Tuesday, December 31, 2013

Selamat Pagi, Moga (Media Indonesia, 29 Desember 2013)





Ketika saya bangun dari tidur pagi ini, seperti kemarin dan pagi-pagi sebelumnya, saya teringat bahwa ada lukisan yang belum sempat saya selesaikan. Maka saya bangkit, tanpa basa basi kopi, langsung menuju studio lukis.
Telah saya kelilingi rumah ini dua kali, telah terbuka kunci-kunci, dan pintu demi pintu pun telah saya singkapkan, tapi di mana konon ruangan yang saya cari? Terburu-buru saya kembali ke kamar. Di atas tempat tidur, istri saya pulas mendengkur.

Monday, December 30, 2013

Di Bawah Hujan - #Kuis27Desember-nya Yetti A.KA


Yetti A.KA, penulis kesukaan saya, berulangtahun di bulan Desember. Ia mengadakan #Kuis27Desember sebagai cara merayakannya. Kuis menulis cerpen tentang hujan yang berhadiah voucher Rp.200.000 belanja buku di @Jualbukusastra. 

Friday, December 20, 2013

Bujang Ketiga (Suara Karya, 14 Desember 2013)




Ada dua wajah baru di warung nasi padang Minang Jaya yang kutemui sore tadi.
“Hei, Jon. Kenapa kau selalu makan jam segini?” Uni Padang menyapa dengan pertanyaan penuh ingin tahu.
“Sengaja Uni, biar irit.”
“Sehari cuma makan sekali kau, Jon?” Ia segera mengajukan pertanyaan lain.
Aku meringis, kenyataan itu pahit, mengatakannya keras-keras itu jauh lebih pahit, “Iya Uni, sekalian makan siang dan malam. Biar irit.”
Ckckck… Joon… Jooon… kasihan benar. Sudah, besok-besok mampir saja kalau lapar, tidak perlu bayar. Tapi ingat, sekali-kali saja, ya. Bisa bangkrut aku.”
Tak ada yang tahu nama sebenarnya perempuan bertubuh sintal, pemilik warung nasi padang Minang Jaya itu, tetapi ia tersohor dengan panggilan Uni Padang.

Thursday, December 5, 2013

Penyiar Radio

Sekitar dua tahun dari hidup saya, pernah juga dihabiskan sebagai penyiar radio. Pekerjaan yang sangaaat menyenangkan. Mungkin kapan-kapan saya akan mencoba melamar pekerjaan sebagai penyiar radio lagi. Saya siaran di radio Star Jogja, salah satu acara yang saya bawakan adalah tangga lagu. Ini kenang-kenangan dari masa sebagai penyiar radio itu.



Tuesday, December 3, 2013

Wajah Cinta Pertama (Koran Tempo, 24 November 2013)





Cinta pertama begitu samar-samar baginya.

Dia duduk dengan buku sketsa bersampul warna hitam di pangkuan. Buku itu terbuka menunjukkan kertas kosong. Tangan kanannya memegang sebatang pensil yang cermat diraut hingga tebal goresan grafit akan sesuai kehendaknya: tidak terlalu tebal dan tidak terlalu halus. Teh panas di cangkir dengan tangkai berukir sulur daun mengepulkan asap. Sementara ruangan itu mewangi bunga lavender.

Semua harus sesempurna keinginannya, sebab ia sedang membayangkan wajah cinta pertama.

Sepertinya wajah itu berbentuk hati dengan garis rahang lembut. Apakah rambutnya sebahu? Kalau tidak salah, matanya selalu tampak redup dinaungi alis melengkung yang seperti busur panah. Di salah satu pipinya ada cekungan kecil yang tampak setiap cinta pertama itu tersenyum.

Ya, kalau ia tak salah mengingat, seperti itulah wajah cinta pertamanya.

Thursday, November 14, 2013

Saat Btari Bicara (Femina, f44, 9-15 November 2013)

(Judul awal: "Da, Dada, Dad, Da… “)





Istrinya uring-uringan lagi. Apa pasal? Sudah tentu karena Bagus yang tak mau peduli, apakah Btari, anak mereka yang berjalan lurus pun belum bisa dan selalu jatuh pada langkah yang kelima, harus diajak berbicara menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia.
Look, Btari, look. Mommy, daddy. There, there, dog! Woof!” Percobaan Bagus untuk membuat Btari melupakan kekesalannya dan berhenti menangis, berhasil. Isak anaknya berganti gelak, tetapi tidak istrinya.
Bersungut-sungut, Agata, istrinya, berkata, “Please, aku mohon kepadamu, gunakan bahasa Indonesia, bahasa ibumu.”

