Thursday, June 11, 2015

Tihau (femina, 9-15 Mei 2015)



Jalan menuju Dusun Abung Barat, Lampung, memang agak berliku. Dari jalan besar yang biasa dilewati bus-bus malam antarkota antarprovinsi dan truk-truk besar pembawa hasil bumi, ada sebuah jalan kecil membelah kebun-kebun lada. Jalan kecil itu berbatu dan becek karena proyek pelapisan aspal belum menyentuhnya. Turun naik menantang siapa saja pengendara yang lewat di sana. Ada sebuah turunan yang curam sekali lalu tanjakan yang tajam sekali, mirip mangkuk. Dan pada bagian dasar mangkuk itu, di salah satu sisi, ada tiga makam berdampingan. Sepasang berukuran manusia dewasa dan satu yang lain berukuran anak kecil. Kayu-kayu nisan tiap makam sudah melapuk, maka agak sulit membaca siapa yang dikubur disana. Tapi aku tahu siapa mereka.
Aku masih berusia dua belas atau tiga belas tahun saat itu, kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Musim mutikh1 lada sedang berlangsung. Seperti biasa, Ayah dan Ibu selalu pulang membantu Kakek dan Nenek untuk memanen lada, seminggu atau bisa lebih lama. Itulah, musim mutikh yang selalu membelit ingatanku.
Kakekku melepas topi dari atas kepalanya, lalu parang yang terselip di antara lilitan kain pada pinggangnya. Wajahnya tampak cemas.
“Lagi-lagi pencuri lada itu berlagak. Kebun Uwak Sar yang tak seberapa itu hampir habis,” ucap Kakek sambil menuang air ke dalam gelas kaleng. “Kalau sampai kebun kita pun dihampiri, tak segan aku… “ ia tak melanjutkan perkataannya.
Ibuku menghampiri Kakek sambil membawakan segelas kopi, “Sudahlah Bak2, ini diminum dulu.”
Paman yang sedari tadi duduk di meja makan, diam-diam beranjak meninggalkan Kakek sendiri dengan kopinya. Rupanya, Paman pergi mencari Ayah. Aku mengikutinya sampai ke bawah pohon rambutan di pekarangan rumah. Di sana ada sebuah lincak dari anyaman batang bambu yang rapat. Kudapati Ayah sedang menikmati angin sore dusun.
Sak3,“ Ayahku hormat menyapa Paman, kakak iparnya itu.
Paman ikut duduk di sebelah Ayah, sementara aku memunguti batu-batu sungai berwarna abu-abu yang disusun menjadi jalan setapak.
“Achmad, sudah kau dengar pencurian lada di dusun kita ni?”
“Iya, Sak,” jawab Ayahku pendek.
“Achmad, kalau nanti aku sudah berhasil mengumpulkan modal, maukah kau membantu kami?”
“Tentu... tentu, Sak.”
Sudah lama aku mendengar keinginan Paman untuk pindah ke kota, meninggalkan dusun tempat kelahirannya. Berulang-ulang ia bilang, menjadi petani lada dan seumur hidup tinggal bersama orangtua bukan takdirnya. Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, bukan melulu menengadahkan tangan meminta disuapi bak dan umak­4-nya. Berulang-ulang juga aku dengar Ibu berkata bahwa Paman terlalu lunak untuk bisa hidup sendiri tanpa bantuan. Paman, anak lelaki satu-satunya di keluarga, sudah biasa dimanja sedari kecil.
“Istriku bisa berdagang, anakku bisa belajar di sekolah yang baik seperti anakmu. “
“Ya, Sak. Tentu.”
Aku terus memunguti batu-batu berwarna abu-abu. Tidak ada yang peduli pada anak laki-laki berusia tiga belas tahun sepertiku.
Tengah malam, tiba-tiba pintu digedor keras. Sekelompok laki-laki membawa suluh dan parang berdiri gelisah ketika Nenek membukakan pintu.
“Ada yang memergoki pencuri lada di kebun Mang Gopah. Kita akan mengejar pencuri itu. Mang Cik5 dan Kak Emran sebaiknya ikut,” ucap salah seorang dari tamu-tamu tengah malam itu.
“Suamiku ada, tapi anakku menginap di kebun. Oh, cucuku, menantuku, jangan sampai mereka bertemu pencuri itu,“ jawab Nenek tak kalah gelisah, takut terjadi apa-apa pada anak lelakinya. Kakek dan Ayah sudah bersiap. Perburuan pencuri lada akan dimulai.
Aku bersembunyi di balik selimut dalam pelukan Ibu.
Paginya, Kakek dan Ayah pulang tanpa hasil. Wajah-wajah lelah mereka tanda tenaga yang terkuras semalaman akibat berkejaran dengan pencuri.
