Monday, December 30, 2013

Di Bawah Hujan - #Kuis27Desember-nya Yetti A.KA


Yetti A.KA, penulis kesukaan saya, berulangtahun di bulan Desember. Ia mengadakan #Kuis27Desember sebagai cara merayakannya. Kuis menulis cerpen tentang hujan yang berhadiah voucher Rp.200.000 belanja buku di @Jualbukusastra. 

Kebetulan saya punya tulisan yang amat sangat pendek dengan suasana hujan sebagai settingnya. Tapi, tulisan itu sebenarnya curhat terselubung, curhat yang dipaksa puitis, haha. Jadi, sama sekali bukan cerpen. 
Lalu, saya ingat, punya curhat terselubung lainnya tentang hal yang sama. Bisa nih… 
Jadi dua tulisan terpisah tadi saya satukan, tambal sulam di sana dan di sini, lalu kirim!
Ya, pastinya saya ingin ditraktir buku oleh Uni Yetti. Saya, tentu saja, ingin menang. 
Pada hari pengumuman pemenang kuis, ternyata ada 50 naskah cerpen yang masuk, lalu disaring menjadi 12, kemudian 4, setelahnya 3, lalu 2, dan terakhir 1. Dari siang, timeline Twitter sudah ramai dengan mention-memention antarjuri (selain Uni Yetti, ada @AlamGuntur, @mbakanggun, @emilamir2, @sajakimut, yang menjadi juri). Timeline jadi menggemaskan, deh. 
Pemenangnya adalah @siputriwidi, selamat ya! 
Saya senang karena berhasil tersaring menjadi 12 besar, haha!
Naskah cerpen yang saya kirim berjudul “Di Bawah Hujan”. Bukan naskah cerpen itu yang akan saya post melainkan dua tulisan berbeda yang ada di dalamnya.

Sekali lagi, selamat ulang tahun Yetti A.KA. Semua doa baik untukmu.


/1/ Menunggu

Hujan di awal bulan Desember. Dan aku melihat kamu tertegun di bawah derasnya. Seperti melupakan sekitar, seperti berada di suatu tempat yang sama sekali berbeda, suatu tempat yang jauh, tempat yang bukan di sini. Jauh dan sendiri.
Aku tahu, kamu sedang menyembunyikan air mata.
Lewat jendela yang singkap tirainya, kusaksikan kamu berlama-lama di luar sana.
**
“Apa kabar Papa, Mama, Mbak Theresia, dan Mas Petrus, ya? Bagaimana masa Adven di rumahmu, ya?”
Sebab aku pun tak tahu jawabannya maka kubiarkan saja kamu bertanya-tanya.
“Kamu mau pulang?” tanyamu pelan.
Aku sejenak diam sebelum akhirnya dengan teguh menjawab, “Aku pulang ke mana? Di sinilah rumahku.”
Di hadapan kita, kelip lampu hias yang melilit pohon cemara plastik datang dan pergi. Kamu mendesah panjang, “Kadang, aku ingin pulang ke rumah Ayah dan Ibu, ingin bertemu Aisiyah.”
**
Dentang lonceng gereja itu terdengar, seperti setiap waktu-waktu tertentu, seperti yang telah kita tahu. Ditingkahi guyur hujan yang menabrak tanah, sayup suaranya sampai juga ke rumah kecil kita. Kamu menutupi wajahmu, bahumu keras terguncang.
Di bawah hujan, aku tahu kamu sedang menyembunyikan air mata.
Seperti tahun-tahun yang lewat. Setiap Desember, seperti ini. Selalu, aku menunggu kamu menyelesaikan tangisan di bawah hujan yang deras.
***


/2/ Untuk Seseorang yang Bersamanya Aku Sedang Mencari Jalan Keluar dari Labirin ini.