Monday, November 11, 2013

The Wanderer

Sebenarnya video ini sudah pernah diunggah, bersama beberapa foto (lihat di sini). Bahkan video dan foto ini adalah alasan mula-mula blog ini akhirnya dibuat. Tetapi video yang pertama diunggah itu tidak bisa diputar, mengapa oh mengapa, ya sudahlah tiada apa-apa. Jadilah saya unggah ulang.

Silakan ditonton Yuya jalan-jalan di tengah kebun tebu. Bukan, dia bukan mandor pabrik gula.



Friday, November 1, 2013

Video yang (hampir) tak bertemu denganmu

Ada sebuah video, dibuat akhir tahun yang lalu oleh saya dan Yuya. Rencana awalnya, video ini akan menjadi bagian dari promosi buku kumpulan cerpen 'Menunggu Pulang' karya Yuya. Tetapi sayang, hasilnya tak terlalu menyenangkan kami berdua. Jadi diputuskanlah bahwa video ini sebaiknya dilupakan saja, jangan sampai ada orang yang menontonnya, simpan saja di dalam folder lalu tak perlu dibuka-buka lagi, selamanya. Jeng jeng!

Inilah video yang (hampir) tak bertemu denganmu itu.






Selama beberapa akhir minggu- biasanya Sabtu atau Minggu sore, kami berdua berlari-lari ke sana ke sini sambil membawa-bawa koper tua yang besar dan berat. Berdua aja, kayak orang gila. 

Ada satu sore yang rekamannya hilang. Hmmm... diceritain ngga ya... hmmm... ngga usah deh, soalnya saya jadi takut sendiri. Huhu.

Wednesday, October 30, 2013

Tiga Puluh (Chic, 152, 15-30 Oktober 2013)






Besok aku akan mengucapkan selamat tinggal pada angka dua puluh dan selamat datang pada angka tiga puluh.
T I G A  P U L U H. 
Aku mengeja satu-satu kata itu di dalam kepala. Sementara kubikel kecil tempatku duduk menghadapi layar komputer setiap harinya selama kurang lebih enam tahun terakhir ini masih tak berubah. Foto-foto yang terpajang di atas meja kerja berganti-ganti, namun tak pernah ada wajah yang aku harapkan. Wajah laki-laki yang aku sebut suami dan wajah lucu anak kecil yang aku panggil anak.
Ya, aku tiga puluh dan sendiri.

Monday, October 21, 2013

Perihal Kucing Maria (Suara Merdeka, 20 Oktober 2013)


Suara Merdeka, 20 Oktober 2013

Ilustrasi: Farid S. Madjid

Maria Neidhart yang dulunya bernama Mesi Ngulinga telah menempuh perjalanan lebih dari delapan ribu kilometer dari rumahnya yang terletak di kota Cape Maclear nun jauh di Malawi untuk sampai di sini, pada sebuah flat kecil yang disewa suaminya sebagai tempat tinggal mereka berdua di sebuah kota yang tak kunjung didatangi musim panas.

Monday, September 9, 2013

Picturesque



Tak perlu menanam pohon kacang yang bibitnya kaucuri dari Jack 
 agar aku bisa memanjatnya lalu duduk memandangi dunia dari ketinggian.
Melainkan uluran tangan, 


Gumuk Pasir, Pantai Parangkusumo, Yogyakarta
Akuarium Kura-kura, Pantai Kartini, Jepara
Candi Borobudur, Magelang
Karimunjawa, Jepara
Pemakaman Raja-raja Mataram, Imogiri, Yogyakarta
Karimunjawa, Jepara
Bukit Pronojiwo, Kaliurang, Yogyakarta
Pantai Depok, Yogyakarta
Museum Alam dan Ekologi Pesisir, Pantai Depok, Yogyakarta
Karimunjawa, Jepara
Candi Borobudur, Magelang
Karimunjawa, Jepara


Saturday, July 13, 2013

Menemukan Ibu di dalam Sepatunya



Saya menemukan sepatu usang dengan sol tebal; sepasang wedges. Di bagian atap rak buku, dalam kotak berselimut debu, ia terlupakan. Sepatu itu milik perempuan yang sangat saya sayangi, sangat saya hormati, meski kami berdua tak melulu saling setuju, perempuan itu ibu saya. 

Sebenarnya susah sekali membayangkan, ibu saya- seorang perempuan sederhana yang menyimpan lipstik-lipstik berusia sepuluh tahun di dalam lemari rias karena terlalu sayang untuk membuangnya- pernah memiliki dan memakai sepasang sepatu bersol tebal dari tali rami dengan warna coklat muda yang senada. Lantai mana saja yang pernah diinjaknya dengan penuh gaya?

Perbincangan tentang wedges itu membawa ibu kepada kenang-kenangan masa muda. Pada sebuah foto lama dengan tepian berukir yang kekuningan, ibu ketika muda tersenyum. Ia mengenakan gaun berwarna biru tua berbunga-bunga dengan rok sebatas betis yang melayang ringan, rambutnya yang gelap dan panjang diletakkan hati-hati di depan dada, wajahnya tersenyum tenang dan kedua matanya lurus-lurus menatap ke arah kamera, tali-tali sepasang sepatu wedges berwarna coklat muda melingkari kaki-kakinya. Ia begitu cantik, dan saya hanya diwarisi sepersekian persen kecil kecantikannya.

