Tuesday, April 1, 2014

Kunjungan (Tribun Jabar, 23 Maret 2014)



Tidak ada yang menyukai pasangan Artawan; Bapak dan Ibu Artawan. Sejak pasangan suami dan istri itu menempati rumah besar yang berada tepat di tikungan jalan, tak pernah sekali pun mereka mencoba beramah tamah dengan kami, penghuni yang sudah lebih dulu mendiami kompleks perumahan yang tenang ini. Tidakkah itu tak patut sama sekali?
Mereka tak memiliki anak, pasangan Artawan itu. Sejauh yang kami ketahui, hanya ada Bapak dan Ibu Artawan. Meski rasanya tak pantas, membenci sepasang suami istri sebatang kara yang sudah memasuki masa pensiun mereka, kami tak kuasa. Salahkan saja sikap keduanya, yang begitu dingin, yang begitu menjaga jarak, seolah-olah tak ingin punya urusan apa-apa.  
Sekali dua kami bertemu muka dengan mereka. Selalu secara tak sengaja. Hanya senyum-senyum basa basi tanpa saling menyapa.
Jadi, ketika mereka tak terlihat selama berhari-hari, sebenarnya tak ada yang merasa kehilangan. Dari kepala rukun tetangga, kami mendapat kabar bahwa Bapak dan Ibu Artawan sedang pergi berlibur tanpa diketahui secara pasti kapan mereka akan kembali.
Sekali lagi, kami tak merasa kehilangan.
Sampai suatu hari, turunlah sepasang orang tua dari sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumah besar di tikungan jalan. Bukan Bapak dan Ibu Artawan, tetapi sepasang orang tua yang lain.
Aku yang mula-mula bertemu mereka.

