Wednesday, December 24, 2014

Terjemahan: Dimension - Alice Munro

Alice Munro adalah adalah seorang penulis asal Kanada yang menerima Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 2013. Cerita yang ditulisnya ini berjudul "Dimension" dimuat di The New Yorker, 5 Juni 2006. Arsipnya bisa ditemukan dan dibaca di sini.



Dimensi

Doree harus menumpang tiga bus- satu menuju Kincardine, di sana ia menunggu bus yang lain menuju London, lalu ia menunggu lagi, kali ini bus menuju fasilitas. Ia memulai perjalanan pada hari Minggu pukul sembilan pagi. Sebab jeda-jeda ketika menunggu, ia sampai pada pukul dua siang setelah menempuh jarak seratus mil. Segala perihal duduk menunggu itu, apakah di dalam bus atau di depot, bukanlah perkara yang memberatkannya. Pekerjaannya sehari-hari tidak melibatkan hal-hal semacam itu.

Doree bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di sebuah motel, Comfort Inn. Ia menggosok lantai kamar mandi dan merapikan tempat tidur dan membersihkan karpet dan menyeka cermin. Ia menyukai pekerjaannya- semua hal itu menyita pikirannya dan membuatnya kelelahan hingga ia bisa tertidur pulas di malam hari. Ia jarang dihadapkan dengan masalah di tempat kerja, tak ada yang benar-benar buruk, meskipun beberapa wanita rekan sekerjanya bisa sedikit merepotkan. Wanita-wanita itu lebih tua usianya, dan mereka berpikir bahwa Doree harus mencoba penghidupan yang lebih baik. Mereka berkata bahwa ia harus mengambil kursus agar bisa mendapatkan pekerjaan administrasi di belakang meja, selagi ia masih muda dan menarik. Tetapi Doree puas dengan apa yang dilakukannya. Ia tak ingin berbicara dengan orang-orang.

Tak seorang pun dari rekan-rekan kerjanya mengetahui apa yang telah terjadi. Atau, jika pun mereka tahu, mereka pura-pura tidak tahu. Fotonya muncul di koran- mereka menggunakan foto yang diambil oleh laki-laki itu; Doree bersama ketiga anak-anaknya, si bayi Dimitri dalam pelukan, dan Barbara Ann dan Sasha di sisi kiri dan kanan, memandang ke arah lensa kamera. Rambutnya panjang dan berombak dan cokelat ketika itu, dan wajahnya tampak malu-malu dan lembut- suatu kesan yang ingin ditampilkan oleh si pengambil foto.

Sejak saat itu, rambutnya telah mengalami perubahan; dipotong pendek, dicat terang, dan ditata sedemikian rupa hingga meruncing ujung-ujungnya. Berat badannya merosot turun. Dan ia menggunakan nama baru: Fleur. Juga, lokasi pekerjaannya sekarang cukup jauh dari tempat tinggalnya yang dulu. 

Ini adalah kali ketiga ia melakukan perjalanan yang sama. Dua kali, laki-laki itu menolak bertemu dengannya. Jika laki-laki itu melakukannya lagi, ia akan berhenti mencoba. Bahkan apabila laki-laki itu bersedia menemuinya, mungkin ia tidak akan datang lagi untuk sementara waktu. Ia tidak berencana untuk pergi ke luar negeri atau apapun. Sebenarnya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Di dalam bus pertama, ia tak mengalami banyak kesulitan. Hanya duduk diam dan menikmati pemandangan. Ia dibesarkan di pesisir, di sana musim semi selalu datang, tetapi di sini musim dingin selalu diikuti oleh musim panas. Salju masih turun sebulan yang lalu, tetapi sekarang cuaca terasa cukup panas untuk pergi keluar rumah tanpa menggunakan baju penghangat. Genangan air yang berkilauan tampak di lapangan terbuka, dan cahaya matahari turun dari sela-sela ranting pepohonan.

Di dalam bus kedua, ia mulai merasa gelisah, dan ia mulai menebak-nebak adakah di antara para wanita penumpang bus yang berniat untuk pergi ke tempat yang sama dengannya. Ada beberapa wanita yang pergi sendirian, dengan busana yang dipilih secara seksama, seolah-olah mereka akan pergi ke gereja. Wanita-wanita yang lebih tua tampak akan pergi ke gereja kuno yang mengharuskan jemaatnya memakai rok dan kaus kaki dan topi, sementara wanita-wanita yang lebih muda mungkin termasuk ke dalam gereja modern yang menerima apabila jemaatnya menggunakan celana, syal berwarna cerah, anting-anting, dan tatanan rambut mengembang. Tetapi jika dilihat lebih cermat, sebenarnya wanita-wanita yang memakai celana berusia kurang lebih sama dengan wanita-wanita yang memakai rok.

Doree tidak masuk ke dalam kedua kategori. Ia telah bekerja selama satu setengah tahun dan belum pernah ia membeli satu pun pakaian untuk dirinya sendiri. Ia memakai seragam di tempat kerja dan celana jeans di tempat lainnya. Ia tidak berdandan sebab tak diperbolehkan, dan sekarang, meskipun boleh, ia memilih untuk tetap tidak berdandan. Rambut pakunya yang berwarna jagung tidak cocok dengan wajah polos tanpa dandanan, tetapi itu bukanlah suatu masalah.

Di dalam bus ketiga, ia mendapat tempat duduk tepat di sebelah jendela, dan ia mencoba untuk menenangkan diri dengan terus menerus membaca papan iklan dan papan rambu-rambu lalu lintas. Ia memiliki cara untuk tetap menyibukkan pikiran. Ia akan memilih satu lalu mencoba untuk mengutak-atik kata tersebut menjadi kata-kata baru. “Pisang,” misalnya, bisa menjadi “asing,” lalu “singa,” dan “siang,” dan “sapi,” dan “siap,” dan kata “tabung” bisa menjadi “bunga,” dan “tabu,” dan “tuba,” dan –tunggu dulu sebentar- “bung.” Kata-kata akan semakin banyak sepanjang jalan di kota, melintasi papan-papan iklan, toko-toko, parkiran mobil, bahkan balon yang ditambatkan di atas atap sebagai media promosi. 

Doree tidak memberitahu Ibu Sands mengenai dua percobaan terakhirnya, dan mungkin tidak akan memberitahu tentang yang satu ini juga. Ibu Sands, yang ia temui setiap hari Senin sore, berbicara tentang melanjutkan hidup, meskipun katanya hal tersebut membutuhkan waktu, bahwa ada hal-hal yang tak bisa diburu-buru. Ibu Sands berkata bahwa Doree baik-baik saja, bahwa pelan-pelan Doree akan menemukan kekuatan di dalam dirinya.

“Aku tahu kata-kata tersebut terus diulang-ulang sampai mati,” ucapnya. “Tetapi tetap saja kata-kata tersebut benar adanya.”

Wajah Ibu Sands memerah ketika ia mendengar dirinya sendiri mengucapkan kata “mati” tetapi ia tidak memperburuk suasana dengan menyampaikan permintaan maaf.

Saat Doree berusia enam belas- tujuh tahun yang lalu- ia berkunjung ke rumah sakit setiap hari sepulang sekolah untuk menjenguk ibunya. Ibunya sedang dalam masa penyembuhan setelah menjalani operasi pada punggung- yang katanya cukup serius walaupun tidak berbahaya. Lloyd bekerja sebagai asisten perawat di sana. Lloyd dan ibunya memiliki kesamaan; mereka sama-sama hippies tua- meskipun sebenarnya Lloyd lebih muda beberapa tahun- dan kapanpun Lloyd sempat, ia akan datang untuk mengobrol tentang konser dan pawai protes yang mereka berdua datangi, orang-orang aneh yang mereka kenal, obat-obatan yang mereka coba, hal-hal semacam itulah.

Lloyd terkenal di kalangan pasien karena leluconnya dan sentuhannya yang kuat dan meyakinkan. Ia kekar dan berdada bidang dan cukup berwibawa sehingga ada saja yang salah mengira Lloyd sebagai seorang dokter. (Ia tidak senang dengan itu- ia berpendapat bahwa banyak obat-obatan sekadar penipuan dan banyak dokter yang brengsek). Llyod memiliki kulit kemerahan yang sensitif dan rambut yang ringan dan sepasang mata yang tajam.

Lloyd mencium Doree di elevator dan mengatakan bahwa Doree adalah sekuntum bunga di tengah gurun pasir. Lalu Llyod tertawa sendiri, dan berkata, “Gimana? Keren, kan?”

“Kau adalah seorang penyair yang tidak menyadarinya,” ujar Doree, berusaha bersikap baik.

Suatu malam ibunya tiba-tiba meninggal dunia akibat emboli. Ibu Doree punya banyak teman wanita dan mereka semua berkenan menampung Doree- dan untuk sementara waktu ia tinggal bersama salah satu di antara mereka- tetapi ia lebih memilih teman barunya Llyod. Pada ulang tahunnya yang ke-tujuhbelas, Doree hamil. Lloyd belum pernah menikah, meskipun setidak-tidaknya ia memiliki dua anak yang entah berada di mana. Mereka, anak-anak itu, tentu telah tumbuh menjadi dewasa. Filosofi Lloyd mengenai hidup telah berubah seiring ia bertambah tua- ia percaya pada pernikahan, keajegan, dan tidak menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Dan Sechelt Peninsula, tempat tinggal Llyod dan Doree, penuh dengan orang-orang lama- teman lama, cara hidup lama, kekasih lama. Segera, Llyod dan Doree pindah ke sebuah kota yang mereka pilih secara acak dari peta, namanya: Mildmay. Mereka menyewa tempat tinggal di pinggiran kota. Lloyd mendapat pekerjaan di pabrik es krim. Mereka berkebun. Lloyd tahu banyak tentang cara-cara berkebun, seperti juga ia tahu banyak tentang pertukangan, atau cara-cara menggunakan kayu bakar, atau cara-cara memperbaiki mobil tua.

