Friday, September 5, 2014

Di Trocadéro (femina, f33, 23-39 Agustus 2014)



Palais de Chaillot masih berdiri di atas bukit tua Trocadéro, Sayang. Setahun sejak kepergianmu untuk pulang ke Jawa, aku masih mencuri waktu berkunjung ke sana. Di terasnya, titik paling sempurna untuk menyaksikan menara Eiffel, di antara lalu lalang turis dengan kamera saku, aku selalu mencari sosokmu.

“Mengapa Trocadéro tak pernah sepi?” tanyamu. “Bayangkan Alain, kita berdua pemilik Palais de Chaillot. Semua yang ingin berkunjung ke sini harus melalui seleksi ketat kita! Nous sommes les rois et les reines du palais!1

Tawaku lepas menyaksikan tubuhmu berputar-putar, rambutmu yang panjang dan hitam terayun sementara matamu terpejam seperti sedang merasakan terpaan angin dari pusaran yang kauciptakan sendiri. Kau menginginkan Trocadéro sepi tetapi kau sendiri, setahuku, tak menyukai kesunyian.

Pernah suatu hari, kita sedang menyusuri Fountain of Warsaw di Jardins du Trocadéro- Kebun Trocadéro- menikmati Paris dalam suhu 28 derajat Celcius. Percikan air mancur kolam Warsaw pada kulitku menyebabkan sebuah puisi Henry Wadsworth Longfellow tentang hujan di musim panas melintas di ingatan. Kurasa aku yang mula-mula mengutip, “How beautiful is the rain! After the dust and heat, in the broad and fiery street, in the narrow lane.” Satu dua orang melirik sekilas. Lalu, kau bergabung bersamaku.

Dengan riang, kau berseru, “Eh, ujan gerimis lagi, ikan kering diasinin! Eh, jangan menangis aje, bulan depan mau dikawinin!

Kau tertawa, tak peduli semakin banyak lirikan yang mampir. Aku pun tertawa meski sama sekali tak mengerti satu patah kata pun dari puisi dalam bahasa daerahmu itu. Di sela-sela kejang perut yang kurasakan, aku bertanya; apakah bait puisi yang baru saja kau lantunkan itu ditulis oleh penyair kesukaanmu? Apakah ia seorang yang terkenal? Tawamu meledak lagi, dan lagi-lagi aku mengikutimu. “Aku tak banyak membaca, Alain,” ucapmu setelah kegembiraan kita mereda sedikit, “Tetapi aku pikir, aku mirip Oscar Wilde.”

Kau tak menjawab pertanyaanku, namun nama yang kausinggung itu memberiku gagasan. Kutantang kau untuk bertemu di Pere Lachaise, di depan nisan Oscar Wilde yang dipenuhi gincu bekas ciuman. Kau mencibir tantanganku dengan keengganan. Katamu saat itu, “Aku tak suka kuburan, Alain! Kuburan itu sepi, banyak hantunya. Hiii…”

Kau pasti bercanda. Bahwa Pere Lachaise selalu dipenuhi pengunjung, semua orang di penjuru Prancis mengetahuinya. Ah, ya memang, tantanganku itu mengada-ada. Aku yang ketika itu setengah mati ingin merasakan lembut bibirmu, hanya mencari-cari jalan untuk sampai pada ciuman pertama kita. Kubayangkan, jika kau mendaratkan bibirmu di nisan Wilde, aku bisa berpura-pura cemburu lalu menyerukan protes yang diakhiri dengan permintaan; kecupan yang sama untukku. Angan-angan konyol yang terlalu memalukan untuk kuakui meski pada awalnya, kupikir, adalah gagasan yang sangat romantis. Aku ingat benar, binar-binar kedua bola matamu yang hitam ketika kau meneruskan alasan penolakanmu, “Aku lebih suka jalan yang ramai, dipenuhi orang-orang yang menikmati kehidupan, seperti di Trocadéro. Mengertikah kau, Alain?”

Lalu, mengapa kau menginginkan Trocadéro yang sepi, Sayang? Ah, kau yang menyukai kehidupan, sedang apa kau di Jawa?

Tentang kehidupanmu di Jawa, kau tak pernah mengungkitnya.

“Aku berasal dari pulau yang jauh bernama Jawa, Alain.” Itu saja yang pernah kaukatakan mengenai asal-usulmu. Keingintahuanku tentang dirimu selalu kaujawab dengan helaan napas panjang. Bagaimana kaki-kaki mungilmu bisa sampai ke Trocadéro, tak pernah kaukisahkan. “Aku membuat perjanjian dengan setan, menukar jiwaku dengan apa yang kukira adalah kebahagiaan, Alain. Begitulah caraku sampai di Trocadéro.” Hanya kalimat itu yang berulang kali keluar dari mulutmu, Sayang.

