Monday, October 21, 2013

Perihal Kucing Maria (Suara Merdeka, 20 Oktober 2013)


Suara Merdeka, 20 Oktober 2013

Ilustrasi: Farid S. Madjid

Maria Neidhart yang dulunya bernama Mesi Ngulinga telah menempuh perjalanan lebih dari delapan ribu kilometer dari rumahnya yang terletak di kota Cape Maclear nun jauh di Malawi untuk sampai di sini, pada sebuah flat kecil yang disewa suaminya sebagai tempat tinggal mereka berdua di sebuah kota yang tak kunjung didatangi musim panas.


Ia telah melupakan separuh kehidupan lamanya di Cape Maclear, atau Chembe begitulah kota itu dinamakan oleh orang-orangnya. Rumahnya yang terbuat dari campuran lumpur dan bata kemerah-merahan, berlantai tanah, sementara atapnya adalah hasil tambal sulam antara rumput ilalang kering, plastik, dan karton bekas, terletak di tepian Danau Malawi, bagian dari sebuah perkampungan kecil yang kotor.

Kecuali bau asin air laut bercampur amis ikan kering usipa yang dibawa angin, tak banyak lagi yang disimpannya dalam kenangan.

Setidaknya, itulah yang selalu ia yakinkan kepada dirinya sendiri.

Maria, seperti kebanyakan orang-orang di kampungnya, lebih senang melayani turis-turis yang datang ke Danau Malawi ketimbang merebus lalu mengeringkan ikan-ikan usipa di bawah sinar matahari. Maria cukup menyediakan makanan, sehari tiga kali, bagi para turis. Kadang-kadang ia diminta mencuci pakaian-pakaian kotor mereka, atau sekedar membawakan jagung. Apapun yang mereka minta, sebisa mungkin Maria penuhi. Maria menyukai ucapan pendek “Thank you” yang berasal dari wajah puas majikan-majikannya, turis-turis itu.

Hingga suatu hari, seorang lelaki berwajah anak-anak yang berusaha ditutupi dengan cambang berantakan menanyakan namanya, nama lengkapnya.

Memang, terkadang turis-turis itu mengajaknya bercakap-cakap, terutama jika mereka ingin tahu di mana bisa mendapatkan mariyuana terbaik, tetapi jarang ada yang sejauh itu, menanyakan nama lengkap.

Lelaki itu canggung, suatu sikap yang tak biasa ditunjukkan seorang turis berkulit putih sepertinya. Ia bernama Michael Neidhart, dari sebuah negara yang namanya sungguh sulit diucapkan oleh lidah Maria.

Michael, atau Mr. Neidhart begitu Maria memanggilnya kala itu, hanya berbagi cerita singkat bahwa di kota tempat kelahirannya matahari tak pernah betah berlama-lama menyapa. Maria tak bisa membayangkan ada kota yang begitu dibenci matahari.

Michael baru tiba sehari sebelumnya di Malawi setelah selama beberapa minggu menjelajahi Zambia. Sesudah pengalaman tak mengenakkan yang dialaminya, terpaksa meninggalkan mobil yang telah ia bayar harga sewanya selama sebulan di perbatasan antara kedua negara, sebenarnya Michael tak berharap terlalu banyak.

Namun ia telah keliru menduga.

Michael terpukau oleh kehidupan yang berjalan begitu lamban di tepian Danau Malawai. Seolah-olah ia tengah berada di dalam sebuah dunia yang berbeda, yang tak tersentuh hingar bingar peristiwa-peristiwa, yang sama sekali tak mengenal kata ‘waktu’. Meski tentu, semua itu tidak benar.

Menyaksikan kilauan cahaya matahari memantul di atas permukaan air sebening kaca, gugusan pulau-pulau di kejauhan, dan perahu-perahu kayu nelayan yang sesekali melintas, Michael terpesona.

Bukan hanya keindahan Danau Malawi, namun seorang perempuan berkulit cokelat yang sore itu mengetuk pintu bungalonya untuk menawarkan bantuan, juga telah mencuri hatinya. Perempuan yang  malu-malu memberitahu namanya; Mesi Ngulinga.