Kemudian, Sasha lahir.

“Benar-benar alami,” ujar Ibu Sands.

Doree berkata, “Oh ya?”

Doree selalu duduk di atas kursi bersandaran tegak yang menghadap meja, bukan di sofa dengan motif bunga-bunga dan bantal-bantal empuk. Ibu Sands memindahkan kursinya ke sebelah Doree agar mereka bisa bicara tanpa penghalang.

“Sepertinya, aku memang mengharapkan kau melakukannya,” ujar Ibu Sands. “Aku kira, jika aku menjadi kau, aku akan melakukan hal yang sama.”

Ibu Sands tidak akan mengatakan hal semacam itu di awal-awal pertemuan mereka. Setahun yang lalu, Ibu Sands akan lebih berhati-hati, mengira Doree akan memberontak pada gagasan bahwa ada orang lain yang bisa merasakan perasaannya. Sekarang Ibu Sands telah mengenal Doree, ia tahu Doree hanya akan menganggap komentarnya sebagai sebuah cara, bahkan cara yang sederhana, untuk berusaha memahami.

Ibu Sands tidak seperti yang lainnya. Ia tidak gesit, tidak kurus, tidak cantik. Tidak terlalu tua juga. Kira-kira, ia seusia ibu Doree jika saja perempuan itu masih hidup, meskipun sepertinya Ibu Sands tidak pernah menjadi hippies. Rambut kelabunya dipotong pendek dan ada tahi lalat di salah satu tulang pipinya. Ia memakai sepatu bersol datar dan celana longgar dan baju berbunga-bunga. Baju-baju yang Ibu Sands kenakan tak berhasil membuatnya nampak peduli pada penampilan, meskipun baju-baju itu berwarna cerah seperti rasberi atau pirus- seolah-olah ada seseorang yang berkata pada Ibu Sands bahwa ia perlu memberi kesan ‘pintar’ dan dengan patuh ia pergi membeli baju-baju yang ia kira memberinya kesan ‘pintar’ itu. Kepribadiannya yang baik dan tenang telah menguras habis keceriaan yang mudah sekali menjadi bahan ejekan, segala penghinaan yang mungkin ia dapat dari pakaian-pakaiannya.

“Yah, dua kali aku gagal menemuinya,” ujar Doree. “Dia tidak mau keluar.”

“Tapi kali ini dia mau? Dia mau keluar?”

“Ya, dia mau keluar. Tapi aku kesulitan mengenalinya.”

“Dia menua?”

“Mungkin. Mungkin dia kehilangan berat badan. Dan pakaiannya. Seragamnya. Aku tak pernah melihatnya dalam pakaian semacam itu sebelumnya.”

“Bukankah dulu dia bekerja sebagai asisten perawat?”

“Itu berbeda.”

“Bagimu, ia tampak seperti orang lain?”

“Tidak.” Doree menggigit belahan atas bibirnya, berusaha memikirkan perbedaan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu menjadi begitu pendiam. Doree tak pernah melihatnya begitu pendiam. Laki-laki itu bahkan tampak tak tahu harus duduk di hadapan Doree atau tidak. Kata-kata pertama Doree kepadanya adalah, “Kau mau duduk atau tidak?” Dan laki-laki itu menjawab, “Boleh?”

“Dia nampak semacam kosong,” ucap Doree. “Aku bertanya-tanya, mungkinkah mereka memberinya obat-obatan?”

“Mungkin saja, untuk membuatnya tetap stabil. Maaf, aku tidak tahu pasti. Apakah kau mengobrol dengannya?”

Doree tak yakin apakah yang ia dan laki-laki itu lakukan pada pertemuan terakhir mereka bisa disebut dengan ‘mengobrol’? Ia mengajukan beberapa pertanyaan bodoh yang biasa-biasa saja. Bagaimana perasaannya? (Baik.) Apakah ia makan dengan cukup? (Begitulah.) Apakah ada area untuk berjalan-jalan? (Di bawah pengawasan, ada. Ia pikir tempat itu bisa dibilang ‘area’. Ia pikir kegiatan yang dilakukannya bisa dibilang ‘berjalan-jalan.’)

Doree berkata, “Kau harus menghirup udara segar.”

Laki-laki itu menjawab, “Kau benar.”

Doree hampir saja bertanya apakah laki-laki itu mendapatkan teman. Semacam jika kau menanyakan anakmu tentang sekolah. Semacam, jika anakmu pulang dari sekolah, kau akan menanyakan hal itu.

“Ya. Ya,” ucap Ibu Sands seraya menyodorkan kotak Kleenex. Doree tidak membutuhkannya; matanya kering. Masalahnya ada pada perutnya. Pada napasnya.

Ibu Sands menunggu, ia tahu diri untuk tidak ikut campur lebih jauh.

Dan, seolah-olah mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh Doree, Lloyd berkata bahwa ada seorang psikiater yang cukup sering datang untuk berbicara dengannya.

“Aku katakan padanya bahwa ia hanya menyia-nyiakan waktu,” ujar Llyod. “Aku hanya tahu sebanyak yang ia tahu.”

Bagi Doree, itulah satu-satunya saat Llyod terdengar seperti dirinya sendiri.

Sepanjang kunjungan, hati Doree berdebar. Doree pikir, ia akan pingsan atau mati. Butuh upaya keras untuk menatap Llyod, melihatnya sebagai sosok yang begitu kurus dan abu-abu, malu-malu namun dingin, bergerak secara mekanis namun tampak tidak teratur.

Doree tidak mengatakan semua hal yang ia rasakan pada Ibu Sands. Ibu Sands bisa saja bertanya- secara bijaksana- siapa yang Doree takuti. Dirinya sendiri atau laki-laki itu? Tetapi Doree tidak takut.

Saat Sasha berusia satu setengah tahun, Barbara Ann lahir, dan ketika Barbara Ann berusia dua tahun, mereka dikaruniai Dimitri. Mereka sepakat menamai Sasha, kemudian berjanji bahwa selanjutnya Llyod akan menamai anak laki-laki sementara Doree akan menamai anak perempuan.

Dimitri menderita kolik. Doree pikir mungkin saja anak laki-lakinya itu tidak mendapatkan ASI yang cukup, atau kandungan ASI yang ia punya tidak cukup kaya akan nutrisi. Atau terlalu kaya akan nutrisi? Yang pasti ada yang tidak benar. Llyod mendatangkan seorang perempuan dari La Leche League untuk berbicara dengannya. Apapun yang kau lakukan, kata perempuan itu, jangan sampai kau memberikan susu botol kepadanya. Kau akan berada di ujung tanduk, katanya lagi, dan anakmu akan menolak ASI setelahnya. Perempuan itu berbicara seolah-olah hal tersebut adalah sebuah tragedi besar.

Perempuan itu tidak tahu bahwa Doree telah memberikan susu botol tambahan. Dan sepertinya memang benar, Dimitri lebih memilih susu botol ketimbang ASI- ia menolak sodoran payudaranya, lagi dan lagi. Pada usia tiga bulan, Dimitri sepenuhnya minum susu botolan, dan tidak mungkin Doree menyembunyikannya dari Llyod. Doree mengatakan pada Llyod bahwa ASI-nya kering sehingga ia perlu menggantinya dengan susu botol. Dengan panik Llyod meremas sepasang payudara Doree berganti-gantian, lalu meneteslah satu dua titik ASI yang terlihat menyedihkan dari sana. Llyod menyebut Doree sebagai seorang pembohong. Mereka bertengkar. Llyod berkata bahwa Doree tidak lebih dari seorang pelacur seperti ibunya.

Semua hippies adalah pelacur, ujar Llyod.

Tak lama kemudian, mereka berbaikan. Tetapi setiap kali Dimitri rewel, setiap kali Dimitri terkena demam, atau takut pada kelinci peliharaan anak tetangga, atau masih bergantung pada kursi bayi sementara dulu kakak-kakaknya sudah bisa berjalan pada usia yang sama, kegagalan Doree dalam memberikan ASI diungkit-ungkit kembali.


Pertama kali Doree pergi ke kantor Ibu Sands, seorang wanita memberinya selembar pamflet. Pada halaman depan tercetak salib keemasan dan sebaris kalimat dalam warna emas dan ungu; “Ketika Kehilangan yang Kau Alami Terasa Begitu Berat... “ Di dalamnya, terdapat gambar Yesus dengan warna-warna lembut dan barisan kalimat yang tak dibaca Doree.

Di atas kursi, tepat di hadapan meja, masih menggenggam pamflet, Doree mulai gemetar. Ibu Sands harus berjuang keras mengambil pamflet itu dari tangannya.

“Siapa yang memberimu pamflet ini?” tanya Ibu Sands.

Doree menjawab, “Wanita itu,” dan ia menyorongkan kepalanya ke arah pintu yang tertutup.

“Kau tidak menginginkannya?”

