Friday, December 26, 2014

Weekend Witches

Kita kembali ke bulan Desember 2009
Lima tahun yang lalu, dua orang kelebihan waktu (dan kekurangan uang) membuat musik di Fruity Loop, merekam suara di komputer dengan mikrofon murah, lalu menyebutnya sebagai lagu, memberinya judul "Weekend Witch"
Mereka- dua orang kelebihan waktu itu- baru saja menjalani apa yang banyak orang namai dengan Long Distance Relationship. Mereka terpisah sembilan jam perjalanan menggunakan kereta, dan akhir pekan menjadi waktu-waktu paling berharga. Rindu yang nyangkut di tenggorokan, debar jantung tak biasa di rongga dada, keinginan untuk sekadar merasakan punggung tangan atau tatapan mata, senyum yang secara otomat terkembang lebar-lebar setiap akhirnya bertemu. Lagu yang mereka karang berdua adalah tentang segalanya itu.
Proyektor pinjaman, kamera saku, rekaman perjalanan dari kereta Shinkansen, naskah skripsi, sebuah sofa, dua gitar, dan seekor anjing, jadilah lagu itu punya videonya sendiri.



Lima tahun sudah lewat, mereka bukan lagi dua orang kelebihan waktu (meski belum juga kelebihan uang), memutuskan untuk menikah, dan masih dengan setengah hati dipaksa pisah oleh jarak.


Wednesday, December 24, 2014

Terjemahan: Dimension - Alice Munro

Alice Munro adalah adalah seorang penulis asal Kanada yang menerima Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 2013. Cerita yang ditulisnya ini berjudul "Dimension" dimuat di The New Yorker, 5 Juni 2006. Arsipnya bisa ditemukan dan dibaca di sini.



Dimensi

Doree harus menumpang tiga bus- satu menuju Kincardine, di sana ia menunggu bus yang lain menuju London, lalu ia menunggu lagi, kali ini bus menuju fasilitas. Ia memulai perjalanan pada hari Minggu pukul sembilan pagi. Sebab jeda-jeda ketika menunggu, ia sampai pada pukul dua siang setelah menempuh jarak seratus mil. Segala perihal duduk menunggu itu, apakah di dalam bus atau di depot, bukanlah perkara yang memberatkannya. Pekerjaannya sehari-hari tidak melibatkan hal-hal semacam itu.

Doree bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di sebuah motel, Comfort Inn. Ia menggosok lantai kamar mandi dan merapikan tempat tidur dan membersihkan karpet dan menyeka cermin. Ia menyukai pekerjaannya- semua hal itu menyita pikirannya dan membuatnya kelelahan hingga ia bisa tertidur pulas di malam hari. Ia jarang dihadapkan dengan masalah di tempat kerja, tak ada yang benar-benar buruk, meskipun beberapa wanita rekan sekerjanya bisa sedikit merepotkan. Wanita-wanita itu lebih tua usianya, dan mereka berpikir bahwa Doree harus mencoba penghidupan yang lebih baik. Mereka berkata bahwa ia harus mengambil kursus agar bisa mendapatkan pekerjaan administrasi di belakang meja, selagi ia masih muda dan menarik. Tetapi Doree puas dengan apa yang dilakukannya. Ia tak ingin berbicara dengan orang-orang.

Tak seorang pun dari rekan-rekan kerjanya mengetahui apa yang telah terjadi. Atau, jika pun mereka tahu, mereka pura-pura tidak tahu. Fotonya muncul di koran- mereka menggunakan foto yang diambil oleh laki-laki itu; Doree bersama ketiga anak-anaknya, si bayi Dimitri dalam pelukan, dan Barbara Ann dan Sasha di sisi kiri dan kanan, memandang ke arah lensa kamera. Rambutnya panjang dan berombak dan cokelat ketika itu, dan wajahnya tampak malu-malu dan lembut- suatu kesan yang ingin ditampilkan oleh si pengambil foto.

Sejak saat itu, rambutnya telah mengalami perubahan; dipotong pendek, dicat terang, dan ditata sedemikian rupa hingga meruncing ujung-ujungnya. Berat badannya merosot turun. Dan ia menggunakan nama baru: Fleur. Juga, lokasi pekerjaannya sekarang cukup jauh dari tempat tinggalnya yang dulu. 

Ini adalah kali ketiga ia melakukan perjalanan yang sama. Dua kali, laki-laki itu menolak bertemu dengannya. Jika laki-laki itu melakukannya lagi, ia akan berhenti mencoba. Bahkan apabila laki-laki itu bersedia menemuinya, mungkin ia tidak akan datang lagi untuk sementara waktu. Ia tidak berencana untuk pergi ke luar negeri atau apapun. Sebenarnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.