Tuesday, September 16, 2014

Stroberi dalam Pot (Koran Tempo, 14 September 2014)





Maryanto sempat pulang ke rumah orang tuanya, sebelum ia menjadi Miriam. Kira-kira tujuh tahun lalu.
Ibunya masih secantik seperti terakhir kali ia melihatnya. Ayahnya masih segagah yang bisa diingatnya.
Kebun stroberi pada sebidang tanah di halaman belakang rumah masih terawat dengan baik. Kecil saja kebun itu, hanya ada enam belas pot yang tersusun dalam empat baris pendek. Meski begitu, dari sanalah lipstik pertama Maryanto berasal. Juga gaun sempit bercorak kulit macan serta rambut palsu pirang terang yang dibanggakannya.
Maryanto terkenang, suatu ketika kebun stroberi berbuah terus menerus.

Friday, September 5, 2014

Di Trocadéro (femina, f33, 23-39 Agustus 2014)



Palais de Chaillot masih berdiri di atas bukit tua Trocadéro, Sayang. Setahun sejak kepergianmu untuk pulang ke Jawa, aku masih mencuri waktu berkunjung ke sana. Di terasnya, titik paling sempurna untuk menyaksikan menara Eiffel, di antara lalu lalang turis dengan kamera saku, aku selalu mencari sosokmu.

“Mengapa Trocadéro tak pernah sepi?” tanyamu. “Bayangkan Alain, kita berdua pemilik Palais de Chaillot. Semua yang ingin berkunjung ke sini harus melalui seleksi ketat kita! Nous sommes les rois et les reines du palais!1

Tawaku lepas menyaksikan tubuhmu berputar-putar, rambutmu yang panjang dan hitam terayun sementara matamu terpejam seperti sedang merasakan terpaan angin dari pusaran yang kauciptakan sendiri. Kau menginginkan Trocadéro sepi tetapi kau sendiri, setahuku, tak menyukai kesunyian.