“Saat kau lemah, mereka akan menerkammu,” ujar Doree, kemudian ia menyadari ibunya pernah mengatakan hal yang sama ketika seorang wanita mengunjungi mereka di rumah sakit untuk menyampaikan pesan serupa. “Mereka pikir kau akan berlutut dan semuanya akan baik-baik saja.”

Ibu Sands menghela napas.

“Yah,” katanya. “Tentu saja tidak semudah itu.”

“Bukan tidak mudah tetapi tidak mungkin.”

“Mungkin saja tidak.”

Mereka tidak pernah membicarakan Lloyd akhir-akhir ini. Doree menahan diri untuk tidak memikirkan Llyod, seolah-olah laki-laki itu sekadar kesalahan alam yang mengerikan.

“Kalau pun aku memercayai hal-hal semacam itu,” ucap Doree- maksudnya hal-hal yang ada di dalam pamflet- “aku percaya hanya karena...” Doree bermaksud mengatakan bahwa keimanan semacam itu akan memberinya rasa nyaman hanya karena ia bisa membayangkan Llyod terbakar di neraka, atau sesuatu semacam itu, tetapi Doree tidak melanjutkan kata-katanya sebab apa yang ia pikirkan terlalu bodoh untuk dibicarakan. Juga karena ia merasakan sesuatu yang akrab menghalanginya dari bicara, rasanya seperti sebuah palu memukul-mukul perutnya.


Menurut Llyod, anak-anak mereka harus dididik di rumah. Bukan atas dasar agama- menentang dinosaurus dan manusia purba dan monyet dan segalanya itu- tetapi karena ia menginginkan anak-anak itu dekat dengan orangtua dan diperkenalkan pada dunia dengan hati-hati dan perlahan-lahan ketimbang melemparkan dunia sekaligus pada mereka. “Aku hanya berpikir bahwa mereka adalah anak-anakku,” katanya. “Maksudku, mereka adalah anak-anakku, bukan anak-anak Departemen Pendidikan.”

Doree tidak yakin ia bisa mendidik anak-anaknya di rumah, tetapi ternyata Departemen Pendidikan menyediakan panduan dan rancangan pembelajaran yang bisa diambil di sekolah terdekat. Sasha anak yang cerdas, ia belajar membaca sendiri, sementara kedua anak yang lain masih terlalu kecil untuk belajar. Di sore hari atau di akhir pekan, Llyod mengajari Sasha mengenai geografi dan sistem tata surya dan cara hibernasi hewan dan bagaimana mobil berjalan, setiap pertanyaan membawa ke pembahasan topik baru. Tak butuh waktu lama untuk Sasha melampaui rancangan pembelajaran  dari sekolah, tetapi Doree tetap menggunakannya dan menyuruh Sasha mengerjakan latihan sesuai panduan sehingga pihak yang berwenang akan merasa puas.

Di lingkungan tempat mereka tinggal, ada seorang ibu lainnya yang menjalani homeschooling. Namanya Maggie dan ia mempunyai sebuah minivan. Llyod memakai mobilnya untuk bekerja, dan Doree belum belajar cara menyetir, jadi Doree merasa senang saat Maggie menawarinya tumpangan ke sekolah seminggu sekali untuk mengembalikan soal-soal latihan yang telah dikerjakan Sasha dan mengambil yang baru. Tentu saja mereka membawa serta semua anak-anak. Maggie memiliki dua anak laki-laki. Yang sulung menderita banyak sekali alergi sehingga Maggie harus terus menerus mengawasi makanannya- itulah alasan mengapa Maggie mendidiknya di rumah. Dan yang bungsu  mengikuti jejak kakaknya belajar di rumah dan juga ia punya masalah pernapasan.

Doree membandingkan ketiga anaknya yang sehat, dan merasa bersyukur. Kata Llyod hal itu terjadi karena Doree punya anak saat usianya masih muda sementara Maggie menunda punya anak hingga menjelang masa menopause. Llyod berlebihan mengenai usia Maggie, tetapi memang benar Maggie telah menunda untuk memiliki anak. Maggie adalah seorang dokter mata. Ia dan suaminya adalah sepasang rekan kerja, dan mereka akhirnya berkeluarga setelah Maggie bisa meninggalkan pekerjaannya dan setelah mereka memiliki rumah di pinggiran kota.

Rambut Maggie berwarna kelabu, dipotong pendek sekali. Ia tinggi, dengan dada yang nyaris rata, ceria, dan berpendirian teguh. Llyod memanggilnya Lesbi. Hanya di belakang Maggie, tentu saja. Saat Maggie menelepon,  Llyod bercanda dengan Maggie di telepon tetapi berbisik tanpa suara pada Doree, “Ini si Lesbi.” Doree tidak terganggu sama sekali- Llyod memanggil banyak wanita dengan sebutan Lesbi. Tetapi ia khawatir cara Llyod bercanda akan memberi kesan terlalu berlebihan pada Maggie, sebuah gangguan, atau paling tidak menyia-nyiakan waktu Maggie.

“Oh, kau ingin berbicara dengan si Ibu. Yah, dia ada di sini. Dia sedang menggosok celana kerjaku, naik turun di atas papan penggilasan. Tahu nggak, aku cuma punya satu celana kerja. Yah, kayaknya aku telah membuatnya sibuk.”


Doree dan Maggie menjadi terbiasa berbelanja kebutuhan sehari-hari bersama, setelah mereka mengambil soal-soal latihan dari sekolah. Kadang-kadang mereka membeli kopi di Kedai Tim Horton lalu membawa anak-anak ke Taman Riverside. Mereka biasanya duduk di bangku taman sementara Sasha dan anak-anak Maggie berlarian atau bergelantungan di alat-alat panjat, dan Barbara Ann mendorong tubuhnya di atas ayunan dan Dimitri bermain di kotak pasir. Atau ketika hari terasa dingin, mereka duduk di dalam minivan. Seringnya, mereka mengobrol tentang anak-anak, menu masakan. Dari obrolan-obrolan itu, Doree mengetahui bahwa Maggie pernah berkeliling Eropa dengan berjalan kaki sebelum memulai pelatihan sebagai dokter mata dan Maggie mengetahui betapa mudanya Doree ketika ia menikah. Juga tentang betapa mudahnya Doree hamil untuk kali yang pertama, lalu kehamilan yang selanjutnya menjadi sulit, lalu Llyod menjadi curiga, sehingga laki-laki itu mengobrak-abrik laci lemari pakaiannya untuk mencari pil KB- sebab ia berpikir Doree telah dengan licik meminumnya.

“Kau meminum pil KB?” tanya Maggie.

Doree terkejut. Ia tak akan berani berbuat seperti itu, katanya.

“Maksudku, minum pil KB tanpa sepengetahuan Llyod bukan hal yang baik, kan? Llyod cuma bercanda kok sewaktu mencari pil itu.”

“Oh,” ucap Maggie.

Lalu Maggie bertanya, “Apakah semuanya baik-baik saja? Maksudku pernikahanmu? Apakah kau bahagia?”

Doree menjawab iya, tanpa ragu-ragu. Sejak saat itu, Doree lebih berhati-hati dengan ucapannya. Ada hal-hal yang menurutnya biasa-biasa saja namun mungkin orang lain tidak menganggapnya seperti itu. Llyod punya caranya sendiri dalam memandang sesuatu; memang ia seperti itu. Bahkan ketika Doree bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya, di rumah sakit, ia sudah seperti itu. Kepala Perawat yang kaku dipanggilnya dengan Ibu Jalang-dari-neraka, alih-alih namanya Ibu Janera. Llyod mengucapkan panggilan yang diberikannya itu dengan begitu cepat, tak ada yang menyadari ia telah mengubah nama Kepala Perawat. Llyod bilang, Ibu Janera pilih kasih, dan ia tidak termasuk dalam pilihan. Lalu ada seseorang, laki-laki, dari pabrik es krim yang dibenci Llyod, ia memanggilnya dengan nama Sedot-batang Louie. Doree tidak tahu nama yang sebenarnya. Tetapi paling tidak hal itu membuktikan bahwa bukan hanya wanita yang Llyod benci.

Doree yakin, orang-orang yang dibenci Llyod tidaklah seburuk itu, tetapi tidak ada gunanya berdebat dengan laki-laki itu. Mungkin laki-laki harus memiliki musuh seperti mereka harus memiliki lelucon. Dan terkadang Llyod memang menjadikan musuk-musuhnya sebagai lelucon, seolah-olah ia sedang menertawakan dirinya sendiri. Doree bahkan diijinkan untuk tertawa bersama Llyod selama bukan Doree yang memulai lelucon.

Doree berharap Llyod tidak akan membenci Maggie. Kadang-kadang Doree melihat kemungkinan Llyod membenci Maggie. Akan sangat tidak nyaman jika Llyod melarang Doree untuk menumpang Maggie ke sekolah dan toko kelontong. Tetapi yang lebih buruk lagi, Doree akan merasa malu. Doree harus mengarang kebohongan yang bodoh. Namun Maggie pasti tahu- paling tidak ia pasti tahu bahwa Doree telah berbohong, dan ia akan menduga-duga bahwa Doree tengah berada dalam situasi yang sulit meski sebenarnya tidak begitu. Maggie punya caranya sendiri dalam memandang sesuatu.