Saat itu, kupikir kau sedang membicarakan hal lain yang sama sekali tidak berhubungan.

Jarum jam di dinding menunjuk ke angka satu, ketika suatu malam kau meneleponku, dengan suara lirih memohon aku untuk datang ke Trocadéro. Aku menyetir dalam kalut, membayangkan sesuatu yang buruk telah terjadi padamu. Waktu tempuh menjadi 30 menit lebih pendek. Dan ya, memang benar, kutemui kau meringkuk dalam mantel panjang di teras Palais de Chaillot, sesuatu yang buruk benar-benar telah terjadi padamu.

Di apartemenku, menggigil dan ketakutan, kau berdiri menunjukkan lebam-lebam di bagian dalam lengan dan pahamu, bagian tubuhmu yang belum pernah kulihat sampai malam itu.

“Ia melakukannya lagi,” katamu diikuti sedu sedan tangis.

Aku tidak tahu siapa ‘ia’ yang kaumaksud, tidak paham mengapa ia melakukannya lagi kepadamu –semua lebam kebiru-biruan mengerikan, dan gigilmu, dan ketakutanmu itu. Maka aku tak bersuara kecuali merengkuhmu hati-hati seolah kau adalah seekor kupu-kupu dengan pelapis warna yang rapuh pada sayap-sayapnya.

Pada saat itu ciuman pertama kita terjadi. Pelan dan pasti. Kurasakan asin sisa air mata di kedua belah bibirmu, rasanya selembut yang kuharapkan sejak lama. Lalu, kita berbaring di atas tempat tidur yang sama, punggung bertemu punggung, malam itu. Aku tak bisa lelap, igauanmu terdengar begitu pedih, “Tiara, maafkan Ibu, Tiara... Tiara, maaf... maaf

Mungkin kau mencium wangi adonan panekuk yang mulai mengembang dan mendengar desis teko berisi kopi panas dari dapur, sebab kau bangun sebelum sempat kusiapkan sarapan, sebelum tetes embun pagi terakhir menguap dari kaca jendela.

“Memasak untukku, Alain? Belum pernah ada lelaki yang melakukannya untukku!” Kau bertepuk tangan, seakan-akan tengah menyaksikan pertunjukkan yang sangat mengagumkan. Benarkah itu, Sayang? Bahwa hingga saat itu, akulah satu-satunya lelaki yang pernah memasak untukmu? Bagaimana dengan ‘ia’?

Seperti tak terjadi apa-apa semalam, kau menghabiskan sarapan tanpa sisa lalu segera bertanya, “Jam berapa kita ke Trocadéro, Alain?”

Mengenai kau menyukai Trocadéro karena keramaiannya, kupikir bukanlah satu-satunya alasan. Kau selalu memilih teras Palais de Chaillot sebagai tujuan pertama kita, berdiri diam di sana sementara matamu menjelajah. Meski kau melakukan ritualmu itu dalam ketenangan yang biasa-biasa saja, aku merasa ada sesuatu yang liar membayang. Seperti binatang dalam kurungan yang menolak dijinakkan; bersiap-siap mengumpulkan serangan dalam ketakutan. Seperti itulah aku melihatmu pada hari pertama kita bertemu, di sini, di teras Palais de Chaillot.

Aku tengah berada dalam situasi sulit saat itu; datang ke Trocadéro untuk sebuah kencan buta. Kau berdiri di sana, memperhatikanku dengan sepasang mata liarmu. Itulah saat pertama kali pandangan kita bertemu. Tetapi jelas, kau bukan perempuan dalam foto yang diberikan biro jodoh kepadaku meski aku takkan menolak kulit semanis warna madu dan rambut sekelam warna malam milikmu. Kau terus menerus melihatku, seperti aku pun kadang mencuri pandang ke arahmu.

Hingga matahari hampir hilang, yang artinya sudah lewat tiga jam dari waktu yang dijanjikan, pasangan kencan butaku tak kunjung datang. Ada kemungkinan ia sebenarnya memenuhi janji lalu pelan-pelan berbalik arah begitu dilihatnya lelaki yang membawa setangkai bunga mawar di tangan berbeda dari apa yang ditampilkan oleh foto; tampak lebih gemuk dengan rambut lebih tipis nyaris botak. Tentu saja, foto yang kuberikan kepada biro jodoh itu telah tujuh tahun usianya. Tentu saja, aku yang sekarang sama sekali berbeda dari aku tujuh tahun yang lalu.

