Tuesday, September 16, 2014

Stroberi dalam Pot (Koran Tempo, 14 September 2014)





Maryanto sempat pulang ke rumah orang tuanya, sebelum ia menjadi Miriam. Kira-kira tujuh tahun lalu.
Ibunya masih secantik seperti terakhir kali ia melihatnya. Ayahnya masih segagah yang bisa diingatnya.
Kebun stroberi pada sebidang tanah di halaman belakang rumah masih terawat dengan baik. Kecil saja kebun itu, hanya ada enam belas pot yang tersusun dalam empat baris pendek. Meski begitu, dari sanalah lipstik pertama Maryanto berasal. Juga gaun sempit bercorak kulit macan serta rambut palsu pirang terang yang dibanggakannya.
Maryanto terkenang, suatu ketika kebun stroberi berbuah terus menerus.

Di dapur selalu ada stroberi: buah stroberi, selai stroberi, sirop stroberi. Rumah beraroma stroberi. Semua tetangga kenyang stroberi. Demam stroberi yang tak kunjung sembuh. Keranjang demi keranjang stroberi pindah ke pasar, berakhir di tangan pembeli.
Masa-masa yang menyenangkan.
“Semuanya bibit baru,” tunjuk ibunya. “Sudah waktunya dipetik.”
Buah-buah gemuk stroberi berjuntai keluar dari barisan pot. Maryanto memilih satu, yang lekuknya paling sempurna dan warnanya merah merona.
 Rasa asam menyebar pada gigitan pertama. Terlalu asam baginya.
“Asam,” ucapnya dalam suara yang terdengar lebih halus dari semestinya. “Ibu, tolong rawat kebun stroberiku. Mungkin aku tidak akan pulang dalam waktu dekat.”
Pada ayahnya, Maryanto tak berkata apa-apa.
***
Setelah itu, tak ada lagi Maryanto. Hanya ada Miriam.
Miriam menari hampir setiap malam. Miriam harus menari. Di sebuah kelab yang separuh pengunjungnya ekspatriat dan seluruhnya laki-laki, Miriam menari. Menari bahkan sampai pagi sebab ada hormon yang harus dibeli, sebab ada biaya operasi. Sebab ia ingin menjadi perempuan sejati.
Peluhnya berjatuhan membasahi panggung tempat Miriam meliuk-liukkan tubuh kuyup. Semuanya licin, semuanya lengket, namun ia tak bisa berhenti menari. Selama itu, banyak peristiwa yang berlintasan di kepalanya. Tetapi yang paling kerap adalah sebuah peristiwa pada suatu pagi di rumahnya yang beraroma stroberi.
Apa itu yang kau pakai di bibirmu? Lipstik?
Bukan, Ayah, bukan.
Miriam, yang kala itu masih dipanggil Maryanto, jadi ciut. Meski benar ia tidak memakai lipstick. Meski ayahnya telah keliru.
Apa-apaan kamu! Laki-laki pakai lipstik!
Tidak, Ayah, tidak.
Ibunya datang terlambat. Miriam telanjur ambruk, tersungkur di atas ubin keras. Tamparan di wajah dan tendangan di perut telah lebih dulu singgah, meninggalkan hulu hati yang terasa nyeri. Ada yang berkepak-kepak pergi. Barangkali cinta pada ayahnya, barangkali ketakutan pada ayahnya, barangkali hormat pada ayahnya.
Miriam tak hirau akan pekik ibunya. Perlahan, ia mengangkat diri lalu keluar dari rumah. Keluar, mungkin tanpa keinginan untuk kembali lagi.
Miriam tidak memakai lipstik. Mungkin selai stroberi tertinggal di belah bibirnya, berkilau, dan kilau itu sampai pada mata ayahnya. Mustahil ia memakai lipstik pada hari ujian kelulusan sekolah menengah atas itu.
***
Saat Miriam mendapat berita bahwa ayahnya sakit, ia ingin pulang. Menjenguk ayahnya. Mungkin untuk memberi maaf, mungkin untuk meminta maaf. Mungkin untuk saling mengasihi lagi. Tetapi Miriam sedang berada di puncak bimbang. Tubuhnya bergerak menuju dua arah: yang seharusnya ada justru menghilang, yang tak pernah tampak mendadak datang. Ia bukan lagi Maryanto tetapi belum merasa sebagai Miriam. Maka, ia tidak pulang.
Bahkan ia tidak juga pulang ketika mendengar kabar kematian ayahnya.
***
Tak ada yang mengingat Maryanto sekarang. Laki-laki itu telah terkubur jauh entah di mana. Seperti inilah seharusnya Miriam dilahirkan: rahang yang lembut, pinggul yang ramping, dan buah dada yang subur. Ia menjadi ratu panggung tari. Semua laki-laki memuja rambut ikalnya, mata kucingnya, bibir kilapnya. Barangkali bagi mereka, tak ada yang sanggup menyaingi tarian yang dipersembahkan Miriam.
Sayang, Miriam tak kunjung bahagia.
Ibunya tak pernah lepas dari pikirannya. Juga kebun stroberi. Juga kenangan pada suatu pagi ketika ia terbanting ke lantai itu. Juga ayahnya. Walau Miriam enggan mengakuinya.
Miriam membeli tiket perjalanan. Dalam empat belas tahun terakhir, ini adalah kepulangan kali kedua.
***
Ibunya berdiri di ambang pintu. Memang perempuan itu bergerak sedikit lebih pelan, dan rambutnya dipenuhi oleh uban, dan keriput berkejaran di kulit wajahnya sekarang. Tapi, bagi Miriam, kecantikan perempuan itu tak pernah lekang.
“Mencari siapa, Nak?”
Miriam urung mencium tangan ibunya, urung juga memeluknya. Miriam terpaku. Sesaat kemudian, ia menggeleng pelan, “Maaf, Bu. Mungkin saya salah rumah.”
Ibunya tersenyum, “Mencari siapa, Nak?”
“Ibu, nama saya Miriam.”
“Miriam…” Ibunya terdiam, seolah sedang berusaha mengingat-ingat.
“Maaf, Bu. Saya telah mengetuk pintu rumah yang salah. Permisi.”
Ibunya memandang wajah Miriam, wajah yang begitu cantik. Tutur katanya halus, gerak-geriknya lembut, wanginya seperti wangi stroberi. Mengingatkan ibunya pada seorang anak laki-laki yang lupa jalan pulang ke rumah.
“Apa Miriam teman Maryanto? Maryanto sudah lama tidak pulang.”
“Bukan, Bu. Saya tidak kenal Maryanto.”
“Maryanto anak saya. Sudah lama dia tidak pulang.”
“Maaf, Bu. Permisi.”
Ibunya melepas kepergian Miriam. Melepas kepergian anaknya, sekali lagi. Kali ini, entah kapan ia akan kembali lagi.
“Miriam!” Panggilan ibunya menghentikan langkah Miriam. “Kalau suatu hari nanti Miriam bertemu Maryanto, bisa sampaikan pesan ibu? Katakan padanya, kebun stroberinya selalu kami rawat. Katakan padanya, ayahnya dulu sudah menanam varietas stroberi baru. Buahnya cantik dan manis, tidak asam seperti terakhir ia mencicipinya.”
Miriam tertegun.
“Iya, Bu. Nanti saya sampaikan.”
Miriam melangkah pergi.

***


No comments:

Post a Comment