“Pencuri itu lihai sekali bersembunyi,” Kakek mengabarkan.
“Apa kalian bertemu Emran?” tanya Nenek cemas. Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan anaknya, memikirkan Paman.
“Kami mampir ke dangau  untuk tidur, Kak Emran tak ada di sana,” jawab Ayah.
“Ya, Allah… Ya, Allah… “ Nenek terduduk lemas.
Nenek tetap duduk di tempatnya sampai Paman sekeluarga pulang ke rumah. Pada tangan dan lutut Paman terdapat luka-luka baret seperti habis terjatuh.
“Ya, Allah…. Emran!” Tergopoh Nenek menyambut Paman, menciumi cucunya, sepupuku yang tertidur dalam gendongan Bibi.
“Kami bertemu pencuri lada semalam. Aku ikut mengejar, tapi terjatuh.” Paman menjelaskan tanpa diminta.
“Kebun siapa kali ini?” tanya Ibu.
“Kebun kita,” pendek, Kakek menyahut dari dalam rumah.
“Geram aku dibuatnya,” timpal Paman sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur kapuk tipis yang digelar di ruang tengah.
“Aku bersumpah, biar pencuri itu mati, bagaimanapun caranya!” seru Kakek tiba-tiba. Nenek, Ayah, Ibu, Paman, dan Bibi diam saja.
Seharusnya hari itu Ayah, Ibu, dan aku pulang. Musim mutikh lada sudah hampir berakhir. Namun Paman sekeluarga sudah empat hari tak kembali dari kebun. Memang sudah biasa bagi petani lada macam Kakek, Nenek, dan Paman untuk menginap di kebun yang jaraknya satu setengah jam berjalan kaki dari dusun, bahkan sampai berminggu-minggu bila perlu. Tetapi, bukan kebiasaan Paman menginap lebih dari tiga malam. Nenek memutuskan untuk menyusul Paman sekeluarga ke kebun besok, pagi-pagi sekali. Kepulangan kami; aku, Ayah, dan Ibu, terpaksa ditunda.
Selepas shalat Subuh, Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, dan aku pergi ke kebun. Mobil yang dikendarai Ayah berguncang-guncang di atas jalan berbatu. Sampai di kebun milik Paman, Ayah menepikan mobil. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kira-kira dua puluh menit lamanya. Kami berjalan beriringan melalui jalan setapak di antara pohon-pohon dadap tempat merambat tanaman lada. Kakiku gatal-gatal terkena sabetan rumput liar, tapi Ibu yang menggandeng tanganku tak mau berhenti.
Kami sampai dan mendapati dangau di tengah kebun itu sepi, hanya ada sisa-sisa abu kayu bakar dan sebuah panci besar di atasnya. Ibu membuka tutup panci itu, bau busuk menyeruak dari dalamnya tanda sudah terlalu lama dibiarkan di situ.
Tihau5… “ kata Ibu pelan. Wajah-wajah menegang. Nenek berlari menaiki tangga dangau yang pendek. Dari luar, kami mendengar lolongan.
Di dalam dangau, terbaring kaku Paman, Bibi, dan sepupuku. Aku bersembunyi di balik punggung Ibu.
Seminggu setelah Paman sekeluarga dimakamkan di tepi kebunnya sendiri, pada pinggiran sebuah dasar cekungan jalan serupa mangkuk, Kakek meninggal. Bisik-bisik mengatakan Kakek tak kuat menahan rasa bersalah mengutuk mati anak laki-lakinya sendiri. Paman, si pencuri lada yang ingin pindah ke kota itu, mati teracun jamur liar yang dimakannya sekeluarga.
Musim mutikh lada lagi, sudah dua puluh tahun berlalu dari musim mutikh yang selalu kuingat itu. Kami; Ayah, Ibu, dan aku, kembali mengunjungi dusun. Ayah memperlambat laju mobil saat melewati cekungan mangkuk, menoleh sekilas pada tiga makam di pinggirnya.
“Ah, sudah benar Kak Emran meninggal muda. Coba bayangkan seumur hidup menyusahkan orangtua padahal dia adalah anak laki-laki satu-satunya yang diandalkan oleh keluarga,” ujar Ayah tiba-tiba seolah menujukan kata-kata itu padaku yang duduk di kursi penumpang di sebelah Ibu. Aku, si anak laki-laki satu-satunya, berusia tiga puluh tiga, baru saja dipecat dari pekerjaan di sebuah kantor swasta, dan masih tinggal bersama orangtua. Aku bersembunyi di balik punggung Ibu.
***


Catatan Kaki
1:  Memetik/ panen
2: Bapak
3: Kakak
4: Ibu
4: Paman
5: Jamur

1 comment:

  1. Kak Lia, aku baru baca. Bagus banget deh hihihi

    ReplyDelete