Lalu Doree bertanya-tanya pada dirinya sendiri, buat apa ia begitu peduli dengan apa yang mungkin Maggie pikirkan. Maggie adalah orang luar, bahkan sebenarnya Doree tidak terlalu nyaman bersamanya. Yang terpenting adalah Llyod dan Doree dan keluarga mereka. Llyod berkata begitu, dan ia benar. Jalinan di antara mereka bukanlah hal yang bisa dimengerti oleh orang lain, dan bukan pula urusan orang lain. Asal Doree bisa menjaga kesetiaannya, semuanya akan baik-baik saja.


Perlahan-lahan, situasi semakin memburuk. Llyod tidak lagi melarang secara tegas tetapi mengkritiknya. Menurut Llyod alergi dan asma yang diderita oleh anak-anak Maggie adalah kesalahan Maggie. Kata Llyod, seringkali yang menjadi penyebab adalah ibunya. Llyod menyaksikan hal-hal semacam itu di rumah sakit. Ibu yang terlalu mengatur biasanya adalah ibu yang berpendidikan.

“Ada anak yang memang terlahir dengan kelemahan,” ujar Doree dengan sembrono. “Kau tidak bisa menyalahkan ibunya terus.”

“Oh. Kenapa aku tidak bisa melakukannya?”

“Maksudku bukan kau. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kau tidak bisa melakukannya. Maksudku mungkin saja ada anak yang lahir—“

“Sejak kapan kau menjadi ahli medis?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tidak. Dan memang kau bukan ahli medis.”

Segalanya memburuk. Llyod ingin tahu isi obrolan mereka, Doree dan Maggie.

“Aku tidak tahu. Tidak ada, sungguh.”

“Lucu sekali. Dua wanita dalam satu mobil. Baru pertama kali aku dengar. Dua wanita mengobrol mengenai ‘tidak ada’. Dia akan memisahkan kita.”

“Siapa? Maggie?”

“Aku punya pengalaman dengan wanita-wanita semacam dia.”

“Wanita macam apa?”

“Macam dia.”

“Jangan bodoh, ah.”

“Hati-hati. Jangan panggil aku bodoh.”

“Kenapa dia mau memisahkan kita?”

“Mana aku tahu? Pokoknya, dia cuma ingin memisahkan kita. Tunggu saja. Kau akan tahu. Dia akan membuatmu menangis dan merengek sambil menceritakan betapa bajingannya aku.”


Apa yang dikatakan Llyod menjadi kenyataan. Paling tidak Llyod akan menganggapnya seperti itu. Doree memang berada di dapur Maggie sekitar pukul sepuluh malam, tersedu-sedu sembari meminum teh herbal. Suami Maggie berteriak, “Apa-apaan, sih?” ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya- Doree yang telah mengetuk pintu rumahnya. Suami Maggie tak mengenalinya. Doree berkata, “Aku minta maaf telah mengganggumu.” Suami Maggie menatapnya dengan alis yang terangkat tinggi dan mulut terkunci. Lalu Maggie datang.

Doree telah melalui sepanjang perjalanan menuju rumah Maggie dalam kegelapan, keluar dari rumah ia melewati jalan berkerikil, lalu jalan raya. Ia bersembunyi di parit setiap kali ada mobil yang melintas, dan hal itu memperlambat perjalanannya. Ia memperhatikan baik-baik, bertanya-tanya apakah Llyod berada di dalam salah satu dari mobil-mobil itu. Ia tidak ingin Llyod menemukannya, jangan dulu, tidak sebelum laki-laki itu keluar dari kegilaannya. Suatu ketika Doree berhasil menakut-nakuti Llyod dengan cara meratap dan melolong dan bahkan membentur-benturkan kepalanya ke lantai seraya merapal kata-kata, “Itu tidak benar, itu tidak benar, itu tidak benar,” terus menerus. Akhirnya Llyod mundur. Laki-laki itu berkata, “Baik. Baik. Aku percaya padamu. Sayang, diamlah. Pikirkan anak-anak. Aku percaya padamu. Berhentilah.”

Tetapi malam ini Doree berhasil mengendalikan dirinya tepat sebelum ia menunjukkan perilaku gilanya. Doree memakai mantel dan berjalan keluar pintu. Llyod berseru, “Jangan lakukan ini. Aku peringatkan kau!”

Suami Maggie sudah tidur, tampak tidak terhibur sama sekali saat Doree terus menerus berkata, “Aku minta maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf, telah mengganggumu pada malam selarut ini.”

“Diamlah,” ujar Maggie dengan lugas. “Kau mau segelas anggur?”

“Aku tidak minum.”

“Lebih baik begitu. Aku buatkan teh, ya. Rasanya menenangkan. Rasberi-kamomil. Ini bukan tentang anak-anak, ya kan?”

“Bukan.”

Maggie mengambil mantel Doree dan menyerahkan Kleenex padanya. “Jangan beritahu aku. Buatlah dirimu nyaman dulu.”

Bahkan ketika Doree hampir tenang, ia tidak menyemburkan kisahnya dengan membabi buta, ia membiarkan Maggie mengambil kesimpulan sendiri mengenai masalah yang tengah dihadapinya. Lebih jauh lagi, Doree tidak ingin bercerita tentang Llyod. Tidak peduli betapa lelahnya Doree menghadapi Llyod, laki-laki itu tetaplah sosok yang paling dekat dengannya, dan ia merasa bahwa segalanya akan hancur jika ia memberitahu seseorang mengenai Llyod dengan sejujurnya, semuanya akan hancur jika ia benar-benar mengkhianati laki-laki itu.

Doree berkata, ia dan Llyod terlibat percekcokan biasa, ia merasa begitu lelah, satu-satunya hal yang ia inginkan adalah menyudahinya. Tetapi ia akan mengatasinya, kata Doree. Mereka- ia dan Llyod akan mengatasinya.

“Hal yang biasa terjadi pada pasangan,” ujar Maggie.

Lalu telepon berbunyi, Maggie mengangkatnya.

“Ya. Dia baik-baik saja. Dia cuma ingin keluar untuk mencari udara segar. Baik. Baiklah, aku akan mengantarnya pulang besok pagi. Tidak masalah. Baik. Selamat malam.”

“Itu Llyod,” ujar Maggie. “Kau dengar, kan?”

“Apa dia terdengar normal?”

Maggie tertawa. “Aku tidak tahu bagaimana dia terdengar saat ia normal atau tidak, ya kan? Dia tidak terdengar mabuk.”

“Dia tidak minum juga. Kami bahkan tidak punya persediaan kopi di rumah.”

“Kau mau roti panggang?”


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Maggie mengantar Doree pulang. Suami Maggie belum berangkat kerja, menjaga anak-anak di rumah.

Maggie terburu-buru, ia hanya berkata, “Da-dah. Telepon aku kalau kau ingin teman bicara,” sembari membelokkan minivan yang ia kendarai keluar dari pekarangan.

Pagi yang dingin pada awal musim semi, jejak-jejak salju diam di atas tanah, tetapi Llyod duduk di anak tangga tanpa memakai jaket.

“Selamat pagi,” sapa Llyod, dalam suara keras yang sinis. Doree membalas sapaannya, dalam suara yang seolah tak tahu apa-apa.

Llyod tetap duduk di tempatnya, tak membiarkan Doree naik melewati tangga.

“Kau tidak boleh masuk,” kata Llyod.

Doree memutuskan untuk bersikap biasa-biasa saja.

“Bagaimana kalau aku memohon. Aku mohon.”

Llyod tidak menjawab, ia hanya menatap Doree. Laki-laki itu tersenyum dengan kedua belah bibir terkatup rapat.

“Llyod?” ujar Doree. “Llyod?”

“Sebaiknya kau tidak masuk ke dalam.”

“Aku tidak bercerita apa-apa pada Maggie, Llyod. Aku minta maaf telah keluar dari rumah. Aku hanya butuh udara segar.”

“Jangan masuk.”

“Ada apa denganmu? Mana anak-anak?”

Llyod menggelengkan kepalanya, seperti yang biasa ia lakukan tiap ia mendengar Doree mengatakan sesuatu yang menurutnya tidak pantas. Sesuatu yang agak kasar, seperti “sialan.”

Llyod. Mana anak-anak?”

Llyod bergeser sedikit sehingga Doree bisa masuk ke dalam jika ia mau.

Dimitri masih berada di atas tempat tidur, berbaring menyamping. Barbara Ann tergeletak di atas lantai, tepat di sebelah tempat tidurnya, seolah-olah ia berusaha keluar atau justru ditarik keluar. Sasha ada di depan pintu dapur- ia mencoba melarikan diri. Hanya Sasha yang memiliki luka memar di lehernya. Bantal untuk Dimitri dan Barbara Ann.

“Waktu aku meneleponmu tadi malam,” kata Llyod. “Waktu aku menelepon, semuanya telah terjadi.”

“Ini semua gara-gara kau,” katanya lagi.


Vonis yang dijatuhkan adalah Llyod gila, ia tidak bisa diadili. Ia gila- ia harus dikirim ke rumah sakit jiwa.

Doree berlari keluar rumah, terhuyung-huyung di pekarangan, memeluk erat-erat perutnya dengan kedua tangan, seolah-olah ia telah ditebas hingga terbelah dua dan ia berusaha untuk menyatukan dirinya. Pemandangan ini yang Maggie lihat saat ia kembali. Maggie mendapat firasat, dan ia berbalik arah. Awalnya Maggie mengira Doree telah dipukul atau ditendang oleh suaminya. Ia tak bisa menyimpulkan dari keributan yang ditimbulkan Doree. Tetapi Llyod, masih duduk di atas anak tangga, bergeser dengan sopan untuk Maggie, tanpa kata-kata. Maggie masuk ke dalam rumah dan menemukan segalanya. Ia menghubungi polisi.

