Tuesday, April 1, 2014

Kunjungan (Tribun Jabar, 23 Maret 2014)



Tidak ada yang menyukai pasangan Artawan; Bapak dan Ibu Artawan. Sejak pasangan suami dan istri itu menempati rumah besar yang berada tepat di tikungan jalan, tak pernah sekali pun mereka mencoba beramah tamah dengan kami, penghuni yang sudah lebih dulu mendiami kompleks perumahan yang tenang ini. Tidakkah itu tak patut sama sekali?
Mereka tak memiliki anak, pasangan Artawan itu. Sejauh yang kami ketahui, hanya ada Bapak dan Ibu Artawan. Meski rasanya tak pantas, membenci sepasang suami istri sebatang kara yang sudah memasuki masa pensiun mereka, kami tak kuasa. Salahkan saja sikap keduanya, yang begitu dingin, yang begitu menjaga jarak, seolah-olah tak ingin punya urusan apa-apa.  
Sekali dua kami bertemu muka dengan mereka. Selalu secara tak sengaja. Hanya senyum-senyum basa basi tanpa saling menyapa.
Jadi, ketika mereka tak terlihat selama berhari-hari, sebenarnya tak ada yang merasa kehilangan. Dari kepala rukun tetangga, kami mendapat kabar bahwa Bapak dan Ibu Artawan sedang pergi berlibur tanpa diketahui secara pasti kapan mereka akan kembali.
Sekali lagi, kami tak merasa kehilangan.
Sampai suatu hari, turunlah sepasang orang tua dari sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumah besar di tikungan jalan. Bukan Bapak dan Ibu Artawan, tetapi sepasang orang tua yang lain.
Aku yang mula-mula bertemu mereka.