Tuesday, November 3, 2015

Aku tahu, kamu akan menjadi seorang bapak yang baik

kita bertiga



Hey, teman hidup.

Untuk aku, tiga puluh empat minggu terakhir adalah salah satu dari sekian banyak waktu-waktu paling seru yang pernah aku jalani bersama kamu.

Dimulai dari berita besar yang ngga kita sangka-sangka.

Bahwa aku hamil bukanlah kabar yang waktu itu ingin kita dengar. Iya, kan? Kita punya rencana panjang yang belum melibatkan kehamilan atau anak atau mengubah haluan hidup kita seratus delapan puluh derajat jungkir balik sebagai sepasang orang tua. Tapi aku hamil!
Hanya butuh satu dua hari untuk merasa ngga percaya, takut, ngga siap, bahkan ngga terima. Lalu aku jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada bulatan hitam yang tercetak di foto hasil USG pertama yang kita pajang di pintu lemari es itu. Cuma bulatan hitam di tengah-tengah segitiga yang kata dokter adalah rahimku, sekadar gambar dua dimensi di depan pintu lemari es. Tapi ia berhasil membuatku jatuh cinta.

Aku tahu, kamu juga merasa begitu.


Lalu perdebatan pertama kita tentang bagaimana nanti ia akan memanggil aku dan kamu. Aku selalu suka ‘Bapak’ dan ‘Ibu’. Kamu mau dipanggil ‘Ayah’ tapi ‘Bunda’ bukan panggilan yang aku harapkan. Bagaimana kalau ‘Nena’ dan ‘Babai’ dari bahasa Albania? Atau ‘Moeder’ dan ‘Vader’ dari bahasa Belanda? Akhir-akhir ini, kamu merasa ‘Papa’ dan ‘Mama’ adalah dua kata yang paling mudah diucapkan balita, dan karenanya kamu memutuskan bahwa ia akan memanggil kita sebagai ‘Papa’ dan ‘Mama’.

Papa dan Mama. Sebentar lagi, kita adalah sepasang Papa dan Mama.

Setelahnya ada rembuk panjang tentang bagaimana nanti kita akan memanggilnya. Tiga nama. Satu dari kita berdua, satu lagi dari kedua orang tuamu, dan satu yang lainnya dari kedua orang tuaku. Setelah berpuluh-puluh halaman situs nama-nama bayi, akhirnya kita sepakat. Kita akan memberinya serangkai nama dengan arti “Anak laki-laki terpuji yang memancarkan cahaya seperti matahari.”

Tiga puluh empat minggu yang mudah, ya? Kita masih leluasa pergi ke pantai, ke gunung, pulang ke Cirebon atau ke Lampung, nonton konser atau film di bioskop, mengantar Kyo jalan-jalan di Senayan, ke bazar di mall yang harga barang-barangnya keterlaluan, ke pameran lukisan, memutari ITC Kuningan atau Tanah Abang atau Pasar Baru, atau sekadar jajan mie ayam di belakang Plaza Slipi Jaya. Setiap minggu berkeliling ke Jagakarsa, atau ke Pamulang, atau ke Depok, atau ke Tangerang demi sepotong tanah atau rumah sederhana yang iklannya kita temukan di OLX. Naik motor berdua ke mana-mana, masih bisa, masih leluasa. Aku selalu bilang, anak kita sangat pengertian.

Tiga puluh empat minggu terakhir, aku selalu bahagia, bahkan di situasi-situasi paling menyebalkan. Seperti sewaktu kita kehujanan di Lembang, dan aku capek sekali, sementara kamu menolak untuk menginap di hotel sebab kita terlanjur berjanji pada kakakmu untuk segera pulang, kemudian kita saling membantah, aku tak tahan lagi lalu menangis seperti anak kecil yang membuatmu kebingungan setengah mati. Atau saat kita gagal mendapatkan pinjaman untuk membeli tanah di Jagakarsa, dan rencana kita berantakan, lalu lagi-lagi aku menangis karena membayangkan anak kita akan tinggal di sepetak rumah kontrakan pada sebuah gang sempit di belakang jalan K.H. Syahdan. Atau ketika kamu tergila-gila pada sepeda, dan semua bookmarks di komputer adalah tautan ke halaman tentang wheeldop fixie atau COG Eightinch 19 T atau Knog Frog LED light atau entah suku cadang sepeda apa lagi. Sementara aku saja yang mengurusi segala perlengkapan bayi. Kamu ngga tahu bedanya clodi dan bedong, atau stroller apa yang seharusnya kita beli, atau perlukah baby bouncer dan baby playmat. Aku merasa kamu ngga perhatian. Kamu merasa aku yang paling berhak menentukan apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk anak kita nanti. 

Aku sudah bilang, kan, bahwa aku selalu bahagia. 

Kamu selalu bisa membuat aku kembali tertawa, selalu bisa menemukan jalan untuk memperbaiki rencana berantakan yang membuat pusing kepala, dan kamu tahu apa gunanya teether atau bedanya Baba Sling dan Ergo Baby. Yay!

Aku harap kamu akan selalu ingat saat pertama kali tanganmu merasakan tendangan anak kita. Sebab aku ngga akan pernah lupa rasa ngga sabar menunggu kamu pulang dari kantor hanya untuk memberitahumu bahwa aku akhirnya merasakan gerakan di dalam perutku, ngga sabar untuk mengajakmu merasakannya juga. Bulatan hitam itu sudah bukan lagi gambar dua dimensi di depan pintu lemari es. Dia bergerak, mungkin berputar-putar, bisa jadi sedang meregangkan tangan dan kakinya di dalam sana. Dan semenjak itu, gerakan-gerakannya adalah hal yang paling kutunggu-tunggu di sepanjang hari.

Kita sudah mengumpulkan sembilan foto hasil USG. Dari sekedar bulatan hitam, ia mewujud sebentuk manusia. Itu kepalanya, itu kaki dan tangannya, dan itu jenis kelaminnya, kata dokter. Kunjungan ke dokter adalah hal yang selalu kita nanti-nantikan, hanya untuk melihatnya di layar monitor, bergerak-gerak dalam bentuk yang seringnya tak kita pahami. Bersyukur sebab dokter selalu mengabarkan hal-hal yang baik sejauh ini, kecuali bahwa lehernya terlilit tali pusar dan kepalanya belum juga mau masuk ke pintu atas panggul. Masih ada waktu sebelum hari kedatangannya, segala kemungkinan masih bisa terjadi. 

Jangan lupa berdoa, ya.

Hey kamu, teman hidup.            
          
Kamu memang bukan laki-laki paling romantis di dunia. Kamu ngga pernah pintar menyatakan cinta lewat kata-kata atau kejutan semacam cokelat dan bunga-bunga. Tapi kamu selalu ada setiap aku butuhkan, tapi kamu selalu melakukan hal-hal yang aku minta tanpa banyak tanya, tapi kamu selalu memastikan aku mendapatkan apa yang aku perlukan bagaimanapun caranya. Kamu juga bukan orang suci. Kadang kamu menjengkelkan. Kamu bisa marah, kecewa, dan sedih. Tapi apapun perkaranya, kita selalu bisa bicara baik-baik, menyelesaikannya baik-baik, lalu menertawakan kekonyolan kita sendiri.

Kamu adalah suami yang baik, dan aku tahu, kamu akan menjadi seorang bapak yang baik.






2 comments:

  1. Mbak Lia, indahnya.. Aku jadi berkurang takut hamil :)

    ReplyDelete
  2. Mbak Lia, indahnya.. Aku jadi berkurang takut hamil :)

    ReplyDelete