Friday, December 20, 2013

Bujang Ketiga (Suara Karya, 14 Desember 2013)




Ada dua wajah baru di warung nasi padang Minang Jaya yang kutemui sore tadi.
“Hei, Jon. Kenapa kau selalu makan jam segini?” Uni Padang menyapa dengan pertanyaan penuh ingin tahu.
“Sengaja Uni, biar irit.”
“Sehari cuma makan sekali kau, Jon?” Ia segera mengajukan pertanyaan lain.
Aku meringis, kenyataan itu pahit, mengatakannya keras-keras itu jauh lebih pahit, “Iya Uni, sekalian makan siang dan malam. Biar irit.”
Ckckck… Joon… Jooon… kasihan benar. Sudah, besok-besok mampir saja kalau lapar, tidak perlu bayar. Tapi ingat, sekali-kali saja, ya. Bisa bangkrut aku.”
Tak ada yang tahu nama sebenarnya perempuan bertubuh sintal, pemilik warung nasi padang Minang Jaya itu, tetapi ia tersohor dengan panggilan Uni Padang.

Pertemuan pertama antara aku dan Uni Padang terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah kenyang dan hendak membayar, aku menyapanya yang tengah duduk, terpaku menatap layar televisi. Kulihat dari samping, bibirnya yang tersapu lipstik berwarna ungu setengah terbuka.
“Bu?” Sekali kupanggil, ia tidak menoleh.
“Bu? Ibu, mau bayar, Bu.“ Dua, tiga, empat kali kupanggil, tidak ada balasan.
Kutepuk bahunya pelan, ia terkejut. Gelang-gelang emas di kedua tangannya bergemerincing saat ia setengah melompat bangun dari kursi.
“Aduh, Joon… Jooon… Kau panggil aku? Aduh, Jon, kau panggil aku ‘ibu’ tadi? Pantas aku tak menengok. Aku kan masih muda, Jon. Panggil ‘mbak’ saja lah.”
Aku meringis, tak tahu pasti harus bereaksi seperti apa.
Melihat aku yang hanya bisa terdiam, ia melanjutkan, “Atau panggil ‘uni’. Lebih tepat kan, Jon? Semua orang panggil aku uni, mentang-mentang aku punya warung nasi padang.”
Aku masih meringis. Namaku kan, bukan Jon.
Di antara teman-teman sesama penghuni kos yang letaknya berseberangan dengan warung nasi padang Minang Jaya, ia dikenal dengan nama “Uni Nasi Padang”. Untuk mempermudah, lama kelamaan kami menyingkatnya menjadi “Uni Padang” saja. Sementara sejauh yang aku tahu, Uni Padang memanggil semua lelaki dengan “Jon”. Iya, “Jon” tanpa hembus huruf ‘h’ ketika mengucapkannya, bukan “John” seperti yang ada pada nama “John Lennon”, misalnya. Entah sejarah apa di masa lalu Uni Padang sehingga semua lelaki mendadak menjadi “Jon” di matanya.
“Hei, Jon! Melamun kau! Mau makan apa? Tapi hari ini belum gratis ya, Jon. Gratis sehari sekali. Jadi kalau kau makan dua kali sehari, kau cukup bayar sekali. Mengerti kan, kau Jon? Pasti kau mengerti, anak kuliahan seperti kau kan pintar-pintar, ya. Mau makan apa, Jon?”
“Eh, ah, nggak usah, Uni. Nggak usah digratisin. Udah biasa. Itung-itung latihan puasa.”
“Aduh, Jooonnn… kau ini pelangganku paling melarat tapi juga tampaknya yang paling baik.”
Uni Padang menyelesaikan kalimatnya dengan cara yang dramatis; menatapku dengan sayu lalu membelai pipiku. Aduh, aku meringis. Setengah karena belaian tanpa diundang, setengahnya lagi karena rasa lapar yang membuat ususku rasanya seperti diremas-remas. Saat itulah aku berjumpa dengan dua wajah baru di warung nasi padang Minang Jaya.
Usia mereka mungkin masih belasan, kutaksir paling-paling mereka baru lulus SMP. Seperti beberapa anak lelaki yang pernah dibawa Uni entah dari mana sebelumnya, mereka juga dikarunia Tuhan dengan wajah-wajah tampan dan tubuh atletis.
“Anak baru, Uni?” Ujung mataku melirik kedua anak lelaki tampan yang baru saja keluar dari bagian belakang warung, masing-masing membawa baskom berisi rendang dan gulai nangka.
“Iya, Jon. Bujang, ini langganan kita. Besok-besok kalau dia bilang tak bisa bayar, kasih gratis saja!”
Kepada anak-anak lelaki yang dibawa Uni untuk membantunya di warung, ia selalu memanggil mereka dengan julukan “Bujang”. Entah apa yang membedakan kami, pelanggan-pelanggannya dan pembantu-pembantunya.
“Yang lama ke mana, Uni?”
“Sudah lulus pendidikan lah, Jon. Sudah bisa bekerja di restoran sungguhan mereka sekarang. Memang kau saja yang bisa jadi sarjana.” Uni mengedipkan sebelah matanya. Kurasa aku meringis bertambah lebar. “Biasa Jon, aku kan mau membantu orang-orang kampungku. Jangan aku saja yang sukses di ibukota. Ya, kan?” lanjutnya.
Aku sendiri tak yakin di mana tepatnya kampung yang Uni Padang maksud karena tak kudengar logat Padang sedikit pun dari cara bicaranya.
“Hei, Jon! Suka sekali kau melamun. Mau makan apa?”