Lima belas tahun yang lalu, setelah percakapan lama tanpa jeda, setelah semua kira-kira, setelah kendur marah berganti sedu, setelah banyak sangsi, kamu memutuskan, “Baik, kita jalani saja dulu, ya? Ingat, hubungan ini tidak akan bisa kita bawa ke mana-mana, yang jelas tidak akan bisa kita bawa ke rumah masing-masing.”
Lalu, aku bisa apa? Begini saja sudah bahagia. “Ya, terima kasih,” jawabku.
Aku menangkap matamu yang berkabut, dan aku sentuh pelan punggung tanganmu, saat itu. Kita tak tahu perangkap apa yang sedang kita tebar sendiri, saat itu. Kita tak menyadari labirin panjang yang akan kita masuki, saat itu.
**
Dua tiket pesawat dengan tujuan Canberra, Australia kuberikan padamu. Kamu bertanya-tanya.
“Aku akan melamarmu di ketinggian 10.000 kaki, dan menikahimu di Bandara Internasional Canberra. Bukan pernikahan seperti yang lama kamu imipikan, atau aku inginkan, tapi dengan begini…”
“Dengan begini kita bisa kembali, lalu menjadi orang-orang asing di rumah sendiri?” Kamu memotong kalimat yang semalaman kuhapalkan dengan tajam. Aku menunduk. Jalan mana lagi yang belum kita coba tempuh?
**
“Aku meyakini apapun yang kamu yakini,” ucapku sungguh-sungguh padamu suatu ketika.
“Bagaimana jika aku meyakini kita tidak akan pernah bisa bersatu? Kita mungkin bersama tapi tidak mungkin bersatu,” balasmu mempermainkan kesungguhanku. Kamu menepuk pelan kedua pipiku. “Seseorang pernah berkata; ‘Bagaimana aku bisa memercayaimu sedang Tuhan-mu sendiri pun kaukhianati?’”
Dia mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri. Aku mencintaimu-Mu, Tuhan, Kau tak mungkin kukhianati.
**
Aku mencelupkan jari telunjukku ke permukaan air suci yang tenang di dalam cawan, membentuk dua garis bersilangan dari telunjuk yang sama di depan dadaku. Aku merindukan ini, membutuhkan ini, meyakini ini sepenuh hati, bahkan jika hatiku sebenarnya sudah setengah tercuri. Namun, sementara aku berlutut di hadapan-Mu, Tuhan, dengan jemari kedua tanganku bertautan, aku memikirkan kata-katanya; “Nabi Muhammad pernah berkata; ‘Even as the fingers of the two hands are equal, so are human beings equal to one another.’ Aku, kamu, dan tiap-tiap manusia adalah setara.”
**
“Ayo kita pergi saja!” katamu tanpa aba-aba. Kamu memunggungiku, mencari rumah kosong kerang di antara butiran pasir kasar. Di sebuah pantai yang jauh, kita sedang bersembunyi.
“Kemana?” tanyaku dungu, “Kamu mau pulang?”
           Kamu menggeleng cepat, “Kamu tahu ujung dunia? Iya, dunia ini berujung! Kamu lihat itu,“ tunjukmu lurus menantang laut luas di hadapan kita, “Lihat itu, garis horizontal itu, ya, yang memisahkan laut dan langit. Di situ kapal-kapal akan berjatuhan ke bawah. Kita pergi ke sana. Ayo!”
“Dunia ini bundar. Kita akan selalu kembali ke titik pertama kita berangkat pergi. Kamu tahu, kan?”
Kamu tak juga berbalik, “Cukup. Aku sudah selesai.”
Aku tahu, kabut telah turun di matamu, dan rasanya ingin sekali kusentuh punggung tanganmu.
**
Seperti yang pernah kamu bilang dulu, kita tak pernah bisa membawa pulang hubungan ini ke rumah. Aku dan kamu mengerti benar, kita bisa saja pergi ke ujung dunia, tempat di mana kapal-kapal di lautan itu akan berjatuhan ke bawah entah berakhir di mana, pada akhirnya rumahlah tujuan kita.
Aku ingin mengetuk pintu rumahmu baik-baik seperti kamu ingin mempersilakan aku masuk ke dalam rumahmu baik-baik. Tapi tak bisa. Kita menghabiskan banyak waktu selama lima belas tahun bersama mencari jalan keluar. Sewaktu-waktu kamu bilang; “Cukup. Aku sudah selesai.” Setiap waktu-waktu itu datang, aku berdiri menghalangi kamu pergi atau mengejar sampai jauh jika perlu. Kamu selalu kembali. 
**
 “Apa yang akan kita lakukan pada hari seperti ini jika kamu dan aku tidak pernah bersama?” tanyamu tanpa kuduga. Binar matahari dari sela-sela rimbun daun pohon jatuh seberkas di wajahmu. Aku berbaring di sebelah, di atas rumput dengan bau yang kita sukai itu.
“Aku… “
“Mungkin kamu sedang berdiri gugup di depan altar sementara pengantin perempuanmu berjalan pelan ke arahmu. Oh, ayahnya akan dengan bangga menyerahkannya padamu.”
“Pengantin perempuan itu kamu, kan? Ayahnya adalah ayahmu, kan?”
“Kalau pengantin perempuan itu aku,” kamu tersenyum dan rona merah jambu mampir di pipimu, “Aku akan tertunduk menahan tangis di bawah kerudung putih sementara ayahku mengucapkan ijab, menunggu kabul darimu.“
Setelah kira-kira yang sebenarnya tak aku harapkan itu, ada jeda lama. Lalu tanpa marah atau sendu apalagi sangsi, kamu memutuskan, “Baik, aku bisa menjalani ini lima belas tahun lagi, mungkin lebih, mungkin selamanya! Labirin ini pasti ada jalan keluarnya”
Kamu memejamkan mata, menikmati kehangatan pada wajahmu. Aku menyentuh pelan punggung tanganmu, kamu tersenyum.
***

No comments:

Post a Comment