Sunday, March 8, 2015

Sebaris Dua (Atau Lebih) Kalimat Pembuka Cerita Pendek



Belakangan, saya kembali menulis. Terakhir, cerita pendek saya dimuat pada 14 September 2014, lima bulan yang lalu, di Koran Tempo. Dan cerita pendek yang dimuat itu, saya tulis pada akhir 2013, lebih dari satu tahun yang lalu. Belakangan, saya kembali menulis. Tersendat-sendat dan seringnya tak tahu harus ke mana setelah satu atau dua baris (atau lebih) kalimat pembuka. Berikut beberapa kalimat pembuka yang sepertinya tak membuka apa-apa.


(satu) 8/3/15
Di saat-saat seperti ini, bahkan kopi paling enak tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tentu saja bagaimana rasa kopi yang paling enak itu akan berbeda menurut lidahmu dan lidahku. Aku akan menambah dua sendok gula. Kau selalu mengerenyitkan dahi setiap kali memergoki aku melakukannya. Dua sendok gula untuk satu sendok kopi.


(dua) 7/3/15
Tiga hari ia berada di sana. Tiga hari sebelum akhirnya mereka menemukannya. Terbaring di dasar danau dengan permukaan paling tenang, setengah tubuh melesak ke dalam lumpur, mengikuti berat batu yang dibebat pada salah satu kaki. 

(tiga) 2/3/15
Segalanya tampak terbakar di Somerville. Jalan-jalan setapak, bangku-bangku di taman, dinding-dinding gedung. Wening menengadah dan mendapati bahkan langit pun berwarna merah.
“Aku ingin ke pantai,” gumam Wening. Tak akan ada yang terbakar di sana, pikirnya lagi, meski aku bisa tenggelam.

(empat) 25/2/15
Jika nanti akhirnya pelukis itu datang menghampiriku, aku harap ia akan melukis kucing dan hanya kucing untukku. 

(lima) 24/2/15
Ruang tunggu ini ribut sekali. Seperti ada yang menumpahkan isi pasar tradisional, konser musik di gelanggang olah raga, dan penonton pertandingan sepak bola sekaligus di sana. Perempuan-perempuan- muda, muda sekali, setengah tua, tua- berbicara tak henti-henti. 

(enam) 3/12/14
“Tak ada jalan ke Roma. Tidak jalan yang itu atau pun lainnya. Tidak ada jalan” katanya.
“Dan aku telah mengutukmu dalam tujuh bahasa berbeda.”
“Kau harus takut.”
Tetapi aku tidak takut. Ia bisa menyerapahiku dengan desis racun yang keluar dari ujung-ujung percabangan lidahnya. Dan racun itu bisa membakarku sekaligus hingga aku berubah abu. Aku tidak takut.

(tujuh) 19/10/14
Aku memutuskan untuk tidak menyukainya. Setelah kebersamaan panjang kami, melalui pertimbangan yang cermat dan teliti. Kukatakan sekali lagi, ini bukanlah jenis keputusan, “Pokoknya aku tidak suka!” Aku bahkan menulis keuntungan dan kerugian jika aku menyukainya serta keuntungan dan kerugian jika aku tidak menyukainya. Aku memutuskan untuk tidak menyukainya. 

(delapan) 12/10/14
Kita adalah sepasang kekasih terakhir di muka bumi ini.  

(sembilan) 28/8/14
Aku membenahi lipatan pada ujung baju kurung. Usianya lima tahun, baju kurung yang tengah kupakai ini, dan hanya sekali-sekali keluar dari lemari. Kerudungku jatuh dari atas kepala, membebaskan anak-anak rambut, tertiup angin sepoi dari luar jendela. 

(sepuluh) 11/7/14
Hening. 
Hening membawa pikirannya yang gaduh ke mana-mana. Meski bibirnya- dengan kedua belah bertemu sempurna- itu terkatup, sedang ada keributan yang tak bisa kuduga-duga di dalam sana. Riuh rendah, sembrono, dan kurang ajar.
Tetapi, Hening tetaplah Hening.



Bahkan kopi paling enak tak banyak membantu. Saya mengetik sebaris kalimat, merasa konyol, menghapus kalimat, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, merasa konyol, membayangkan hal yang lain yang mungkin terjadi selanjutnya, mengetik, merasa konyol, menghapus, mengetik ulang, membayangkan apa yang akan tokoh lakukan, mengetik, merasa konyol, menutup naskah. 
Begitulah. Saya akan kembali melakukan hal yang sama besok. Mungkin kalimat-kalimat pembuka di atas akhirnya akan membuka sesuatu.