Setelah tinggal selama lebih dari enam bulan tanpa melakukan apapun yang berarti, Michael mau tak mau harus pergi meninggalkan Malawi dan danaunya yang indah. Tetapi ia enggan melepas Mesi, dan mungkin kepatuhan luar biasanya dalam melayani. Michael menikahi Mesi, mengganti nama perempuan itu dengan Maria lalu tak lupa menyematkan nama belakang Neidhart.

Mesi Ngulinga berubah menjadi Maria Neidhart.
***

Pada hari keberangkatan Maria untuk mengikuti ke manapun suaminya pergi, seisi kampung melepasnya dengan tangisan kencang. Maria terduduk diam di bagian belakang sebuah mobil dengan bak terbuka, menatap pilu tangan-tangan yang melambai-lambai kepadanya.

Saat itulah, Maria melihat seekor anak kucing kurus yang mengeong-ngeong putus asa. Seorang lelaki berkulit seputih suaminya yang tak dikenal Maria memungut anak kucing itu, menjaganya dalam pelukan.

Maria merasa kucing kurus itulah dirinya, sementara lelaki tak dikenal itulah Michael. Seperti kucing itu, ia merasa telah diselamatkan. Seperti kucing itu, kehidupan yang lebih baik telah dijanjikan membentang di depan.

Kucing itu terus menerus mendatangi Maria dalam mimpi-mimpinya meski bertahun-tahun telah lewat sejak hari keberangkatannya. Terutama pada malam-malam setelah penyiksaan panjang yang dialaminya.

Seperti hari ini, Maria alpa menuangkan susu pada kopi pahit suaminya. Michael, yang walaupun telah bertambah usia tetap mempertahankan wajah tak berdosa khas anak-anak itu, meradang. Cangkir berisi kopi berguling di atas meja terkena tepisan tangannya, isinya mengotori kain penutup berwarna putih, meninggalkan noda kecokelatan yang Maria tahu akan sulit dihilangkan nantinya.

Maria mengerut di balik celemek yang selalu dikenakannya sehari-hari, menanti hukuman yang pantas atas kesalahan kecil yang telah ia perbuat.

Cengkeraman tangan Michael di lengan Maria ketika lelaki itu menyeretnya terasa menyakitkan, ujung-ujung kuku terasa mendesak kulit hingga terluka. Terseok-seok, Maria mengikuti langkah kaki sembarangan suaminya. Ia tahu benar tujuan mereka; kamar mandi.

Maria duduk menekuk lutut di sudut kamar mandi, tepat di belakang toilet duduk yang selalu disikatnya sampai berkilau dengan hati-hati. Kepalanya terkulai, dan pikirannya mulai mengembara.

Kucing itu mengeong lagi, dekat dengan telinganya.

Maria kecil berdiri menantang angin. Danau Malawi terbentang luas di depan matanya. Ikan-ikan berwarna biru, hijau, kuning, berenang bebas, meliuk-liuk genit di antara batu-batu karang.

Di belakang Maria, seseorang menyentuh pelan bahunya. Maria tergelak lalu melompat ke dalam pelukan ibunya. Tangan-tangan kurus ibunya tak seringkih yang terlihat, masih mampu menopang kokoh berat tubuh Maria.

“Ibu, mengapa aku tak mempunyai rambut keriting seperti milikmu?” Maria bertanya sembari menelusuri gelombang rumit yang diciptakan jalinan rambut ibunya.

“Karena kau mendapatkan rambut lurus ayahmu.”

“Mengapa kulitku tak segelap kulitmu?”

“Kau suka kopi susu?”

Maria mengerjapkan mata. Ia suka kopi susu, meski hanya bisa dinikmatinya sesekali, hanya jika ada turis yang tak menghabiskan sarapannya.

“Kau tahu warna susu?”

“Putih.”

“Warna kopi?”

“Hitam.”

“Warna kopi susu?”

Maria berpikir sebentar lalu katanya, “Apakah aku mendapatkan sedikit kulit hitammu dan sedikit kulit putih ayah sehingga kulitku berwarna cokelat?”

Ibunya mengangguk. Maria tak bisa membayangkan rambut lurus dan kulit putih ayahnya. Maria tak pernah mengenalnya.

