Thursday, November 14, 2013

Saat Btari Bicara (Femina, f44, 9-15 November 2013)

(Judul awal: "Da, Dada, Dad, Da… “)





Istrinya uring-uringan lagi. Apa pasal? Sudah tentu karena Bagus yang tak mau peduli, apakah Btari, anak mereka yang berjalan lurus pun belum bisa dan selalu jatuh pada langkah yang kelima, harus diajak berbicara menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia.
Look, Btari, look. Mommy, daddy. There, there, dog! Woof!” Percobaan Bagus untuk membuat Btari melupakan kekesalannya dan berhenti menangis, berhasil. Isak anaknya berganti gelak, tetapi tidak istrinya.
Bersungut-sungut, Agata, istrinya, berkata, “Please, aku mohon kepadamu, gunakan bahasa Indonesia, bahasa ibumu.”
“Memangnya bahasa Inggris adalah bahasa Ibumu, eh?” Bagus berbicara dalam dialek Italia yang dibuat-buat dan tak mirip sama sekali. Bahkan Agata pun, yang jelas-jelas bernenek-moyang imigran dari Italia tidak bicara dengan cara yang aneh seperti itu.
"Iya! Ibuku berbicara dalam bahasa Inggris! Huh!" Agata mendengus. Sudah hilang ke-Jawa-an suaminya akibat bertahun-tahun tinggal di New York. Sembunyi di mana lelaki penurut yang telah berjaya membuatnya bertekuk lutut? Satu-satunya hal yang mengingatkan Agata bahwa ia bersuami seorang Jawa adalah nama "Btari" yang diberikan si suami kepada anak pertamanya.
Udara musim panas membuat Btari menjadi mudah gelisah. Ia biasanya anak yang manis dan tak banyak tingkah, tetapi baru setengah jam mereka duduk, sudah dua kali Btari merengek-rengek. Agata membelai-belai punggung anaknya yang duduk di pangkuan Bagus. Duduk bertiga pada sebuah bangku panjang di taman kota, mereka tampak sempurna. Tak ada yang tahu, lidah-lidah api yang disimpan rapi di dalam sekam mulai menyambar-nyambar ke permukaan.
Washington Square Park sore ini ramai, seperti biasa. Barangkali semua penghuni Greenwich Village memutuskan untuk mengadakan pertemuan rahasia di sini. Bagus tak menanggapi dengus istrinya. Ia lebih tertarik dengan tumpah ruah pengunjung, meresapi benar-benar cara New Yorkers menikmati matahari musim panas.
Mahasiswi-mahasiswi NYU yang rajin lalu lalang dengan tumpukan buku-buku didekap dekat dengan dada. Anak-anak berkejaran mengelilingi air mancur, teriakan mereka timbul tenggelam. Sementara yang dewasa- jika perempuan berbikini, jika lelaki bercelana pendek saja- duduk-duduk malas di undakan yang mengelilingi air mancur, mencelupkan kaki-kaki mereka. Pemilik-pemilik anjing saling berpapasan, kadang ada yang membawa sekaligus tiga bahkan lima, dan jika begitu mungkin saja ia adalah seorang dog walker yang sedang menghabiskan jam kerja.
Seorang musikus dengan grand piano, ya grand piano bukan keyboard musik enteng yang bisa dibawa di punggung, memainkan “Prelude in C Minor” milik pianis Sergei Rachmaninoff yang kebetulan disukai Bagus.  Berderet-deret meja catur dengan empu yang setia menunggu, mana tahu ada pejalan kaki yang bersedia bertaruh beberapa dolar untuk menjadi penantang. Aksi akrobatik diperagakan dengan ulung oleh dua orang pesepeda roda satu, mereka berputar-putar dengan tangan saling berpegangan, lalu hup! berpindah tempat, mengejutkan. Tanpa Bagus sadari, ia bertepuk tangan. Btari menengok ke atas, ke arah tepukan tangan Bagus, lalu terkekeh-kekeh sendiri, “Pap, papa, papa… hihi… hihi…“ Bagus dan Agata saling berpandangan, sebuah peristiwa luar biasa baru saja terjadi. Btari mengucapkan kata pertamanya.
“Katakan ‘bapak’, Bagus. Minta ia mengatakan ‘bapak’ bukan ‘papa’” bisik Agata di telinga Bagus. Ia bisa saja mengatakan sepatah kata itu sendiri tetapi bahasa Indonesia keramat baginya, tidak bisa digunakan sembarangan di depan Btari.
“Bukankan begitu cara orang Italia, memanggil ‘papà’ dan bukan ‘dad’ apalagi ‘bapak’” sergah Bagus. Ia sama sekali menentang keinginan Agata untuk menjadikan Btari seorang penutur dwibahasa, Inggris dan Indonesia. Untuk apa bahasa Indonesia di Lower Manhattan?, pikir Bagus.
“Kau harus mendukungku, Bagus. Bagaimana membesarkan anak bersama jika kita tak saling sepakat? Di depan Btari, aku akan menggunakan bahasa Inggris sedang kau akan berbahasa Indonesia, OK?”
