Sunday, July 13, 2014

Terjemahan: The Elephant Vanishes - Haruki Murakami

Cerita yang ditulis Haruki Murakami berjudul "The Elephant Vanishes" ini dimuat di The New Yorker, 18 November 1991, sepanjang sembilan halaman. Arsipnya bisa ditemukan dan dibaca di sini.




Lenyapnya Si Gajah

Aku membaca perihal si gajah yang lenyap dari kandangnya di surat kabar. Jam weker membangunkan aku hari itu, seperti biasanya, pada pukul 6:13. Aku beranjak menuju dapur, menyiapkan kopi dan roti panggang, menyalakan radio, membuka lebar-lebar lembaran surat kabar di atas meja dapur. Lalu seraya mengunyah, aku teruskan membaca. Aku adalah salah satu dari orang-orang yang biasa membaca surat kabar dari depan ke belakang, secara berurutan. Karena itu, butuh waktu yang lama hingga akhirnya aku membaca berita tentang si gajah yang lenyap. Halaman utama surat kabar dipenuhi oleh berita tentang SDI dan sengketa dagang dengan Amerika. Setelahnya aku menyelisik berita nasional, politik internasional, ekonomi, surat pembaca, ulasan buku, iklan perumahan, laporan olahraga, dan akhirnya berita daerah.

Monday, July 7, 2014

Kesumat (Suara Merdeka, 6 Juli 2014)





Selema tak tahu harus bagaimana. Ia bersembunyi di pojok kandang kuda yang tak terjangkau cahaya lampu gantung. Tak ada angin malam ini, dinding-dinding papan bergeming, segalanya terasa kering. Kuda-kuda meringkik gelisah seolah tahu ada hidup yang sedang terancam bahaya. Sementara di luar, teriakan memanggil-manggil namanya terdengar sahut menyahut.
Selema menerka-nerka, Tuan Pieter telah mengerahkan seluruh lelaki di rumah ini untuk mencarinya. Hanya masalah waktu, mereka pasti menemukannya.
“Selema! Keluar, Selema!”
“Selema! Jangan membuat Tuan Pieter bertambah marah!”
“Keluar Selema! Kekasihmu sudah kami tangkap!”
Selema menggigil. Ketakutan serupa selubung yang membungkusnya rapat-rapat. Ia tak kuasa merobek jalan keluar.
Lalu pintu kandang dibuka dengan kasar. Kira-kira sepuluh lelaki berdiri menantang. Api di atas suluh bambu di tangan-tangan mereka meliuk-liuk, menjilati seisi ruangan dengan cahaya remang.
Seseorang melangkah masuk lebih dalam.
Ringkik berubah menjadi pekik, kuda-kuda gugup di dalam kandang berlompatan.
“Ini dia!” Sebuah tangan merenggut gelungan rambutnya hingga tercerai berai. Salema tersentak, terhuyung-huyung mengikuti tarikan tanpa belas kasihan pada rambutnya yang panjang.
“Ampun! Ampun! Ampun!” Selema melolong. Kecuali kuda-kuda di dalam kandang, tak ada yang mendengarnya.