Ketika akhirnya kuputuskan untuk pulang membawa kekecewaan, kau berteriak memanggilku, “Excusez-moi!2 Excusez-moi!” Kau menyeruak kerumunan, suaramu sayup-sayup kudengar. Aku tak yakin apakah kau sedang memanggilku atau orang lain, tetapi setelah kita berdiri cukup dekat, kau menatapku lurus-lurus dan bertanya,“Maaf, apakah kau Coco?”

Coco! Nama yang lucu untuk seekor anjing peliharaan. Aku menyanyikan sepenggal lagu ‘Qui qu’a vu Coco dans l’Trocadéro?’ dengan nada tak senang; “Apakah Anda melihat Coco? Coco di Trocadéro, Co di Tro, Co di Tro, Coco di Trocadéro”.

Kukira kau akan meminta maaf karena telah mempermainkan aku, menyamakanku dengan seekor anjing yang hilang di Trocadéro, tetapi tidak, kau malah menyanyikan lagu itu bersamaku; “Vous n'auriez pas vu Coco? Coco dans l' Trocadéro, Co dans l'Tro, Co dans l'Tro, Coco dans l' Trocadéro.” Perempuan sinting mana yang melakukan itu; memanggil seorang lelaki asing dengan nama anjing dalam sebuah lagu lalu bukannya meminta maaf justru bernyanyi bersama lelaki yang jelas-jelas sedang kesal itu. Ya, perempuan sinting mana selain kau, Sayang. Apakah kau sudah bertemu Coco-mu di Trocadéro, Sayang? Apakah penantian diam-diammu telah tunai?

Di hari yang lain, tak sengaja, aku melihat fotomu dengan seorang anak perempuan manis ketika kau membuka dompetmu untuk membayar dua roti baguette yang kita beli dari pedagang kaki lima. Di foto itu, kalian- kau dan anak perempuan manis itu- saling melekatkan wajah. Kau betul-betul mirip dengannya.

“Anakku, bernama Tiara,” ucapmu seperti seorang pembaca pikiran. Tetapi kau tidak membicarakan anakmu yang bernama Tiara itu lebih jauh lagi. Kutebak, Tiara ada di suatu tempat, di luasnya Pulau Jawa. Jadi, dia yang kaupanggil dalam igauanmu malam itu, Sayang?

Ajakan demi ajakanku selalu menemui jalan buntu. Kau tak pernah setuju untuk bertemu di tempat manapun selain di Trocadéro, dan sekali di apartemenku. Sebab kau sempat menyebut nama Oscar Wilde, maka kupikir kau akan senang jika kuajak pergi mengunjungi tanah kelahiran penulis itu; London. Namun lagi-lagi kau mengelak; “Aku tidak suka bepergian, Alain.”

Tentu aku tidak serta merta mempercayainya. Kau datang dari negeri yang begitu jauh, tak mungkin bepergian adalah hal yang kaubenci. Maka aku membujuk dan terus membujuk. Kukatakan, kita akan berangkat menggunakan kereta api, kau takkan menyadari bahwa kita sedang berpindah negara.

Kau selalu punya dalih untuk tiap bujukanku, hingga akhirnya kau terpojok dan mengatakan kenyataannya: “Aku tak punya paspor. Seseorang menahannya karena ketidakpatuhanku. Aku tak bisa keluar dari negaramu.”

Itulah kata-kata terakhir yang kudengar darimu sebelum akhirnya kau menghilang seperti tetes embun pagi terakhir di kaca jendela apartemenku yang pernah kita saksikan bersama.

Lihat, Sayang. Dari teras Palais de Chaillot kuamati warna langit yang berlapis-lapis melatari menara Eiffel; mula-mula biru yang teramat luas lalu memudar berganti abu-abu kemudian hilang melebur dalam warna jingga. Kubayangkan, setahun yang lalu, kira-kira ketika langit secantik saat ini, kau menemukan Coco-mu yang hilang di Trocadéro. Kubayangkan, saat ini, kira-kira di suatu tempat, di Pulau Jawa sana, kau sedang memeluk anakmu, Tiara. Berdua, kalian berputar-putar hingga kehilangan kendali; rambut kalian yang panjang dan hitam berantakan sementara mata kalian terpejam menikmati sensasi angin di wajah.

Tidak ada ‘ia’ di sana. Tidak ada lebam di lengan dan paha, hanya kulit yang semanis warna madu. Semanis yang bisa kubayangkan, Sayang.

 

Catatan kaki:

1Raja dan ratu istana

2Permisi



No comments:

Post a Comment