Aku sedang memangkas daun-daun English ivy yang mulai menjuntai tak keruan dari pagar bata merah setinggi pinggang yang mengelilingi rumahku, ketika pasangan itu tiba bersama seekor anjing berjenis coonhound. Diam-diam aku mengamati dari jauh bagaimana si lelaki tampak kesulitan membuka pintu sementara si perempuan berdiri tenang memegang tali kekang anjing mereka.
“Ah, halo!”  Sapa si lelaki dengan ramah. Si perempuan melempar senyum lebar. Ragu-ragu, aku membalas senyum mereka. Selama bertetangga dengan pasangan Artawan, aku telah belajar satu hal: jangan pedulikan apa pun yang tengah terjadi di rumah sebelah. Tetapi, kali ini berbeda.
Kukira-kira, pasangan baru itu sebaya dengan Bapak dan Ibu Artawan, kurang lebih berusia tujuh puluh tahunan. Uban keperakan yang menghapus warna hitam rambut, keriput pada kulit menandakan tahun-tahun panjang yang telah terlewati, cara berjalan yang lamban dan hati-hati, serta baju-baju rajutan yang mereka pakai meski cuaca sore itu sedang cerah-cerahnya. Dalam hal-hal tersebut, mereka mirip pasangan Artawan. Dalam hal-hal lain seperti menyapa lalu tersenyum ramah kepada tetangga, mereka sama sekali berbeda.
“Sudah bisa dibuka!” Teriak si lelaki kepadaku. Mereka melambaikan tangan sebelum menghilang ke dalam rumah dengan koper-koper besar beroda yang mereka bawa. Coonhound ramping berkulit cokelat muda dengan bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya menggoyangkan ekor pelan seraya mengikuti langkah-langkah kaki tuannya. Aneh, anjing itu tak mengendus sekelilingnya, tak membuang kencing di tiang-tiang penyangga atap teras untuk memberi tahu batas teritori, tak menggongong barang sekali pun, hanya menggoyangkan ekor lalu berjalan dengan perlahan.
            ***
“Halo! Kami belum memperkenalkan diri. Saya dan istri diminta Danu dan Ria untuk menjaga rumah selagi mereka pergi. Saya Jo, dan ini istri saya, Pipi. Oh, ini Maddie, anjing kami.”
“Teresa.”
Aku meletakkan gunting rumput lalu melepas sarung tangan karet untuk menyambut uluran tangan dari wajah-wajah sumringah di hadapanku. Anjing yang berdiri di sela-sela mereka memandangku dengan tatapan meminta kasih sayang, kuelus sekilas punggungnya yang dipenuhi bulu-bulu halus.
“Anjing yang lucu.” Aku suka Maddie. “Oh, ya. Bapak dan Ibu teman keluarga Artawan?”
Aih, jangan panggil Bapak dan Ibu. Panggil suami saya Jo, dan saya Pipi.”
“Oh, baik. Jo dan Pipi.” Tak nyaman rasanya memanggil orang yang kira-kira empat puluh tahun lebih tua dengan nama-nama depan mereka saja. Aku kemudian bertanya, “Danu dan Ria? Maksudnya Bapak dan Ibu Artawan?”
“Danu dan Ria yang mana lagi? Itu rumah mereka, kan?” Timpal Jo ringan. Selama ini, aku tak pernah tahu nama depan pasangan Artawan.
“Kami sahabat Danu dan Ria, kenal di panti jompo.”
“Panti jompo?”
“Iya. Kami pernah tinggal di panti jompo yang sama sebelum anak Danu dan Ria membeli rumah ini, dan meminta mereka untuk menempatinya.”
“Anak? Setahu saya, Bapak dan Ibu Artawan tidak punya anak.”
Raut wajah Jo dan Pipi sedikit berubah, seolah-olah ingin mengatakan “Kau sedang bercanda, kan? Apa kau tak mengenal tetangga sebelah rumahmu sendiri?” padaku. Tetapi memang benar, aku tak tahu apa-apa.
Jo tertawa, “Ah! Danu dan Ria memang selalu seperti itu, dari dulu.” Pipi menimpali tawa suaminya. Meski tak tahu apa yang begitu lucu dari situasi yang sedang kami alami, mau tak mau aku tertular tawa sepasang suami istri itu. Mereka memancarkan aura keakraban yang ganjil, dan aku tersedot masuk ke dalamnya tanpa curiga.
“Ngomong-ngomong, saya suka berkebun. Mau saya bantu?”
“Ah, jangan repot-repot.”
“Suami saya bukan cuma suka berkebun, dia ahli berkebun. Dia pernah belajar ornamental gardening di Amerika, di University of Rochester,” ucap Pipi sungguh-sungguh, “Sayang, ilmunya tidak terpakai. Maksud saya, tidak secara profesional. Suami saya pensiunan pegawai negeri sipil. Pekerjaannya tidak melibatkan taman atau kebun sama sekali. Padahal, sudah jauh-jauh merantau demi ilmu yang dianggap akan berguna. Padahal, berkebun adalah hasrat terbesarnya.” Kedua mata Pipi menerawang jauh. Bagaimana aku tidak jatuh kasihan mendengar ceritanya?
“Iya, benar juga. Saya sedang butuh bantuan menata taman. Silakan, Pak.“
“Panggil ‘Jo’ saja,” potong Jo cepat. Senyum seperti tak pernah pupus dari wajahnya.