“Eh, oh, nasi kuah sama daun singkong aja, Uni”
“Lauknya?”
“Tempe. Dibungkus, ya Uni.“
Aish, Jon, Jon, makan cuma sama tempe. Kasihan benar.“
***
Di kamar kos yang sempit dan panas, sambil menghabiskan nasi padang yang konon akan bertambah besar porsinya jika dibungkus untuk dibawa pulang ketimbang makan di tempat, aku memikirkan kedua anak lelaki tadi.
“Eh, Budi. Makan, Bud?” Emir, penghuni kamar sebelah, menyapaku dari depan pintu yang terbuka. “Dari Uni Padang, Bud?”
“Iya, Mir. Makan, Mir.” Balasku berbasa-basi. Rupanya Emir serius menanggapi, ia masuk ke dalam dan mengambil tempeku, satu-satunya lauk yang kupunya.
Sambil merebahkan diri ke kasur tipisku, ia bertanya, “Jadi lo udah ketemu sama anak-anak baru peliharaan Uni, dong?”
Aku tak terkejut dengan pilihan kata Emir. Di antara topik-topik pergunjingan yang kami, sesama penghuni kos, sukai, salah satunya adalah kebiasaan Uni Padang membawa anak-anak lelaki berusia belasan tahun dari kampungnya.
“Lo bayangin, si Uni kan tinggalnya di situ juga, peliharaannya ya di situ juga. Kalau gue liat sih, tu warung kecil kan? Bagian belakang buat dapur, nah paling-paling lantai atas yang dijadiin rumah. Lo bayangin mereka tidur empet-empetan, hiii…
“Ah, mungkin lantai atasnya disekat-sekat jadi kamar, Mir.”
“Kecil gitu, Bud.”
“Mungkin pembantunya Uni tidur di warung kalau malem.”
“Warung? Warungnya kan penuh gitu. Ya repot lah, angkat-angkat bangku tiap malem.”
“Mungkin… “
“Ngapain sih lo belain si Uni melulu? Naaahhh… lo naksir ya sama Uni Padang. Cieeehhh… udah disogok apa lo? Udah dikasih gelang emasnya lo? Atau udah ngerasain belaiannya? Gue bilangin anak-anak ah!”
Emir bangkit dari kasur, lalu setelah melakukan manuver “cie cie cie” yang panjang, ia menghilang ke arah kamarnya sendiri. Aku tak tertarik menanggapi, tapi yang menarik, dari mana ia tahu perihal belai-dibelai itu? Jangan-jangan Emir juga pernah merasakannya.
***
Hari ini tak bisa lebih berat lagi. SMS dari Ayah yang menyatakan bahwa tabungannya telah habis dan ia tak mungkin menjual satu-satunya petak sawah milik keluarga kami, diikuti kesadaran bahwa aku harus mulai membiayai hidupku sendiri. Apa aku mampu?
Aku mengaduk-aduk makananku, rasanya tak ada selera. Menu yang sama setiap hari. Nasi kuah rendang, daun singkong rebus, dan tempe goreng, sekali-kali ditambah perkedel. Kupandangi bangunan dua lantai di seberang jalan, tak bisa berhenti memikirkan dari mana aku akan mendapatkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk membayar sewa kamar setiap bulan.
“Kenapa Jon? Tumben kau makan di sini? Biasanya dibungkus.”
“Nggak apa-apa, Uni.”
“Aduh, Jon. Kau seperti sama siapa saja. Jangan malu-malu, Jon. Pelangganku yang lain juga suka curhat sama aku.”
“Saya mau berhenti kuliah, Uni. Mau pulang kampung.”
Aish, kenapa memangnya, Jon? Kau baru setahun kuliah, kan?”
“Bapak saya bangkrut, Uni. Sawahnya tinggal sepetak, belum tentu panen empat bulan sekali.“
Seperti yang pernah kukatakan, kenyataan itu pahit, mengatakannya keras-keras itu jauh lebih pahit. Ulu hatiku seperti dihantam palu.
“Pantas kau selalu makan sehari sekali, ya Jon.”
Aku memang tak mengharapkan kata-kata mutiara nan bijaksana dari Uni Padang, tetapi paling tidak bukan sekedar pengingat bahwa jadwal makanku cuma satu kali dalam sehari. Kutunggu lama ia tak bersuara lagi. Kedua mata bercelak hitamnya memandangku lekat-lekat. Aku menjadi salah tingkah, serba salah.
Tiba-tiba Uni Padang berdiri, gemerincing gelang-gelang emasnya mengiringi, “Aku tahu, Jon! Aku bisa membantumu!” Ia berseru.
Wajahnya berseri-seri, senyumnya lebar sumringah. Ia kembali ke posisi duduknya semula di hadapanku. Rautnya berubah serius.
“Kau bekerja di sini saja, Jon. Bantu-bantu aku di warung sepulang kuliah. Upahnya nanti kita bicarakan. Sesuaikan saja dengan kebutuhanmu, untuk bayar kuliah sekalian. Aku tahu kau tak suka dikasih-kasih amal, anggap saja hutang. Tapi kau bisa bayar kapan-kapan, misalnya kalau kau nanti sudah kaya.”
Aku meringis.
“Nah, kau tak perlu indekos, tidur di sini saja.”
Aku meringis.
“Berapa umurmu Jon? Belum dua puluh, kan?”
Aku meringis.
“Masih pantas lah kau kupanggil ‘bujang’, ya Jon?”
Oh, Tuhan, jangan sampai ia membelai pipiku lagi.
“Jadilah bujangku yang ketiga, Jon.”
Uni Padang membelai pipiku. Kali ini berabad-abad lamanya kurasa. Aku meringis.
 ***

No comments:

Post a Comment