Wednesday, October 30, 2013

Tiga Puluh (Chic, 152, 15-30 Oktober 2013)






Besok aku akan mengucapkan selamat tinggal pada angka dua puluh dan selamat datang pada angka tiga puluh.
T I G A  P U L U H. 
Aku mengeja satu-satu kata itu di dalam kepala. Sementara kubikel kecil tempatku duduk menghadapi layar komputer setiap harinya selama kurang lebih enam tahun terakhir ini masih tak berubah. Foto-foto yang terpajang di atas meja kerja berganti-ganti, namun tak pernah ada wajah yang aku harapkan. Wajah laki-laki yang aku sebut suami dan wajah lucu anak kecil yang aku panggil anak.
Ya, aku tiga puluh dan sendiri.
Mengejar karir yang tampaknya juga tak berjalan ke mana-mana. Aku masih di sini, menulis artikel tentang cinta dan patah hati untuk sebuah majalah remaja. Remaja, ah, sudah bertahun-tahun lewat sejak aku menjalani masa-masa itu. Tapi lihat diriku, kaos bergambar band favorit sepanjang masa, Nirvana, celana jeans lusuh yang robek sedikit di bagian lutut, dan sepatu kanvas hitam, khas remaja. Ya, remaja di tahun 90an.
Aku seperti tak beranjak ke mana-mana. Aku ingin ke mana-mana. Aku ingin pindah dari kubikel sempit ini, menghabiskan akhir minggu dengan suami dan anak. Aku ingin memakai gaun musim panas kuning bermotif bunga lili dan sepatu wedges berwarna merah, atau apapun lah itu yang menandakan aku berusia tiga puluh tahun.
Aku mengemasi barang-barang bawaanku ke dalam tas. Tidak ada make up lengkap, cuma bedak tabur dan lipgloss. Jangan bayangkan tas tangan Hermes, cuma tas punggung kecil berwarna hitam, tanpa merk. Komputer dimatikan, dan aku siap pulang lebih awal. Aku capek.
“Heh! Lu mau ke mana? Baru jam berapa nih?”
Anton, yang usianya enam tahun lebih muda, berteriak dari kubikel sebelah ketika melihatku berdiri. Tak ada basa-basi atau panggilan hormat apapun, cuma ‘Lu’.
“Kepala gue berat nih. Kerjaan udah kelar semua.”
“Jangan lupa nonton bola bareng loh cyn, besok jam 7 malem, oke?”
Huh, sekali-kalinya ada laki-laki yang mengajak jalan, bukannya kencan malahan nonton bola bareng.
“Oke cyn…”
Dan satu lagi, laki-laki yang satu ini suka sekali memakai kata ‘cyn’ dengan huruf ‘y’. Salah sekali. Tak ada harapan ia akan mengajakku kencan nan romantis suatu hari nanti.
Seharian mood-ku jelek. Bukan saja karena akan bertambah tua, belum ada jodoh, dan merasa tak mampu tampil seperti perempuan dewasa, tapi juga karena sebuah undangan reuni SMA. Di milis, di Facebook, di Twitter, semua teman-teman lama mengingatkan reuni satu angkatan, nanti malam di salah satu kafe.
Oh, bisakah kita percepat waktu dengan semacam pengendali ajaib sampai ke dua hari ke depan? Agar aku tak usah bertemu dengan teman-teman SMA yang aku bayangkan sudah sukses dan beranak pinak semua? Agar aku tak perlu merayakan ulang tahun ke tiga puluh dengan acara nonton bola bareng? Tidak bisa, tidak ada pengendali ajaib yang akan membantuku melewati masa-masa yang kurasa sulit. Hidup harus dijalani semestinya.
Aku memilih menghabiskan sisa hari di rumah, masih tujuh jam sebelum acara reuni nanti malam. Lihat kamar ini, seperti kamar kos dengan kasur yang digeletakkan begitu saja di atas lantai. Lihat rumah kecil yang cicilannya akan habis kira-kira sepuluh tahun lagi, tak ada sofa besar dan empuk atau lemari dengan pajangan guci-guci hias seperti umumnya rumah lain.
Lalu, tak banyak lagi isi rumah yang bisa aku ceritakan. Tak ada tawa anak kecil atau suara berat laki-laki. Aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di rumah kecil ini.
Aku terduduk di atas tempat tidurku, menangkupkan kedua tangan di atas wajah, ingin menangis. Telepon genggam berdering, nama ‘Ibu’ berkedip-kedip di layarnya.
“Halo, Ibu…” suaraku bergetar.