“Iya, Jo. Tolong bantu saya, kalau tidak keberatan.”
English ivy, ya? Kalau mau menambah sedikit warna, coba tanam clementis. Bunganya cantik berwarna keunguan,” celoteh Jo seraya memungut gunting rumput yang tergeletak di antara kami.
Aku dan Pipi duduk di teras rumahku, mengamati Jo bekerja sementara Maddie berguling-guling malas di atas rumput.
“Pipi, daripada cuma duduk-duduk, kenapa kamu tidak masak saja? Saya dan Maddie sudah lapar. Masak yang banyak, ya. Teresa harus mencicipi masakan dari mantan juru masak terkenal. Satu-satunya juru masak Indonesia yang profilnya pernah dimuat dua halaman penuh di majalah Food Network, itulah istriku Pipi.” Jo berkata panjang tanpa mengalihkan perhatian dari pot-pot besar berisi suplir yang tumbuh sembarangan seperti tanaman liar.
“Kulkas di rumah Danu dan Ria kosong melompong,” desah Pipi. Ia menoleh ke arahku, “Di mana pasar terdekat? Atau department store?” Tanyanya.
“Oh, agak jauh.”
“Sayang sekali, padahal kami sudah lapar.” Ia mengangkat bahunya ringan, “Ya sudah, tidak apa-apa. Saya pergi sendiri saja. Saya pesan taksi dulu, ya.”
Ia mulai bangkit. Begitu pelan. Punggungnya melengkung seperti sedang menggendong beban terlalu berat. Duh, kasihan.
Lalu, ide itu tercetus di pikiranku.
Berikutnya yang kutahu, kami dan beberapa tetangga sekitar telah berkumpul di halaman belakang rumah pasangan Artawan. Ada kebun yang rimbun di sana, dengan bangku-bangku dan meja panjang terbuat dari kayu dinaungi pohon-pohon gandaria. Di sudut-sudut kebun, lampu-lampu berpendar lembut. Tempat yang sempurna untuk mengadakan makan malam bersama.
Pipi membuktikan dengan mudah pernyataan Jo tentang kemahirannya mengolah bahan makanan. Dalam sekejap, separuh isi kulkasku telah berubah menjadi masakan berbagai rupa. Jenis yang menerbitkan air liur hanya dengan melihat tampilannya saja.
Rupanya tiap tetangga yang kami undang tak lupa membawa buah tangan. Terlalu banyak makanan, sampai-sampai kami tak bisa menemukan celah yang tersisa di atas meja kayu panjang untuk meletakkannya. Semua orang penasaran pada undangan yang berasal dari rumah keluarga Artawan.
Makan malam berlangsung dengan menyenangkan. Obrolan panjang yang bersahabat dan tawa yang pecah di sana sini sementara anak-anak berlarian di antara para orangtua mereka. Kami bahkan lupa, rumah siapa yang sebenarnya kami kunjungi; rumah Bapak dan Ibu Artawan atau rumah Jo dan Pipi. Seakan-akan mereka berdua telah lama tinggal di antara kami, sedangkan Bapak dan Ibu Artawan hanya tamu yang kebetulan singgah sementara. Kami menyukai Jo dan Pipi.
“Kalau tidak salah, Bapak dan Ibu Artawan pulang besok pagi, ya? Itu yang saya dengar dari Pak RT tadi. Bapak dan Ibu diminta menjaga rumah mereka, kan? Kenapa baru sekarang Bapak dan Ibu datang?” Cetus seseorang.
Kusaksikan Jo dan Pipi saling berpandangan.
***
Suara gedoran di pintu depan rumahku terdengar mengancam. Tergopoh-gopoh, aku membukanya, mendapati wajah-wajah panik milik Bapak dan Ibu Artawan.
“Maaf mengganggu, Jeng Teresa. Rumah kami kemalingan. Kami belum memeriksa semua tapi ada uang, perhiasan, juga beberapa pajangan antik hilang. Apa Jeng Teresa melihat sesuatu yang mencurigakan selama kami pergi? Tolong diingat-ingat, Jeng.” Bapak Artawan memburuku.
Sesaat, ingatanku melayang-layang.
Aku ingat Jo yang terampil berkebun sebab ia pernah belajar ornamental gardening di University of Rochester, Amerika. Lihat, tamanku yang indah itu adalah hasil kerja tangan-tangannya. Aku ingat Pipi yang benar-benar pintar memasak, tak heran lantaran ia mantan juru masak ternama yang profilnya pernah diulas di majalah Food Network. Masih bisa kurasakan lezatnya makaroni panggang dengan resep rahasia ciptaan Pipi di lidahku. Aku ingat Maddie, anjing coonhound ramping yang penurut. Aku suka anjing itu. Aku ingat uban keperakan, kulit-kulit keriput, cara berjalan yang lamban, dan pakaian-pakaian rajut. Aku ingat makan malam di kebun belakang yang menyenangkan. Aku ingat, betapa kami, penghuni kompleks perumahan, jatuh cinta pada Jo dan Pipi.
“Aduh, kemalingan? Tidak, tidak ada yang mencurigakan. Kok bisa kemalingan, Pak Artawan?”
Bapak Artawan mendengus kesal. Ibu Artawan berdiri dengan gelisah.
Aku tak ingat pernah menyukai mereka berdua.
 



No comments:

Post a Comment