Tuesday, December 3, 2013

Wajah Cinta Pertama (Koran Tempo, 24 November 2013)





Cinta pertama begitu samar-samar baginya.

Dia duduk dengan buku sketsa bersampul warna hitam di pangkuan. Buku itu terbuka menunjukkan kertas kosong. Tangan kanannya memegang sebatang pensil yang cermat diraut hingga tebal goresan grafit akan sesuai kehendaknya: tidak terlalu tebal dan tidak terlalu halus. Teh panas di cangkir dengan tangkai berukir sulur daun mengepulkan asap. Sementara ruangan itu mewangi bunga lavender.

Semua harus sesempurna keinginannya, sebab ia sedang membayangkan wajah cinta pertama.

Sepertinya wajah itu berbentuk hati dengan garis rahang lembut. Apakah rambutnya sebahu? Kalau tidak salah, matanya selalu tampak redup dinaungi alis melengkung yang seperti busur panah. Di salah satu pipinya ada cekungan kecil yang tampak setiap cinta pertama itu tersenyum.

Ya, kalau ia tak salah mengingat, seperti itulah wajah cinta pertamanya.


Pensil di tangannya mulai bekerja. Tetapi berkali-kali ia mengutuk: tak ada garis yang benar. Terlalu melebar, terlalu pendek, terlalu keras, terlalu dan terlalu. Memang kenangan akan wajah cinta pertama begitu jauh ia simpan di laci paling berdebu dalam ingatan yang jarang ditengoknya lagi. Mungkin ia perlu waktu lebih lama untuk mencari-cari. Untuk membuka lapis kenangan-kenangan satu demi satu. 

Angin kering bulan Juni menepuk-nepuk pipinya, membawanya melamun lama.

Sebuah dapur. Wangi kue wafel dan kopi. Aku bersembunyi di bawah meja makan. Kaki-kaki telanjang Ibu lalu lalang. Suaranya lirih menyenandungkan sebuah lagu. Mengapa ia tidak juga menengok ke bawah meja untuk mencariku?

"Di mana anakku yang tampan, ya?”
Ah, Ibu menggodaku. Tentu ia tahu tempat persembunyianku. Aku menutup mulut, menahan geli di perut sebelum meledak menjadi gelak.
“Aduh, padahal ada kue wafel kesukaannya. Tapi di mana dia, ya? Hmm…”

Kulihat sepasang kaki Ibu yang cantik. Betisnya yang kecil terlihat kencang dan kulitnya berkilat-kilat licin. Ia berpura-pura kebingungan, kaki-kakinya lincah berpindah-pindah seperti sedang mencari sesuatu, mencariku. Tentu aku tahu, ia sedang bermain peran. Aku mengikik dari bawah meja. Ini permainan kami berdua.

Sepasang kaki yang lain datang. Kaki-kaki yang jelek. Pemiliknya menyeret-nyeret langkah dengan kasar, terhuyung-huyung dan sembarangan. Ibu diam, ia tak bergerak lagi, ia berhenti berpura-pura mencariku. Aku diam, hilang keinginan untuk tertawa. Aku menahan nafas sampai kurasa telapak tangan dingin dan agak biru. Tak kulihat wajah Ibu.

“Mas, silakan sarapannya.” Suara patuh Ibu mengingatkan aku pada pelayan restoran. Begitu dibuat-buat dan berjarak. Aku tidak suka. Ke mana hilangnya suara hangat menggoda tadi?

Kata-kata Ibu dijawab gumaman yang tak jelas dan turun naik. Aku menutup telinga. Aku tidak suka. Wangi wafel dan kopi yang enak di dapur tercampur bau laki-laki yang membawa sepasang kaki jelek itu. Aku mencium tembakau dan bau-bau aneh lainnya.

“Kopinya dingin. Heh! Ini kopinya dingin.”

“Maaf, Mas. Saya ambilkan yang panas di teko.”

“Lain kali bikin kopi yang bener!”

Prak! Cangkir kopi berguling dari atas meja lalu pecah di atas lantai, keping-kepingnya berserakan.

Aku tak mendengar suara Ibu. Sama sekali sepi. Hanya dengung berisik mesin lemari es dan suara gerak kipas gantung di langit-langit memenuhi sudut-sudut dapur.
Dari bawah meja, aku mengamati tumpahan kopi turun dari tepian, mula-mula deras dan tiba-tiba lalu pelan hingga menyisakan rintik-rintik hitam seperti rinai hujan pada sore yang gelap.

Tangannya turun naik dengan cepat. Ia menekan pensilnya terlalu keras, dan krek bunyi grafit patah terdengar. Diraihnya peraut. Matanya nanar sementara tangannya memutar-mutar badan pensil yang ramping. Pisau peraut bekerja hingga ujung pensil jadi setajam mata panah.

Aku selalu berpura-pura sedang tersesat di kedalaman hutan pinus setiap kali kumasuki kamar Ibu. Selalu tercium aroma kulit pohon bercampur rumput basah di sini. Pelapis dinding dari kertas bermotif bunga-bunga mawar sudah mulai berubah warna, menjadi kusam karena usia dan cuaca. Sebuah ranjang dengan kelambu yang tak pernah diturunkan berada tepat di tengah-tengah. Di sebelahnya, ada meja rias dengan cermin berbentuk oval.