Untuk beberapa waktu lamanya, Doree terus menerus memakan apa saja yang bisa masuk ke dalam mulutnya. Setelah kotoran dan rumput lalu lembaran kain atau handuk atau pakaiannya sendiri. Seolah-olah ia sedang berusaha melumpuhkan bukan saja sesuatu yang menderu-deru di dalam dadanya tetapi juga ingatan dalam kepalanya. Doree disuntik secara teratur untuk menenangkannya, dan berhasil. Malah, ia menjadi begitu diam, meskipun tidak katatonik. Kabarnya, ia telah stabil. Setelah Doree keluar dari rumah sakit dan pekerja sosial membawanya ke tempat baru, Ibu Sands mengambil alih, mencarikan tempat tinggal juga pekerjaan, membuatkan jadwal rutin untuk berbicara dengannya setiap seminggu sekali. Kadang, Maggie datang berkunjung tetapi Doree tidak sanggup menemuinya. Ibu Sands bilang perasaan itu wajar- Doree mengasosiasikan Maggie dengan kejadian itu. Ibu Sands bilang Maggie bisa memahaminya.


Ibu Sands menyerahkan keputusan pada Doree mengenai apakah ia akan tetap mengunjungi Llyod atau tidak. “Aku tidak bisa melarang atau memerintahkanmu untuk melakukan sesuatu, kau tahu, kan. Bagaimana perasaanmu setelah bertemu dengannya? Baik atau buruk?”

“Aku tidak tahu.”

Doree tidak bisa menjelaskan bahwa baginya bukan Llyod yang ia kunjungi. Seperti mengunjungi hantu. Begitu pucat. Pakaian usang yang terlalu besar, sepasang sepatu yang tak menimbulkan suara- mungkin sendal- di kakinya. Llyod kehilangan sebagian rambutnya, begitu yang Doree lihat. Rambut tebal dan bergelombang, dengan warna madu. Llyod seperti tak bernapas, tak ada gerakan turun naik pada bahunya, bahu yang dulu menjadi tempat bersandar Doree.

Apa yang dikatakan Llyod setelah kejadian itu kepada polisi- dan dikutip di surat kabar- adalah “Aku melakukannya untuk menyelamatkan mereka dari penderitaan.”

Penderitaan apa?

“Penderitaan karena tahu bahwa ibu mereka telah pergi meninggalkan mereka,” katanya.

Kalimat itu membakar otak Doree dan mungkin ia memutuskan untuk datang menemui Llyod agar laki-laki itu menarik kembali kata-katanya. Memaksanya untuk menyadari, dan mengakui, bagaimana kejadian yang sesungguhnya.

“Kau bilang berhenti membantah atau keluar dari rumah. Jadi aku keluar dari rumah.”

“Aku hanya semalam di rumah Maggie. Aku bermaksud untuk pulang. Aku tidak pergi meninggalkan siapa-siapa.”

Doree ingat benar awal mula pertengkaran mereka. Doree membeli spageti kalengan yang sedikit penyok. Supermarket menjualnya setengah harga dan Doree membelinya dan merasa senang ia telah berhemat. Doree pikir ia telah melakukan sesuatu yang cerdas. Tetapi Doree tidak memberitahu Llyod saat laki-laki itu bertanya pada Doree tentang kaleng spageti yang penyok. Karena satu dan lain hal, Doree pikir lebih baik ia berpura-pura tidak menyadarinya.

Semua orang akan menyadarinya, kata Llyod. Kita bisa saja keracunan. Ada apa denganmu? Atau memang itu yang kau rencanakan? Kau memang berencana untuk meracuni suami dan anak-anakmu?

Doree meminta Llyod untuk tidak bersikap gila.

Llyod membalasnya dengan berkata bahwa bukan ia yang gila. Hanya wanita gila yang membeli racun untuk keluarganya sendiri.

Anak-anak menyaksikan pertengkaran mereka melalui pintu di ruang depan. Itulah kali terakhir Doree melihat mereka.


Jadi Doree berpikir bahwa akhirnya Llyod bisa melihat siapa yang sebenarnya gila di antara mereka.

Saat Doree menyadari keinginan-keinginan di dalam kepalanya, ia telah turun dari bus. Ia mungkin telah sampai di gerbang, dengan beberapa wanita lain yang telah bersusah payah melewati perjalanan panjang bersamanya. Mungkin ia telah menyeberangi jalan dan menunggu bus yang akan membawanya kembali ke kota. Mungkin ada orang yang memang melakukan itu. Mereka bermaksud untuk berkunjung lalu mengurungkan niatnya. Mungkin saja orang-orang melakukan hal semacam itu sepanjang waktu.

Tapi mungkin lebih baik jika Doree meneruskan niatnya, dan bertemu dengan laki-laki itu, asing dan terbuang. Bukan seseorang yang pantas untuk disalahkan. Bukan orang, ia bukanlah seseorang. Laki-laki itu lebih mirip tokoh dalam sebuah mimpi.

Doree bermimpi. Dalam salah satu mimpinya, ia berlari keluar rumah setelah menemukan anak-anaknya, dan Llyod mulai tertawa ringan, dan ia mendengar Sasha tertawa di belakangnya dan ia tersadar, dengan senang hati, keluarganya, mereka semua telah mempermainkan Doree.


“Kau bertanya tentang perasaanku saat aku bertemu dengannya, apakah aku merasa baik atau buruk? Terakhir kali kita bertemu, kau menanyakan itu?”

“Iya, benar,” jawab Ibu Sands.

“Pertanyaan itu membuatku berpikir.”

“Ya.”

“Aku memutuskan bahwa bertemu dengannya membuatku merasa buruk. Jadi aku belum pernah berkunjung lagi.”

Sungguh berat mengatakan hal itu kepada Ibu Sands, tetapi anggukan yang ia berikan kepada Doree semacam menandakan bahwa Ibu Sands puas atau setuju pada perkataannya.

Maka saat Doree memutuskan untuk kembali mengunjungi Llyod, ia pikir lebih baik tak perlu mengungkitnya pada Ibu Sands. Dan karena sulit untuk tidak menceritakan apa saja yang tengah terjadi dalam kehidupannya- sebab hanya sedikit saja yang terjadi dalam kehidupannya- Doree menelepon dan membatalkan pertemuan. Doree beralasan ia akan pergi berlibur. Hampir musim panas, waktunya berlibur. Dengan seorang teman, ujar Doree.


“Kau tidak mengenakan jaket seperti minggu lalu.”

“Bukan minggu lalu.”

“Oh, ya?”

“Tiga minggu yang lalu. Sekarang cuaca terasa panas. Lebih enak begini. Tak perlu jaket sama sekali.”

Llyod menanyakan tentang perjalanannya, bus apa yang ia tumpangi dari Mildmay.

Doree mengatakan bahwa ia tidak tinggal di sana lagi. Ia memberitahu Llyod tempat tinggalnya sekarang, dan tentang tiga bus yang ia tumpangi selama perjalanan.

“Perjalanan yang cukup panjang, ya. Apa kau suka tinggal di kota yang lebih besar?”

“Lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan di sana.”

“Jadi kau bekerja?”

Doree telah menceritakan semua ini kepada Llyod terakhir kali mereka bertemu, tentang tempat tinggalnya, bus-bus yang ia tumpangi sepanjang perjalanan, tentang pekerjaannya.

“Aku membersihkan kamar di sebuah motel,” kata Doree. “Aku sudah bilang padamu.”

“Ya. Ya. Aku lupa. Maaf. Apa kau pernah berpikir untuk kembali ke sekolah? Sekolah malam?”

Doree menjawab bahwa ia pernah memikirkannya, hanya memikirkannya tanpa ada tindakan apapun. Doree berkata ia tidak keberatan dengan pekerjaan yang sekarang.

Lalu seolah-olah mereka kehilangan kata-kata, tak ada lagi yang berbicara.

Llyod menghela napas. Katanya, “Maaf. Maaf. Aku tak biasa mengobrol seperti ini.”

“Jadi apa yang biasa kau lakukan?”

“Kadang aku membaca buku. Semacam meditasi. Semacam itulah.”

“Oh.”

“Aku menghargai kedatanganmu. Sungguh berarti untukku. Tetapi jangan berpikir bahwa kau harus melakukannya terus menerus. Maksudku, kalau kau sedang ingin datang saja. Datang saja kalau kau ingin. Kalau kau berhalangan, atau kau sedang tak ingin datang- Maksudku, kau datang, bahkan kalau kau hanya datang sekali, benar-benar keberuntungan bagiku. Kau mengerti maksudku?”

Doree menjawab iya. Doree pikir ia mengerti.

Llyod berkata ia tak ingin menjadi penghalang dalam kehidupan Doree.

“Tidak, kau tidak menjadi penghalang,” kata Doree.

“Benarkah begitu? Aku pikir kau akan mengatakan hal lain.”

Sebenarnya Doree hampir saja berkata, Kehidupan apa?

Tidak, kata Doree, tidak ada, tidak ada hal yang lain.

“Bagus.”


Tiga minggu berikutnya, Doree mendapat telepon. Dari Ibu Sands sendiri, bukan dari salah satu wanita di kantor.

