing like this is priceless.

Wednesday, August 8, 2012

Menunggu Pulang: a teaser

This is a teaser of book cover photoshoot for "Menunggu Pulang", a collection of short stories written by Suryawan Wahyu Prasetyo







Thanks for the humble talent Ari Abrisam Abassy
and the videographer Alfianto Romulus
and the client Suryawan Wahyu Prasetyo

can't wait to finish it soon.


Wednesday, July 4, 2012

Solstice


Solstice, di sini matahari terus- terusan sembunyi, dan bulan jadi ratu jalanan. Aku menunggumu. 

Lampu- lampu berbentuk bunga salju berpendar warna- warni di tembok gedung- gedung tinggi Fifth Avenue. Sementara hutan setia memucat di hadapanku. Aku menunggumu.
*

“Ke mana bebek- bebek itu pergi ketika musim dingin?” tanyamu pada suatu ketika. 

Aku mengangkat wajah dari halaman ke- lima “The Catcher in the Rye”. Matahari sore musim semi hangat menimpa wajahmu. The Pond tampak setenang hati kita, dan hutan buatan manusia ini sedang kembali berwarna. 

“Di sinilah tempat kita seharusnya.. “ bisikmu, “kota dimana karya- karyaku dihargai, bukan saja dengan pujian dan basa- basi tapi dibeli”

“Kamu… percaya.. kita…hmmm…?”
 
“Ini sulit, tapi denganmu… apapun bisa… “

“Ah, sang fotografer dan penulis… living large in America!!! “

Aku menyelinap di antara kedua tanganmu. Sore di depan The Pond yang sempurna.
*

Apa yang kulihat seperti utopia. Kamu, duduk diam di salah satu bangku taman itu, dan pepohonan dengan daun- daunnya yang mulai menguning. Tak ada yang lebih teduh.

“Solstice!” 

Kamu berdiri, kira- kira dua langkah jarak antara kita. Kamu membaca raut wajahku. Kamu mengerti aku membawa kabar gembira. 

“Hello, permanent resident of America” kamu mengangkat tubuhku, dan kita berputar- putar tak peduli sekitar. 

Tapi cuma sebentar saja, lalu gembira kita berhenti disela wajah- wajah kalut, orang- orang berbicara panik dengan telpon genggam mereka, kemudian berlarian entah mengapa dan menuju apa. 

Kamu mencoba bertanya pada seorang lelaki tua yang memandangmu dengan tatapan paling ganjil yang pernah kita terima; “Hey, what is happening?”

“Haven’t you heard? Those terorists… “ dia tak menyelesaikan kata- katanya, berlari menjauh. Aku melirik pada jam yang melingkari pergelangan tangan; jam sembilan lewat sebelas pagi, tanggal sebelas bulan sembilan tahun dua ribu satu.
*

Pintu apartemen studiomu tidak terkunci. Buku- buku, jurnal- jurnal, diktat- diktat, kertas- kertas berserakan di lantai, sofa dan meja tak lagi benar berada di tempatnya, laci- laci terbuka sembarangan, lemari pakaian acak- acakan, tempat tidurmu dibongkar paksa, beberapa foto karyamu yang sangat kamu banggakan diambil dari dalam pigura, CPU komputermu hilang. 

“Solstice?” aku memanggilmu. Tak ada jawaban. Tolong, Tuhan, tolong.

“Achmad?!!!” aku memanggilmu, lagi. Tak ada jawaban. 

Aku tak bisa menemukanmu dimana- mana. Mereka membawamu entah kemana. Aku memungut Al- Quran yang jatuh di bawah meja, di antara lembarannya, secarik kertas dengan tulisan tanganmu terjatuh; datanglah ke The Pond, setiap tanggal 12 Februari, kita merayakan kelahiranmu bersama. 
*


Aku menunggumu.
Dari atas Jembatan Gapstow, hutan masih memucat. Aku menangis, rapat- rapat.


The Pond, Central Park, New York, Musim Dingin, 12 Februari 2011



catatan kaki
Solstice atau titik balik matahari adalah peristiwa astronomi yang terjadi dua kali dalam satu tahun ketika bumi amat miring. Solstice musim panas biasanya terjadi pada 21 Juni ditandai dengan siang hari terpanjang dalam setahun. Sedangkan solstice musim dingin pada 21 Desember ditandai dengan malam hari terpanjang dalam setahun.