Di sanalah, di kursi meja rias itu, aku biasa menemukan Ibu. Kadang ia sedang menyisir pelan rambut gelapnya yang sebahu. Kadang kusaksikan ia menyapu hati-hati wajahnya dengan perona. Kadang ia hanya mematut-matut diri, merapikan kerah blus yang terlipat tanpa ia ketahui, menghapus noda lipstik yang melenceng dari bibir, atau melatih sesungging senyum sampai ia tertipu sendiri, sampai ia merasa bahwa dirinya benar-benar bahagia. Semua itu dilakukannya sambil tak henti-henti bersenandung.
Tetapi aku tahu, rambut yang diperlakukannya bak mahkota itu habis kena jambak hingga rontok berhelai-helai. Perona yang dipakainya sekadar menutupi bekas lebam tamparan. Kerah blus bukan terlipat tak rapi tanpa alasan, seseorang menariknya sampai berantakan. Warna lipstik tak keluar dari garis bibir dengan sendiri: sebuah tangan telah menempelengnya kasar. Aku tahu, ia tak bisa berhenti bersenandung karena jeda sebentar apapun akan mengubah nyanyian menjadi tangisan, dan jika itu terjadi bagaimana mungkin ia bisa berlatih tersenyum.

Aku tersesat di lebat hutan pinus ciptaan Ibu. Ada kebun bunga-bunga mawar dan seorang bidadari di sini. Bersandar pada punggung bidadari itu, aroma kulit pohon semakin jelas tercium, menguar dari tubuhnya. Ujung jari tangan kananku menggambar sepasang sayap pada punggungnya. Semoga suatu hari nanti sayap-sayap itu betul-betul tampak, betul-betul nyata, dan kepaknya akan membawa Ibu pergi dari hutan persembunyiannya.

Ibu menutup mata, lalu mulai berhitung, “Satu… dua… tiga…” Itulah tanda permainan dimulai. Aku ingin memekik kegirangan. Ada pompa dalam aliran darahku yang membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat. Kutarik tubuhku ke bawah ranjang Ibu, lebih dalam, jauh lebih dalam lagi.

“Sepertinya aku melihat anakku yang tampan di sini, tapi di mana dia sekarang, ya?” 

Sudah berulang kali kudengar kata-kata itu, tetapi masih juga seperti mantra sakti pembawa kegembiraan setiap kali itu berhasil melepaskan tawa yang kutahan-tahan.
Aku melihat kaki-kaki telanjang Ibu. Sepasang kaki itu lalu berputar-putar mengelilingi seluruh ruangan kamar. Mataku tak berhenti mengikutinya. Ujung-ujung gaun Ibu yang menyentuh betisnya melayang ringan setiap ia memutar tubuh.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Hempasan daun pintu pada dinding melenyapkan hutan pinus, memaksa sang bidadari untuk melarikan diri. Sepasang kaki Ibu diam dengan patuh di tepi ranjang. Langkah berat yang memaku lantai keramik dari sepasang kaki bersepatu kotor itu meninggalkan jejak-jejak lumpur. Kaki-kaki itu mendekat ke arah Ibu berdiri. Dengan sekali dorongan kasar, Ibu terjatuh ke ranjang. Kaki-kaki Ibu menjuntai-juntai.

“Mas, ada anak kita, Mas.”

“Hah! Terus kenapa?”

“Mas, sebentar Mas, biar dia pergi dulu, Mas.”

“Ah! Diam!”

Aku menutup telinga rapat-rapat, tapi tak ayal suara-suara dari atas ranjang mencuri jalan sampai ke pendengaran. Suara pukulan, suara teriakan tertahan. Aku benci, benci!

“Heh! Mau ke mana kamu? Heh!”

Kusaksikan sepasang kaki kesukaanku itu meronta. Setelah berhasil membebaskan diri, ia berlari, menjauh.

Ibu tak juga menengok ke bawah ranjang.

Ia pergi.

Aku ada di bawah ranjang, Ibu.

Hujan turun tiba-tiba. Dia terengah-engah. Seperti kehabisan nafas. Titik-titik keringat muncul di dahi dan di atas bibirnya. Sepasang kaki dengan betis kecil dan kencang tergambar di atas kertas buku sketsa di pangkuannya. Seperti kemarin dan kemarin lusa, seperti hari yang sudah-sudah, ia gagal. Kertas-kertas sudah penuh coretan sepasang kaki, tapi wajah cinta pertamanya tak juga mampir pada ingatan. Hari ini, ia gagal lagi.
Kelak kau akan mendengar sebuah kisah tentang seseorang yang melukis wajah cinta pertamanya. Begitu indah wajah itu sehingga kau akan tersedak oleh rasa haru hanya karena menatapnya. Ya, kelak, bukan sekarang, bukan hari ini. Hari ini, ia gagal lagi.

No comments:

Post a Comment