“Vivi, kamu baik-baik aja?” Ibu pasti menyadari, ada yang berbeda dalam sapaanku.
“Baik, Bu… cuma… aku minta maaf, Bu.”
“Kenapa, Vi?”
“Aku belum bisa kasih Ibu cucu.”
“Ya, jangan kasih Ibu cucu aja dong. Cari bapaknya aja dulu, Vi.”
Suara Ibu ringan menggodaku. Ah, ia memang ibu terbaik di dunia, tak pernah menuntut macam-macam dan selalu bangga pada anaknya.
“Iya, Bu. Eh, Ibu kenapa telepon?”
“Ngga apa-apa. Cuma kangen sama kamu. Besok ulang tahun, kan? Mau kado apa?”
“Ah, Ibu inget aja. Ngga usah kasih kado apa-apa, deh. Eh, kado suami boleh juga tuh, Bu.”
Ibu tergelak kecil, “Ya, udah. Ibu mau nyiapin makan siang untuk suami Ibu. Emangnya kamu… ngga punya suami.”
“Ibuuu….! Salam ya buat suaminya.”
“Ya, kamu baik-baik ya, Vi.”
Ibu memutus hubungan telepon.
Ah, Ibuku yang baik. Mungkin ada gen ‘santai’ Ibu yang diwariskannya kepadaku. Ibu selalu cerita ketika muda dulu pernah menjadi groupie band-band rock tahun 70an. Namaku pun, Vivian, diambil dari nama Vivienne Westwood, ratu punk tahun 60an yang sekarang dikenal sebagai desainer ‘gila’.
Telepon dari Ibu memberiku semangat kembali. Peduli apa kalau sehari lagi aku berusia tiga puluh tahun, belum menikah, bekerja di dalam kubikel kecil menulis artikel cinta remaja, dengan cicilan rumah yang akan selesai sepuluh tahun lagi.
Hidupku bukan tentang apa yang orang lain bicarakan, tetapi apa yang aku rasakan. Yang terpenting, aku bahagia. Iya, kan? Aku menarik nafas panjang, meyakinkan diri sendiri bahwa aku bahagia.
Aku berdiri di parkiran kafe, tempat reuni SMA yang seharusnya aku datangi sejak satu jam yang lalu. Sengaja terlambat, aku berharap reuni itu sudah selesai. Tapi kafe itu terang benderang, lagu Backstreet Boys terdengar jelas dari tempatku berdiri. Ok, Vivienne Westwood tak akan ragu-ragu begini. Ia akan masuk dan membuat semua orang tercengang dengan kehadirannya. Ya! Aku akan masuk!
Dua orang panitia yang wajahnya samar aku kenali menyambutku di meja depan. Aku lupa nama-nama mereka, tapi pastilah teman-teman satu angkatanku. Aku diminta menuliskan nama lengkap dan kelas terakhir sebelum lulus, lalu mereka memberiku name tag dari karton tebal untuk disematkan di atas dada.
Ok, sepertinya aku salah kostum. Aku memandang ruangan yang penuh dengan orang-orang berpakaian formal dengan gaun malam, kemeja kantoran, dan sepatu mengilap. Sedangkan aku, topi fedora, kemeja kotak-kotak merah kebesaran, jeans biru, tas jinjing besar dan sepatu Docmart. Maaf, tapi aku memang tak punya koleksi gaun malam, dan ini pakaian kerjaku sehari-hari.
“Vivi! Aku kira kamu beneran ngga bisa datang!”
Seorang perempuan dengan rambut tertata, gaun malam berwarna hitam dengan leher rendah, dan kalung berlian berkilau menghampiriku. Dia, Bitha, dulu adalah temanku ‘ngegembel’. Tapi lihatlah ia sekarang, bertransformasi dari seorang punker wannabe menjadi perempuan anggun pengoleksi berlian.
Aku menyiapkan diri. Dia menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan menghakimi. Inilah kenapa aku selalu menghindari pertemuan dengan teman-teman semasa sekolah dulu.
“Hey, Bitha. Apa kabar? Kamu cantik banget.“
Thanks. Kamu juga, awet muda, ya.”
Ya, ya, ‘awet muda’ mungkin adalah komentar pengganti yang lebih halus dari ‘segini- gini aja hidup lo?’
Aku tersenyum kecut ketika teman-temanku yang lain satu-satu berdatangan mengelilingiku. Aku merasa semacam makhluk langka yang sedang diamati di museum. Dan memang komentar-komentar yang aku takutkan datang silih berganti. Aku merasa sesak. Aku harus keluar dari ruangan ini.