“Kadang, kau bahkan tak mengerti ucapanku dalam bahasa Indonesia.”
“Ya, selama kau bicara tidak terlalu cepat, aku mengerti, kok.
“Aku sudah lupa bahasa Indonesia.”
“Bagaimana bisa kau lupa bahasa Indonesia? Lalu bahasa apa itu yang kau pakai tiap kali ibumu menelepon dan kalian berdua bicara panjang lebar berlama-lama?”
“Ah, repot sekali. Aku kan, tidak terbiasa berbahasa Indonesia di sini.”
“Kau tak perlu setiap saat, setiap waktu, berbicara dalam bahasa Indonesia, hanya jika sedang berada di depan Btari. Kau bahkan tidak perlu mengajarinya. Biar dia menangkap sendiri.”
“Nanti dia bingung. Ibu dan ayahnya bicara dalam dua bahasa yang berbeda. Apa tidak akan tertukar-tukar?”
“Itu mitos. Kau tahu, semua anak, kau dan aku juga dulu, akan mengalami proses akuisisi bahasa. Nativists percaya, sejak lahir manusia membawa potensi bahasa yang akan berkembang sesuai dengan proses kematangan intelektualnya. Sementara behaviorists mengatakan, bahasa diperoleh seorang anak melalui proses pembelajaran, tugas kita sebagai orangtua adalah memperkuat stimulusnya.”
“Lalu, kau termasuk ke dalam kelompok mana? Apa yang kau percaya?”
“Kerja-kerja otak manusia itu rumit.  Awal-awal tahun kehidupan, otak seorang anak memiliki kemampuan menyerap informasi dengan sangat tinggi. Aku percaya Btari akan berbicara dalam dua bahasa, bahasa Inggris dan Indonesia, asalkan kau mau membantuku memberikan stimulus yang tepat. Golden age ini tidak akan terulang, Bagus.”
“Jadi?”
“Jadi kita akan menerapkan strategi satu orang bicara satu bahasa, terus-menerus, secara konsisten dan terjaga. Aku bicara dalam bahasa Inggris dan kau berbicara dalam bahasa Indonesia. Dio Mio!  Mengapa harus kuulang-ulang ini? Bagian mana yang tak kau mengerti, hah?”
“Bukan 'Dio Mio', tetapi 'Oh, my God'. Tolong, jangan bicara dalam bahasa Italia. Kau harus bicara dalam bahasa Inggris, terus menerus, secara konsisten dan terjaga di depan Btari."
"Mengapa kau sinis sekali, Bagus?"
Karena kau bahkan bukan orang Inggris.”
“Aku warga negara Amerika.”
“Kau orang Amerika? Kalau begitu bicaralah dalam bahasa Navajo atau Cherokee. Amerika Serikat tidak punya bahasa resmi. Bahasa Inggris hanya bersifat de facto.”
“Kenapa kau selalu sengit, Bagus? Apa salahku? Aku hanya ingin, Btari mengenal asal-usulnya. Jangan sampai ia tercerabut dari akarnya.”
“Dua orang imigran sedang membicarakan asal-usul. Baiklah, mari kita bicarakan asal-usul, Agata.”
Bagus memandang istri dan anaknya berganti-gantian. Agata memiliki kecantikan khas Italia. Rambut gelap yang panjang bergelombang, alis tebal yang menaungi mata dengan bola-bola berwarna hitam pekat, hidungnya ramping dan tinggi serta bibir tebal kemerahan.
“Sebelum kau hamil, aku pulang ke Indonesia, ya kan, Agata? Sebab kuliahku telah selesai, dan kita sedang tarik ulur mengenai apakah aku yang akan pindah ke New York ataukah kau yang akan ikut aku pulang ke Jogja.”
“Ya, Bagus.”
“Lalu, lima bulan kemudian, keputusan diambil. Aku mengalah, meninggalkan tanah leluhurku demi engkau. Ingat kan, Agata?"
"Iya, Bagus."
"Aku kembali, ternyata kau tengah mengandung Btari.”
“Iya, Bagus.”
“Berapa usia kandunganmu saat itu, Agata?”
“…dua setengah bulan, Bagus…”
Bagus memandang anak dalam pelukannya. Ia kesulitan mencari jejaknya di sana. Tak ada rambut hitam atau hidung besar serupa jambu air, juga tak ada kulit berwarna kuning buah langsat seperti miliknya. Rambut Btari yang masih begitu lembut berwarna kuning keemasan, blonde. Matanya biru jernih mengerjap-ngerjap. Di pucuk hidungnya, bintik-bintik hitam freckles mulai membayang. Bintik-bintik yang mengingatkan Bagus kepada Jonathan, tetangga apartemennya.
“Jadi, katakan padaku sekali lagi tentang asal-usul itu. Jelaskan padaku sekali lagi, untuk apa Btari bicara dalam bahasa Indonesia, Agata?”
Agata tidak menjawab. Tiba-tiba, ia terkenang Jonathan.
Sekitar pukul sembilan malam, matahari telah benar-benar hilang dari langit Manhattan. Bagus memandang lurus-lurus ke depan, Washington Arch berdiri kokoh dengan cahaya kuning lampu sorot berpendar-pendar pada lengkungannya. Btari berceloteh, “Dad, Dada, Dad, Da… “

No comments:

Post a Comment