Saya dan ibu bukan macam anak dan orangtua yang mesra. Kami tak berbagi cerita selain yang umum-umum saja, tak punya rahasia bersama, tak saling membelai atau mengecup pipi dan kening masing-masing. Kami punya dunia sendiri-sendiri. Maka ketika ia membicarakan apa-apa saja yang pernah dilakukannya dengan sepasang wedges itu bertahun-tahun yang lampau ketika usianya masih belasan, saya tercengung. Ia tak jauh beda dengan saya. Wedges itu menemaninya saat ia jatuh cinta, membawanya ke pesta-pesta, menginjak tempat-tempat seru, berkeliling bertemu orang-orang baru, mendampingi ketika sedih ditinggal teman pergi, ya seperti saya juga. 

Penemuan saya dan percakapan dengan ibu terjadi bertahun-tahun yang lalu, selagi saya masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, masih kanak-kanak yang sok mau dipanggil remaja. Saya bersyukur telah menemukan sepasang wedges itu lebih awal, lalu mengenali ibu saya lebih awal. Sekarang, saya dan ibu bertukar cerita dan rahasia, tak canggung mencium pipi dan kening, juga berbagi make up dan kadang sepatu juga.

Nukilan pengalaman ini kemudian menjadi cerita pendek berjudul “Kamu dan Aku, di Suatu Hari”. Satu tulisan dari dua puluh cerita pendek, enam puisi, dan dua artikel, serta ilustrasi dengan kutipan-kutipan cantik dalam buku “Sole Mate” karya Mia Haryono dan Grahita Primasari penggagas awal dan pengampu blog working-paper.com yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama. Bersama mereka, saya dan Okke SepatuMerah, Connie WongStephany Josephine, Yessy Muchtar, Kiki Raihan, Anggi Zoraya, Ponti Karamina, Ch Evaliana, Riesna Kurniati, Cynthia Febrina, Diar Trihastuti, Lia Khairunnisa, Annisa Fitrianda Putri, Nadya A Moeda, Fani Novaria, TiaSetiawati, dan Fatima Alkaff, menceritakan kisah-kisah tentang sepatu di dalamnya. Pengalaman yang menyenangkan.

Jadi sudah sepantasnya saya berterimakasih; terima kasih ibu, terima kasih wedges temuan.



Saya dan Ponti, seru banget baca Sole Mate ;)


P.S. Terima kasih juga untuk Ponti yang pertama kali memberitahu tentang proyek ini. Ciyum duluuu....


Thursday, April 4, 2013

Wednesday, February 27, 2013

Me and Him

I've known him for more than seven years, we were in relationship for six years, we practically grew up together. Four out of that six years we spent separately. It was hard, things came up, and last year I couldn't take it anymore and decided to end it. But you know, love finds a way, they said. I guess, we found our way.

me and him
On February 12th, 2013, he met my parents and properly asked for their blessings. Surprisingly, they said "yes" -with too many terms and conditions- So, we've set our mind, currently planning our future together.

Anton, I love you, always have, always will.


Saturday, February 23, 2013

Tuesday, January 8, 2013

Astrologi


“Kamu percaya astrologi?”

“Tidak. Kamu?”

“Aku percaya. Mungkin karena kita lahir pada tanggal dan bulan yang sama. Ketika bintang di langit membentuk rasi yang sama. Dan bumi berada pada titik yang sama. Dan alam menunjukkan gejala yang sama. Dan semesta dipengaruhi fenomena yang sama. Kita terlalu sama. Karenanya kita tak bisa bersama. Kamu mengerti?” 

“Tidak. Aku tidak percaya ramalan bintang.”

“Kamu tidak mengerti. Ini hukum sebab akibat yang paling sederhana"

"Kita, tidak sederhana."



11.2.2011
bukan untuk siapa-siapa.

Thursday, January 3, 2013

1994, revisited

I have a very cool job as a staff assistant of an academic journal. One of my very cool tasks is to archive the back issues of the journal, and when I said back issues I mean baaaaack like 1989-back. Yea, I have to scan every issue of the journal published from 1989 to 2012, from the first issue to the last one. So, hours of dedication to my work- read: scanning hundreds or maybe thousands pages of the journals- that I've spent trigger the genius inside me- read: the boredom inside me- to invent these artsy oh so artsy errr... can I say artworks? I call this series as "1994, revisited". Imagine, somewhere in 1994, somebody wrote the article wholeheartedly and years after that somebody- read: me- is reading it- read: scanning it- wholeheartedly.