Malam ini bintang terlihat lebih jelas. Aku duduk menghadap ke arah taman di luar kafe yang remang. Dari dalam kafe gelak tawa dan riuh rendah percakapan terdengar.
“Halo Vivian.“
Sebuah suara mengejutkan aku. Aku berbalik dan di sanalah ia berdiri. My teenage crush. Seseorang yang diam-diam aku taksir selama tiga tahun masa SMA. Pemain basket handal yang tak pernah lebih dari lima menit tahan ngobrol denganku.
“Abi.”
Abi segera duduk di sebelahku tanpa meminta ijin. Dulu, dia adalah cowok yang bisa membuatku seperti kehilangan kemampuan untuk bernafas. Sekarang, dia adalah laki-laki yang tetap saja bisa membuatku susah bernafas.
“Apa kabar, Vi?”
“Baik”
“Salah kostum, ya?”
“Hehe…”
Kami berbicara lama, mencoba mengejar ketertinggalan selama tiga belas tahun tak pernah bertemu. Dia bekerja di sebuah bank. Dia sudah pernah menikah dan sekarang berpisah. Dia punya anak laki-laki berumur empat tahun yang mirip dengannya.
Sedangkan aku, tak banyak rasanya yang bisa aku ceritakan. Tapi dia terlihat begitu antusias mendengarkan setiap kisahku.
“Hidup kamu menyenangkan ya, Vi.”
“Hmm…”
“Dari dulu kamu memang menyenangkan.”
“Hmm…”
“Kapan-kapan kita ngopi, yuk.”
Oh, apakah ini tanda-tanda Abi ingin mengenalku kembali lebih jauh? Dan apa katanya? Hidupku menyenangkan? Dari dulu aku memang menyenangkan?
Mungkin dia benar, aku menyenangkan. Aku santai tapi tetap bertanggung jawab. Aku punya karir yang patut aku banggakan. Aku punya rumah sendiri tanpa perlu seorang laki-laki memberikannya untukku.
“Ngga usah dipikirin, Vi. Orang-orang di dalam sana cuma iri sama kamu karena kamu keren dan mereka membosankan.”
“Apa, Bi?”
“Hmm… masuk yuk. Kayaknya bentar lagi kelar acaranya. Jangan lupa, kapan-kapan kita ngopi, ya? Aku sudah punya nomormu.”
Abi berdiri tapi tiba-tiba keberanianku muncul, kepercayaan diriku kembali. Aku menahan tangan Abi.
“Bi, besok aku ulang tahun. Kamu mau dateng ke acara ulang tahunku?”
 “Ya, pasti. Aku mau dateng ke acara ulang tahun kamu. Di mana? Jam berapa?”
“Nonton bola bareng…”
Abi terlihat terkejut sebentar tapi cepat raut wajahnya kembali tenang, malah seperti kagum. Benarkah itu? Abi kagum dengan ulang tahun yang dirayakan dengan cara nonton bola bareng?
“Kamu memang beda, Vi. Spesial. Istimewa. Dari dulu…”
Abi menggantung kalimatnya. Hatiku melompat-lompat.
Sepanjang perjalanan pulang aku tak bisa menyingkirkan tarikan lebar bibirku. Hari ini dimulai dengan hancurnya mood dan perasaan gagal, diakhiri dengan kemungkinan mendapatkan suami dan anak sekaligus! Aku turun dari mobil karena harus membuka pagar sendiri. Yah, resiko hidup sendiri. Tiba-tiba…
“SURPRISE!!!”
Teman-teman sekantorku muncul dari kegelapan teras depan. Mereka membawa kue tart kecil dengan lilin angka satu dan tujuh di atasnya.
“Gilaaa! Kalian… “
Aku meniup lilin yang menyala, dan cepat kue itu mendarat di wajahku. Teman-temanku yang baik dan perhatian. Aku terharu dan menangis bahagia tersedu-sedu.
“Lah, preman kok nangis, cyn…” Anton menggodaku, “Jangan sedih, besok malem masih nonton bola bareng, kok!”
Aku tergelak. Oh, betapa hidup ini penuh kejutan! Hidupku menyenangkan! Aku hanya harus melihat dari sisi yang lain. Aku hanya harus lebih bersyukur.
Dering telepon genggamku menandakan ada sebuah telepon masuk.
“Halo, Abi?”
“Vivi, sudah di rumah, kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Cuma mau memastikan kamu selamat sampai di rumah.”
Aku tersenyum. Tiga puluh terasa manis sekali.

No comments:

Post a Comment