“Oh, Doree. Aku pikir kau belum pulang. Dari liburanmu. Jadi kau sudah pulang?”

“Ya,” ujar Doree, berusaha untuk mengingat-ingat apakah ia telah mengatakan tujuan 
liburannya kepada Ibu Sands.

“Tetapi kau belum mengatur jadwal pertemuan lagi?”

“Belum. Belum sempat.”

“Baiklah. Aku cuma ingin tahu kabarmu. Apa kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.”

“Bagus. Bagus. Kalau kau membutuhkan aku, kau tahu di mana bisa menemukanku. Bahkan kalau kau sekedar ingin teman bicara.”

“Iya.”

“Jaga dirimu baik-baik, ya.”

Doree tidak menyinggung Llyod, tidak mengatakan bahwa ia kembali mengunjungi laki-laki itu. Memang, Doree telah menyatakan untuk berhenti berkunjung. Tetapi biasanya Ibu Sands bisa menebak mengenai hal-hal yang ia sembunyikan. Ibu Sands juga cukup pandai menahan diri untuk tidak menanyakan hal-hal yang mungkin bisa mengganggu Doree. Sebenarnya, Doree tidak tahu harus menjawab apa, jika ia ditanya- apakah Doree akan berbohong atau mengatakan yang sejujurnya. Sebenarnya, Doree kembali ke sana minggu berikutnya setelah Llyod kurang lebih berkata bahwa tidak masalah jika Doree datang atau tidak.

Llyod terserang demam. Llyod tak tahu bagaimana ia bisa terserang demam.

Mungkin ia sudah terkena demam, kata Llyod, saat terakhir kali mereka bertemu, maka dari itu ia tampak murung.

Murung. Akhir-akhir ini, Doree jarang berhubungan dengan orang yang murung atau bahkan yang menggunakan kata murung pada percakapan sehari-hari, dan kedengarannya asing bagi Doree. Tetapi Llyod punya kebiasaan menggunakan kata-kata semacam itu, dan tentu saja Doree terbiasa dengan kata-kata semacam itu dulu, tetapi sekarang kata-kata semacam itu menyentaknya.

“Apa aku tampak seperti sosok yang berbeda bagimu?” tanya Llyod.

“Ya, kau nampak berbeda,” Doree menjawab dengan hati-hati. “Memangnya aku tidak?”

“Kau tampak cantik,” ucap Llyod dengan sedih.

Sesuatu di dalam dirinya melemah, tetapi Doree melawannya.

“Apa kau merasa berbeda?” tanya Llyod. “Apa kau merasa seperti orang yang berbeda?”

Doree menjawab ia tidak tahu. “Apa kau merasa begitu?

Llyod berkata, “Berbeda sepenuhnya.”


Beberapa hari kemudian Doree menerima kiriman sebuah amplop besar di tempat kerjanya. Di atas amplop itu tertulis alamat motel. Amplop itu berisi beberapa lembar surat, dengan tulisan tangan di kedua sisi kertas. Awalnya, Doree tak mengira surat-surat itu berasal dari Llyod- entah mengapa Doree pikir tahanan penjara tak diperbolehkan menulis surat. Tetapi, tentu saja, Llyod bukanlah tahanan biasa, ia berbeda. Llyod bukan penjahat. Ia hanya gila.

Tidak ada tanggal atau bahkan sekedar “Doree yang kusayang.” Surat itu dimulai dengan semacam penggalan dari undangan keagamaan.
                                                                                                                                                       Orang-orang mencari jalan keluar. Jiwa mereka lelah (dari mencari). Banyak hal yang mendesak dan menyakiti mereka. Kau bisa melihat luka dan rasa sakit di wajah-wajah mereka. Mereka bermasalah. Mereka terburu-buru. Mereka harus pergi ke toko dan ke binatu dan memotong rambut dan bekerja dan mengambil santunan. Yang miskin harus melakukan itu semua sementara yang kaya mencari cara terbaik untuk menghabiskan uang mereka. Hal semacam itu termasuk pekerjaan juga. Mereka harus membangun rumah terbaik dengan keran dari emas untuk air panas dan air dingin. Dan mobil Audi dan sikat gigi ajaib dan segala peralatan aneh lalu alarm untuk melindungi mereka dari perampok yang mungkin akan membantai mereka dan tetang tak ada yang mendapatkan kedamaian di dalam jiwa, baik yang kaya maupun yang miskin. Aku hampir menulis “tetangga” padahal maksudku “tak ada”, kenapa, ya? Aku tak punya tetangga di sini. Di tempatku berada sekarang, paling tidak orang-orang tak lagi kebingungan. Mereka tahu harta benda yang mereka miliki dan akan selalu mereka miliki dan mereka bahkan tak perlu lagi membeli atau memasak makanan. Atau memilih makanan. Pilihan dibatasi.
Yang kami dapatkan di sini adalah, satu-satunya yang kami dapatkan adalah kami terbebas dari pikiran kami sendiri.
Pada mulanya hanya kegelisahan memenuhi kepalaku. Ada semacam badai yang tak berkesudahan, dan aku menghantam kepalaku ke tembok semen dengan harapan badai di kepalaku akan pergi. Menghentikan penderitaanku dan hidupku sekalian. Karena itu aku dijatuhi hukuman. Aku disemprot dan diikat dan diberi obat. Aku tak mengeluh sebab aku tahu tak ada untungnya. Tak ada bedanya juga dengan apa disebut dunia nyata, di sana orang-orang mabuk dan melanjutkan hidup dan melakukan kejahatan untuk mengurangi pikiran-pikiran menyakitkan di dalam kepala meraka. Dan seringkali mereka diseret dan dipenjara tetapi tidak cukup lama, mereka tak sempat keluar dari sisi yang berbeda. Sisi yang berbeda, apakah itu? Ada dua hal pada sisi yang berbeda itu: kegilaan ataukah kedamaian total.
Damai. Aku merasakan kedamaian dan aku masih waras. Aku membayangkan seraya membaca ini kau berpikir aku akan mengatakan sesuatu tentang Tuhan Yesus atau bahkan Buddha seolah-olah aku telah mengalami pertobatan. Tidak. Aku tidak menutup kedua mataku dan merasakan Yang Maha Kuasa mengangkatku. Aku sebenarnya tak mengerti maksud dari semua itu. Yang kutahu sekarang Aku Mengenal Diriku Sendiri. Mengenal Dirimu Sendiri adalah semacam Perintah dari sesuatu, mungkin saja Alkitab jadi kalau begitu aku adalah pengikut agama Kristen. Juga, Bagimu Dirimu Sendiri Adalah Kebenaran- aku berusaha mencari tahu apakah bagian ini termasuk di dalam Alkitab juga. Perintah ini tak mengatakan kebenaran yang mana- yang baik atau yang buruk- jadi perintah ini tak dimaksudkan sebagai tuntunan moral. Juga Mengenal Dirimu Sendiri tidak terkait dengan moral seperti yang kita tahu di Perilaku. Tetapi Perilaku bukanlah yang menjadi perhatianku sebab aku telah dinilai sebagai seseorang yang tak dapat dipercaya penilaiannya tentang bagaimana seharusnya aku berperilaku dan itulah sebabnya aku berada di sini.
Kembali ke bagian Mengenal pada Mengenal Dirimu Sendiri. Aku yakin sepenuhnya dan sesadarnya bahwa aku mengenal diriku sendiri dan aku tahu hal-hal paling buruk yang bisa kulakukan dan aku tahu aku telah melakukannya. Dunia menghakimiku sebagai Monster dan aku tidak keberatan dengan itu, meski orang-orang yang membakar atau menghujani kota dengan bom atau membiarkan kelaparan melanda atau membunuh ratusan bahkan ribuan orang seringkali tidak dianggap sebagai Monster malahan dihujani dengan medali dan penghargaan, hanya tindakan yang berimbas pada sedikit orang yang dianggap jahat.
Apa yang Aku Kenali dari Diriku Sendiri adalah iblis di dalam diriku. Itulah rahasia rasa nyaman yang kurasakan. Maksudku aku tahu keburukan yang paling buruk dari diriku. Mungkin lebih buruk dari keburukan paling buruk milik orang lain tetapi pada kenyataannya aku tak perlu memikirkan atau mengkhawatirkan tentang hal itu. Tak ada alasan. Aku merasa damai. Apakah aku seorang Monster? Dunia berkata begitu dan jika Dunia berkata begitu maka aku setuju. Tetapi yang perlu kukatakan, Dunia tak memiliki makna apa-apa bagiku. Aku adalah Diriku Sendiri dan aku tak memiliki kesempatan untuk menjadi Orang Lain. Aku bisa bilang bahwa aku gila tetapi apakah artinya? Gila. Waras. Aku adalah aku. Aku tak dapat mengubah diriku yang dulu dan aku tak dapat mengubah diriku yang sekarang.
Doree, jika kau telah membaca sejauh ini, ada satu hal penting yang harus aku sampaikan padamu tetapi aku tak dapat menuliskannya. Jika suatu hari nanti kau kembali mengunjungiku mungkin aku dapat mengatakannya padamu. Jangan pikir aku tak punya hati. Bukan berarti aku tak ingin mengubah apa yang telah terjadi jika aku bisa tetapi aku tak bisa.
Aku mengirimkan surat ini ke tempatmu bekerja. Aku ingat tempatmu bekerja juga kota tempatmu tinggal, jadi otakku bekerja dengan cukup baik.


