Tuesday, December 31, 2013

Selamat Pagi, Moga (Media Indonesia, 29 Desember 2013)





Ketika saya bangun dari tidur pagi ini, seperti kemarin dan pagi-pagi sebelumnya, saya teringat bahwa ada lukisan yang belum sempat saya selesaikan. Maka saya bangkit, tanpa basa basi kopi, langsung menuju studio lukis.
Telah saya kelilingi rumah ini dua kali, telah terbuka kunci-kunci, dan pintu demi pintu pun telah saya singkapkan, tapi di mana konon ruangan yang saya cari? Terburu-buru saya kembali ke kamar. Di atas tempat tidur, istri saya pulas mendengkur.

Saya guncang-guncang tubuhnya berharap kesadarannya segera muncul. Akhirnya ia mengangkat kepala, matanya masih terpicing, tangannya menutupi wajah, menghalangi cahaya lampu kamar yang saya biarkan terang.
“Ada apa?” tanyanya dalam suara serak.
“Mana lukisan saya? Kamu menyimpan lukisan-lukisan saya? Saya tidak bisa menemukan studio lukis. Di mana studio lukis?”
Istri saya telah menegakkan punggung seluruhnya. Ia tampak lebih tua dari malam sebelum kami berangkat tidur. Ia tersenyum, manis sekali. Tetapi ia tetap terlihat lebih tua dari yang seharusnya, dari ingatan terakhir saya tentangnya. Bagaimana bisa? Apakah ia menua sedikit lebih cepat dalam waktu semalam saja?
Ia tersenyum, lalu membelai-belai pipi saya seperti manusia membelai anak kucing peliharaan. “Iya, saya yang membereskan semuanya atas permintaanmu kemarin. Kamu lupa, ya?”
Saya mengangguk-angguk dungu. Iya, saya lupa. “Saya ingin melukis.”
Senyum di wajah istri saya tak hilang-hilang. “Iya,” begitu saja katanya tetapi ia tak juga memberi tahu di mana letak studio lukis saya, ke mana disingkirkannya lukisan-lukisan saya.
Jadilah saya termangu-mangu, memikirkan lukisan yang belum sempat saya selesaikan kemarin.
***
Saya bermimpi buruk. Dalam mimpi saya, tak ada ikan yang masuk ke dalam jala, tak ada juga yang rela hinggap di mata kail, berhari-hari saya pulang dari melaut tanpa membawa apa-apa. Buruk. Mimpi buruk bagi seorang nelayan seperti saya. Oleh karenanya, saya bangun dengan keringat dingin membasahi punggung dan dada.
Matahari sudah tinggi. Istri saya tak terlihat di sisi sebelah kiri pembaringan, pastilah ia telah bangun sedari tadi. Saya pun beringsut, lalu membuka jendela kamar, seperti kebiasaan saya sehari-hari. Saya terkejut! Mana lautnya? Mana pantainya? Mengapa tanah ditumbuhi rumput hijau? Mengapa tembok berdinding bata merah?
Saya pasti masih berada dalam mimpi buruk.
Istri saya masuk ke dalam kamar, wangi kopi mendahuluinya.
“Tolong cubit saya,” mohon saya dengan tergesa-gesa padanya sebelum sempat ia suguhkan kopi dalam cangkir kepada saya. “Saya sedang bermimpi. Mana laut di seberang rumah kita? Mana pasir putih dan nyiur melambai? Bagaimana saya bisa melaut tanpa laut? Bagaimana mencari ikan di dalam rumput?”
“Tenang,” ucap istri saya. Ia meletakkan kopi di atas meja kemudian kembali membelai-belai pipi saya. Ia tersenyum dan saat itulah saya memperhatikan garis-garis halus membayang di sekitar matanya yang berujung runcing, juga pada tarikan kedua sudut bibirnya. Garis-garis itu lebih banyak dari yang bisa saya ingat.
“Kamu lupa, ya? Kita sudah pindah rumah, sekarang kita tinggal di kaki bukit. Sekarang, pekerjaanmu berkebun.”
Saya tergugu. Saya sama sekali buta berkebun. Saya tak kenal tanah, hanya tahu laut. Mimpi buruk saya tak lebih buruk dari kenyataan buruk saya. Apakah sebaiknya saya kembali tidur saja?
***
Saya tak sabar untuk segera berangkat ke kantor pagi ini. Ada strategi pemasaran jitu yang telah saya susun semalam suntuk di dalam kepala. Untung saja pagi ini saya tak melupakannya. Saya ini seorang yang pelupa, begitu istri saya selalu berkata. Sebagai kepala divisi pemasaran perusahaan kargo dan logistik, saya tak seharusnya mudah lupa.
Saya mandi lekas-lekas, lantas berdiri di depan cermin hendak mencukur cambang dan menyisir rambut. Saya bersiul. Sangat bersemangat.
Tunggu. Tunggu dulu. Sejak kapan rambut saya memutih sempurna? Mengapa punggung saya melengkung bungkuk? Siapa orang tua yang membalas tatap keheranan saya? Pantulan di cermin, apakah itu saya?
Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkejaran dalam benak ketika istri saya masuk tanpa permisi ke dalam kamar mandi. Ia juga tak kalah tuanya dengan saya.
“Selamat pagi, kopi untukmu sudah kusiapkan di meja.”
Ia membelai pipi saya. Belaian yang sama. Ia memang istri saya meski tampak begitu tua. Saya memanglah saya, meski saya pun tak kalah tua.
Saya memandangnya tanpa gairah.
“Mari, sayang,” istri saya menggandeng tangan saya. Saya masih berjubah mandi saja tetapi sepertinya ia tak ambil pusing.
Kami duduk di ruang tengah. Di sebuah sofa dengan meja kopi rendah. Sebuah televisi di hadapan kami.
“Sudah siap?” ia bertanya. Saya mengangguk, masih tanpa gairah.
            Istri saya menekan tombol kendali jarak jauh yang ia pegang-arahkan dengan tangannya. Seketika televisi menyala.
            Selamat pagi, Moga. Saya dengar suara istri saya. Saya istrimu, yang mencintaimu, selalu, setiap hari, tak pernah berhenti. Lalu wajahnya tampak di layar, wajah yang jauh lebih muda dari wajahnya yang sekarang, wajah yang persis dengan wajahnya dalam ingatan saya.
Seterusnya, saya hanya bisa terperenyak.
Istri saya, yang duduk menemani saya, tersenyum. Manis. Manis sekali.
***
Rasanya, malas sekali bergerak. Biar, biarlah saya tidur agak lebih lama pagi ini. Kebetulan masih ada dua jam sebelum saya harus berada di kelas, mengajar Pengantar Ilmu Hukum kepada mahasiswa semester pertama yang masih senang-senangnya mencatatat tiap kata-kata yang keluar dari mulut saya. Ah, lihat saja nanti di tahun ketiga dan selanjutnya, apa mereka masih serajin sekarang?
“Ayah,” sebuah suara berat menyapa. Ia sosok yang benar-benar mirip dengan saya, dan ia memanggil saya dengan sebutan ‘ayah’. Lelaki muda bersuara berat yang benar mirip dengan saya itu tersenyum. Ia duduk di pinggir tempat tidur. Saya masih bergelung dalam selimut.
“Bagaimana kabar Ayah pagi ini?”
“Biasa saja. Nanti pukul sepuluh saya harus mengajar. Itu saja.”
Lelaki muda itu tersenyum. Senyumnya semanis senyum istri saya.
“Ayah, selama dua puluh tahun terakhir, setiap pagi Ibu menyeduh kopi untuk Ayah lalu menemani Ayah menonton sebuah video di ruang tengah. Tetapi semenjak hari ini, tugas itu telah Ibu limpahkan kepada saya.”
Saya melirik ke meja. Ya, benar ada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tipis di sana.
“Maukah Ayah menonton video di ruang tengah bersama saya?” Ia mengulurkan tangan. Saya menyambutnya.
Saya tak mengenali tangan yang terjulur dari balik selimut, dari pangkal lengan saya sendiri itu. Tangan itu keriput. Tangan itu tua. Tetapi kalau bukan tangan saya, tangan siapa lagi yang telah kurang ajar menggayuti tubuh milik saya?
Lelaki muda itu membimbing saya hingga kami sampai di ruang tengah, hingga kami duduk di atas sofa, hingga layar televisi menyala.
Selamat pagi, Moga. Saya istrimu, yang mencintaimu, selalu, setiap hari, tak pernah berhenti. Hari ini tanggal 6 Desember 1993, saya memutuskan untuk membuat rekaman ini. Cuaca di luar cerah, kamu sedang bermain di taman belakang dengan anak kita. Moga sayang, pada tanggal 6 Desember 1990, kamu mengalami kecelakaan mobil. Kamu selamat. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk itu. Selain keselamatan, Tuhan juga memberi kamu kelebihan. Setiap hari setelah peristiwa itu, kamu akan bangun sebagai orang yang berbeda. Kamu tak bisa menerima kenangan baru, dan ingatanmu tentang kehidupanmu sebelum tanggal 6 Desember 1990 pun perlahan-lahan menghilang. Moga, apa kabarmu pagi ini? Kamu pernah bangun sebagai seorang musikus, seorang pemanjat tebing, seorang arsitek, seorang koki, dan masih banyak lagi. Saya tak heran dari mana semua pengetahuan itu kamu peroleh, sebab kamu senang sekali membaca, sebab kamu senang sekali mengarang, sebab sesungguhnya kamu adalah seorang penulis.
Tubuh saya tak bisa bergerak sepanjang menyaksikan rekaman. Mata saya basah kuyup setelahnya. Kepada lelaki muda yang ternyata benar adalah anak saya sendiri, saya bertanya; “Di mana ibumu?”
Anak saya tersenyum. Ia membelai pipi saya lama sekali.
***

Cerita ini terinspirasi dari film Furasshubakku Memorizu 3D karya Tetsuaki Matsue

Terima kasih yang istimewa untuk Mas Damhuri Muhammad


No comments:

Post a Comment