Michael berangkat kerja pagi itu setelah memastikan bahwa Maria telah terkunci rapat di dalam kamar mandi. Tak henti-henti ia mengutuki dirinya sendiri yang telah begitu dibutakan oleh cinta hingga mau mengambil seorang perempuan tak becus menjadi istrinya.

Cinta itu hanya bertahan sebentar.

Mungkin memang tak pernah ada cinta. Mungkin yang dicintai Michael bukanlah Maria tetapi ide tentang Maria. Maria di tepian Danau Malawi yang tak pernah rumit, yang sangat bahagia oleh hal-hal sepele seperti ucapan terima kasih tanpa makna.

Mula-mula Michael hanya tak suka setiap Maria mengungkit-ungkit penderitaan ibunya. Seorang lelaki berkulit putih, turis yang hanya singgah sementara, memerangkap ibu Maria. Lelaki yang tak dikenal Maria itu mengaku telah jatuh hati pada ibunya, menjanjikan pernikahan, dan sebuah rumah indah di suatu negeri yang jauh untuk anak-anak mereka kelak. Mabuk kepayang, ibu Maria menuruti apapun perkataan lelaki itu, menyerahkan diri seutuhnya. Tepat setelah ibunya mengabarkan bahwa lelaki itu tak perlu menunggu lebih lama lagi, bahwa ia telah membawa calon anak mereka berdua dalam kandungannya, lelaki itu pergi. Lelaki itu bukan hanya meninggalkan ibu Maria dan darah dagingnya melainkan juga penyakit. Bertahun-tahun Maria menyaksikan ibunya menderita digerogoti virus HIV. Kecantikannya direnggut penyakit jahat itu, menyisakan manusia kerangka yang kehilangan insting bertahan hidup, menjalani hari demi hari di atas tempat tidur, tak berdaya dan menderita.

Cerita yang sama diulang-ulang, berkali-kali, lagi dan lagi, hingga Michael percaya bahwa ia adalah penyebab penderitaan ibu Maria. Michael merasa, setiap Maria memandangnya, sesungguhnya istrinya sedang melihat wajah seorang ayah yang tak pernah dikenalnya, berambut lurus dan berkulit putih serupa dirinya. Rasa benci mulai bersarang di dada Michael.

Benih kebencian tersemai hingga muncul tunas yang lalu tumbuh dengan jalinan akar  begitu kuat sehingga sulit untuk dicerabut lagi.

Michael membenci Maria.

Kebencian itu kemudian mewujud.

Mungkin Michael hanya perlu melarikan diri sebentar, seperti apa yang pernah dilakukannya di Afrika beberapa tahun yang lalu. Bukankah ia merasa bahagia di sana? Jauh dari semua orang yang mengenalnya, merdeka berbuat apa saja semaunya. Barangkali kali ini Michael akan memilih tujuan yang sepenuhnya berbeda dari Afrika, bisa jadi suatu negara di Asia Tenggara? Belum pernah sekali pun Michael ke sana. Ya, tentu saja, melarikan diri sebentar ke sebuah negara di Asia Tenggara. Tak perlu menunggu waktu lama, pikir Michael, ia bisa melakukannya sekarang. Ya, sekarang, saat ini juga.

Ngeong kucing memantul di dinding-dinding dingin kamar mandi, gemanya sampai dengan nyaring di telinga Maria.

Maria tak pernah tahu bagaimana nasib anak kucing kurus itu. Apakah lelaki yang tak dikenal itu benar-benar menjaganya? Apakah anak kucing itu telah tumbuh menjadi seekor kucing gemuk yang malas? Ataukah lelaki tak dikenal itu lalu melepasnya setelah bosan mendengar suara rengekan manjanya? Benarkah dugaannya bahwa ada kehidupan yang lebih baik membentang di depan untuk anak kucing itu, atau sebaliknya? 
***

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”

Di depan sebuah konter pembelian tiket pesawat, tampaklah Michael. Ia masih mengenakan seragam kantornya.

Di pojok kamar mandi, Maria tak mendengar suara anak kucing itu lagi.

No comments:

Post a Comment