Doree pikir ia dan Lloyd bisa membicarakan tentang surat itu pada pertemuan berikutnya dan ia membaca ulang surat tersebut beberapa kali tetapi ia tidak dapat menemukan kata-kata apapun. Apa yang ingin Doree bicarakan adalah hal yang tak dapat Llyod tulis. Tetapi saat Doree menemui Llyod, laki-laki itu bersikap seolah-olah ia tak pernah menulis surat apapun. Doree mencari-cari bahan obrolan, ia menceritakan tentang penyanyi folk terkenal yang menginap di motel tempatnya bekerja. Llyod tahu lebih banyak tentang penyanyi terkenal itu ketimbang Doree.  Ternyata Llyod memiliki televisi, atau paling tidak akses ke televisi, dan menonton program televisi, dan tentu saja program berita secara rutin. Mereka punya bahan obrolan untuk sementara waktu, tetapi Doree tak dapat menahan diri.

“Hal apa yang ingin kau sampaikan padaku tetapi tidak dapat kau tuliskan di suratmu?”

Llyod berkata seharusnya Doree tak menanyakannya. Llyod tak yakin mereka sudah siap untuk membicarakannya.

Lalu Doree merasa takut bahwa mungkin saja ia tak dapat menanggung beban dari apapun hal yang ingin disampaikan oleh Llyod, sesuatu yang sungguh berat, seperti mungkin saja Llyod masih mencintai dirinya. “Cinta” adalah kata yang tak ingin Doree dengar.

“Baiklah,” kata Doree. “Mungkin kita memang belum siap.”

Lalu Doree berkata, “Tetap saja, kau sebaiknya mengatakannya padaku. Jika aku keluar dari tempat ini lalu tertabrak mobil, aku tak akan pernah tahu, dan kau tak akan punya kesempatan lain untuk mengatakannya padaku.”

“Benar,” jawab Llyod.

“Jadi apa?”

“Lain kali. Lain kali. Kadang aku tak sanggup untuk berbicara lagi. Aku ingin bicara tetapi aku seolah kehilangan kata-kata.”

Aku memikirkanmu Doree semenjak kau pergi dan aku menyesal telah mengecewakanmu. Saat kau duduk di hadapanku aku cenderung menjadi lebih emosional dan mungkin kau dapat melihatnya. Aku tak berhak menjadi emosional di hadapanmu, kau lebih berhak daripada aku dan kau selalu tampak dapat menahan diri. Jadi aku menarik ucapanku kembali karena aku telah menyimpulkan bahwa lebih baik aku menuliskannya ketimbang membicarakannya langsung padamu.
Jadi dari mana sebaiknya aku memulainya?
Surga benar-benar ada.
Rasanya tidak benar sebab aku tak pernah percaya Surga dan Neraka, dll. Sejauh yang aku tahu, semuanya itu tak lebih dari sekumpulan omong kosong. Jadi pasti agak aneh bagimu bahwa aku membicarakan hal-hal semacam ini sekarang.
Aku katakan saja: Aku telah bertemu anak-anak.
Aku telah bertemu dengan mereka dan berbicara dengan mereka.
Begitulah. Apa yang kau pikirkan sekarang? Kau berpikir, yah, sekarang Llyod benar-benar gila. Atau, itu hanyalah mimpi dan Llyod tak dapat membedakan impian dan kenyataan. Tetapi biar kukatakan padamu, aku tahu bedanya, dan aku tahu mereka ada. Aku katakan bahwa mereka ada bukan mereka hidup, sebab hidup artinya mereka berada di Dimensi kita, dan aku tak mengatakan bahwa mereka berada di Dimensi kita. Sebenarnya kupikir mereka tidak berada di Dimensi kita. Tetapi mereka ada dan itu artinya ada Dimensi lain atau bahkan tak terhitung banyaknya, tetapi yang aku tahu aku dapat memasuki Dimensi mereka. Mungkin saja ini semua terjadi akibat aku terus menerus sendiri dan berulang kali berpikir dan berpikir mengenai hal-hal yang harus kupikirkan. Sehingga setelah segala penderitaan dan kesendirian, Yang Maha Agung akhirnya memberiku anugerah ini. Aku adalah orang yang paling tak mungkin mendapatkan anugerah dari Yang Maha Agung, paling tidak begitulah menurut orang-orang pada umumnya,
Jika kau terus membaca surat ini dan tidak merobek-robeknya, kau pasti ingin mengetahui sesuatu. Misalnya saja bagaimana kabar mereka. Mereka baik-baik saja. Sangat bahagia dan pintar. Sepertinya mereka tak punya kenangan tentang satu pun hal buruk. Sepertinya mereka telah tumbuh lebih besar tetapi aku tak yakin. Mereka tampak lebih pintar. Iya. Dimitri bisa berbicara sekarang. Mereka berada di sebuah ruangan yang samar-samar kukenali. Seperti rumah kita tetapi lebih lega dan lebih bagus. Aku bertanya siapa yang menjaga mereka dan mereka tertawa dan berkata bahwa mereka mampu menjaga diri mereka sendiri. Sepertinya Sasha yang berkata begitu. Kadang mereka berbicara sekaligus seolah-olah mereka bicara dalam satu suara atau mungkin aku yang tak bisa membedakannya tetapi mereka terlihat bahagia.
Tolong jangan menyimpulkan bahwa aku gila. Itulah yang aku takutkan sehingga aku tak ingin menceritakan ini semua padamu. Aku pernah gila tetapi percayalah aku telah melepaskan segala kegilaan itu seperti seekor beruang melepaskan bulunya. Atau mungkin seharusnya aku mengatakan seperti seekor ular melepaskan kulitnya. Aku tahu jika aku tak melepaskan kegilaanku maka tak mungkin aku menemui jalan untuk berjumpa dengan Sasha dan Barbara Ann dan Dimitri. Sekarang aku harap kau pun akan dianugerahi kesempatan seperti aku sebab kau lebih pantas mendapatkannya dibandingkan aku. Mungkin jauh lebih sulit bagimu sebab kau masih tinggal di dunia yang hingar bingar itu tetapi setidaknya aku telah memberitahumu ini semua- Kebenaran- dan kuharap aku dapat meringkan beban di hatimu sedikit saja dengan mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan mereka.

Doree bertanya-tanya apa yang akan Ibu Sands katakan atau pikirkan jika ia membaca surat ini. Ibu Sands akan berhati-hati, tentu saja. Ia tidak akan dengan serta merta menyatakan bahwa Llyod gila tetapi ia akan dengan hati-hati mengarahkan Doree pada kesimpulan semacam itu. Atau bisa dibilang ia tidak akan mengarahkan- ia hanya akan membuang segala kebingungan sehingga Doree dapat mengambil kesimpulan yang sebenarnya telah diyakininya sejak semula. Doree harus melenyapkan segala omong kosong berbahaya- istilah yang digunakan Ibu Sands- dari pikirannya.  

Oleh sebab itu, Doree tidak akan mendatangi Ibu Sands.

Memang Doree berpikir bahwa Llyod gila. Dan apa yang Llyod tulis dalam suratnya nampak seperti sisa-sisa bualan lamanya. Doree tak membalas surat Llyod. Hari berlalu. Lalu minggu. Doree tak mengubah pendapatnya tetapi ia berpegang pada apa yang telah ditulis Llyod, seperti sebuah rahasia. Dan dari waktu ke waktu, saat Doree tengah menyeka cermin di kamar mandi atau membenahi seprai, semacam perasaan yang janggal datang padanya. 

Selama hampir dua tahun, Doree tak pernah menaruh perhatian pada hal-hal kecil yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang pada umumnya, misalnya cuaca cerah atau bunga yang mekar atau aroma toko roti. Memang, Doree masih tidak dapat merasakan kebahagiaan, tetapi ia ingat seperti apa rasanya. Kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan cuaca atau bunga-bunga. Gagasan bahwa anak-anaknya berada di suatu tempat yang disebut Llyod sebagai Dimensi telah menyelinap dalam, dan untuk pertama kalinya ia merasakan semacam perasaan yang ringan, bukan kesakitan.

Selama ini, setelah apa yang terjadi telah terjadi, setiap ingatan terhadap anak-anaknya adalah sesuatu yang harus segera Doree hilangkan dengan penuh rasa kesakitan seperti menarik sebilah pisau di tenggorokan. Doree tak bisa memikirkan nama mereka, dan jika ia mendengar sebuah nama yang terdengar mirip dengan nama salah satu dari mereka, Doree harus lekas-lekas menghilangkannya juga dari pikiran. Bahkan suara anak-anak, jeritan mereka dan kecipak tapak kaki saat mereka berlarian di kolam renang motel, semuanya harus lenyap di balik gerbang yang Doree ciptakan sendiri.

Apa yang berbeda sekarang adalah Doree memiliki semacam tempat berlindung yang bisa ia masuki setiap saat ia merasa ada bahaya mengancam.

Dan siapakah yang telah memberinya tempat berlindung semacam itu? Bukan Ibu Sands- pastinya. Bukan hasil berjam-jam duduk di ruangan Ibu Sands, di balik meja itu, dengan Kleenex yang diam-diam disodorkan.

Llyod yang telah memberikannya. Llyod, yang mengerikan itu, yang terisolasi dan gila itu.

Gila, begitulah panggilannya. Tetapi mungkin saja apa yang Llyod katakan adalah kebenaran- bahwa ada orang suci yang muncul di sisi lain dari dirinya? Dan siapa bilang bahwa pandangan seseorang yang telah melakukan hal sekeji itu dan telah melakukan perjalanan semacam itu tidak berarti apa-apa?

Pikiran ini menyelinap masuk ke dalam kepala Doree dan tinggal di sana.

Bersama dengan pikiran bahwa dari semua orang yang ada, Llyod adalah satu-satunya orang yang harus berada dengan Doree. Apalah guna Doree ada di dunia- sepertinya Doree pernah mengatakan hal ini pada seseorang, kemungkinan Ibu Sands- apa guna Doree ada di sini kecuali untuk mendengarkan Llyod bicara.

Aku tak mengucapkan kata “maaf,” ujar Doree pada Ibu Sands yang bercokol di dalam kepalanya. Aku tak akan pernah mengucapkan kata itu. Aku tak akan pernah melakukan itu.

Tetapi pikirkanlah. Bukankah aku sama terasingnya dengan Llyod? Tidak seorang pun yang mengetahui kejadian itu rela berhadapan denganku. Satu-satunya yang aku lakukan adalah menjadi pengingat bagi mereka, pengingat terhadap sesuatu yang tak ingin mereka ingat.

Penyamaran juga sia-sia. Mahkota paku berwarna kuning di atas kepalanya itu nampak menyedihkan.


Doree menemukan dirinya kembali berada di dalam bus, kembali melakukan perjalanan, menuju ke jalan raya. Ia teringat malam-malam setelah kematian ibunya, saat ia mengendap-endap untuk menemui Lloyd, berbohong pada teman ibunya yang memberikannya tumpangan tempat tinggal. Doree ingat nama teman ibunya itu. Laurie.

Siapa kecuali Llyod yang akan mengingat nama anak-anak sekarang, atau warna mata mereka? Saat terpaksa menyebut mereka, Ibu Sands bahkan tidak menggunakan kata “anak-anakmu” tetapi “keluargamu,” seolah mereka sekadar satu kumpulan.

Saat itu, pergi menemui Llyod, berbohong pada Laurie, tak menimbulkan rasa bersalah pada Doree melainkan serupa perasaan bahwa segalanya telah ditakdirkan, dan ia menyerah pada takdir itu. Doree merasa satu-satunya alasan ia ada di dunia adalah untuk bersama Llyod, untuk mencoba mengerti Llyod.

Tidak seperti itu sekarang. Tidak sama sekarang.

Doree duduk di kursi depan tepat di seberang sopir bus. Tak ada yang menghalangi pandangannya. Dengan leluasa, ia menyaksikan pemandangan dari kaca jendela depan. 

Oleh sebab itu, Doree adalah satu-satunya penumpang di bus, satu-satunya orang selain sopir, yang menyaksikan sebuah truk keluar dari sisi jalan tanpa memperlambat laju, yang menyaksikan truk itu melintasi jalan raya pada Minggu pagi yang sepi dan terjun ke dalam parit. Dan yang menyaksikan peristiwa lebih aneh lagi selanjutnya: sopir truk itu terbang ke udara dengan cepat sekaligus terasa lambat, ganjil dan anggun. Sopir truk itu mendarat di atas kerikil tepat di ujung trotoar pada seberang jalan raya.

Penumpang bus yang lain tidak tahu mengapa sopir menginjak rem secara mendadak hingga membuat tubuh mereka terlempar ke depan. Dan hal pertama yang melintas di pikiran Doree adalah, Bagaimana cara sopir truk itu keluar? Pemuda itu atau anak laki-laki itu pasti telah tertidur. Bagaimana bisa ia terbang dari dalam truk dan melayang dengan begitu anggunnya di udara?

“Bapak dan Ibu sekalian, tepat di hadapan kita,” sopir bus berbicara pada para penumpang. Ia berusaha bicara dengan tenang tetapi suaranya yang bergetar, semacam ketakjuban, tak dapat disembunyikan. “Di hadapan kita, sebuah truk telah terjerumus ke dalam parit. Kita akan segera melanjutkan perjalanan tetapi untuk sementara tolong jangan keluar dari dalam bus.”

Seolah-olah tak mendengar perkataan sopir, atau seolah-olah ia punya hak untuk melakukan sesuatu yang berguna, Doree keluar dari dalam bus. Sopir bus tidak menghalanginya.

“Bajingan sialan,” maki sopir bus saat mereka menyeberangi jalan, suaranya terdengar marah dan putus asa. “Anak kecil bajingan, lihat itu!”

Anak laki-laki itu berbaring, lengan dan kakinya terentang, seperti seseorang yang menirukan malaikat di atas salju. Hanya saja, bukan salju yang ada di sekelilingnya, melainkan kerikil. Matanya terkatup tak sempurna. Ia masih teramat muda, mungkin saja tubuhnya meninggi bahkan sebelum ia perlu bercukur, tetapi ia tak dapat menyembunyikan kemudaannya. Kemungkinan ia tidak memiliki surat ijin mengemudi.

Sopir bus berbicara di telepon.

“Kira-kira satu mil ke arah selatan Bayfield, di bagian timur jalan 21.”

Tetesan buih merah muda mengalir dari bawah kepala anak laki-laki itu, dekat dengan telinga. Sama sekali tidak nampak seperti darah, seperti saripati stroberi yang kau peras saat membuat selai.

Doree berjongkok di samping anak laki-laki itu. Ia meletakkan tangannya di atas tubuh kaku itu. Tak ada gerakan apapun. Doree membungkuk, mendekatkan telinganya. Kemeja yang dikenakan anak laki-laki itu meninggalkan bau seperti baru saja diseterika.

Tidak ada napas.

Tetapi jari-jari Doree yang menempel pada leher anak laki-laki itu menemukan denyut pada nadinya.

Doree teringat sesuatu. Llyod yang memberitahukan hal itu, kalau-kalau salah seorang dari anak mereka mengalami kecelakaan dan Llyod tidak ada. Lidah. Lidah bisa menghambat pernapasan, jika lidah itu jatuh ke belakang tenggorokan. Doree meletakkan jari-jari salah satu tangannya di atas dahi anak laki-laki itu dan dua jari dari tangannya yang lain di bawah dagu. Jari-jarinya menekan dahi ke bawah, menekan dagu ke atas, membebaskan jalan masuk udara. Agak sedikit miring.

Jika anak laki-laki itu masih belum bernapas, Doree harus memberikan napas buatan.

Doree menekan lubang hidung anak laki-laki itu, mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas langsung ke dalam mulut anak laki-laki itu. Dua embus napas dan cek. Dua napas dan cek.

Terdengar sebuah suara, bukan suara si sopir, suara laki-laki yang lain. Seorang pengendara motor berhenti. “Kau ingin selimut ini di bawah kepalanya?” Doree menggelengkan kepalanya cepat. Ia teringat sesuatu yang lain, tentang larangan memindahkan korban, agar saraf tulang belakangnya tidak tercederai. Doree mengunci mulut anak laki-laki itu dengan mulutnya sendiri. Ia menekan kulitnya yang hangat. Doree memberikan napas buatan dan menunggu. Ia memberikan napas buatan dan menunggu lagi. Di wajahnya, samar semburat kelelahan nampak.

Sopir bus mengatakan sesuatu tetapi Doree tak bisa menengok. Lalu ia merasakannya. Napas keluar dari mulut anak laki-laki itu. Doree meraba dada anak laki-laki itu, untuk sesaat ia tak dapat menentukan apakah dada itu turun naik ataukah tangannya yang bergetar hebat.

Ya. Ya.

Benar, ada napas yang keluar dari mulut anak laki-laki itu. Jalan masuknya udara telah terbuka. Anak laki-laki itu bernapas. Ia bernapas.

“Selimuti dia,” ujar Doree kepada laki-laki yang membawa selimut. “Agar dia tetap hangat.”

“Apakah dia masih hidup?” tanya si sopir sembari membungkuk ke arah Doree.

Doree mengangguk. Jarinya merasakan denyut lagi. Sesuatu yang berwarna merah muda dan mengerikan tak lagi mengalir dari bawah kepala anak laki-laki itu. Mungkin bukan hal penting. Bukan dari otaknya.

“Aku tak bisa menunggu,” ucap sopir bus. “Kita sudah jauh tertinggal dari jadwal yang seharusnya.”

Si pengendara motor menjawab, “Tidak apa-apa. Aku bisa menjaganya.”

Diam, diamlah, Doree ingin mengatakan itu kepada mereka. Seolah-olah kesunyian baginya adalah sesuatu yang penting, bahwa segala sesuatu di luar tubuh anak laki-laki itu harus berkonsentrasi, membantu anak laki-laki itu untuk tetap bernapas.

Gerakan yang terjaga namun malu-malu di dada anak laki-laki itu. Teruskan, teruskan.

“Kau dengar itu? Laki-laki ini akan menjaga anak itu,” kata si sopir. “Ambulans akan datang secepat mungkin.”

“Teruskanlah,” ucap Doree. “Aku akan ikut menumpang ambulans ke kota dan menunggu bus untuk pulang malam ini.”

Sopir bus harus membungkuk untuk mendengar ucapan Doree. Doree berbicara acuh tak acuh, tanpa menegakkan kepalanya, seolah-olah napas yang ia embuskan begitu berharga.

“Kau yakin?” tanya sopir.

Tentu.

“Kau tak perlu pergi ke London?”

Tidak. 

~

No comments:

Post a Comment