Friday, December 21, 2018

Terakhir untuk Kyo

Anton dan Kyo, 22 Januari 2012



Teman-teman yang saya kumpulkan selama tiga tahun terakhir mungkin tidak mengenal Kyo. 

Kyo adalah anjing suami saya, Anton, tapi kami memeliharanya bersama berganti-gantian sejak kelahirannya tiga belas tahun yang lalu. 

Saya ingat, 25 Desember 2005, Anton membawa Kyo yang hanya sebesar telapak tangan. Kyo anak dari anjing tetangga sebelah rumah kontrakan yang dihibahkan kepada Anton. 

Dulu semasa kuliah, Anton memelihara 3 anjing; Popo, Pipo, dan Muka Beruang. 

Popo dipersekusi tetangga sekitar yang tidak suka dengan keberadaannya. Iya, saya pakai kata yang keras itu sebab memang begitu kejadiannya. 

Suatu hari, Pipo pergi dari rumah dan tidak pernah kembali lagi. 

Muka Beruang diculik tetangga lainnya yang makan anjing. Malam sebelumnya, tetangga itu pesta daging bakar. Paginya, kami menemukan kalungnya di sebelah karung di depan rumah tetangga itu. Saya tidak ingin membayangkan apa yang menimpa Muka Beruang. 

Lalu datanglah Kyo.

Mula-mula dia berwarna hitam lalu kecokelatan. Dia lucu, penurut, dan penyayang. 

Kyo pernah tinggal di Jogja, Cirebon, Jakarta, Depok, dan terakhir Cibinong. 

Pernah jadi rebutan saat saya dan Anton sempat memutuskan untuk putus hubungan selama setahun. 

Empat tahun lalu ketika saya dan Anton akan menikah, saya mengajukan syarat agar Kyo dihibahkan kepada orang lain. Sebab kami akan tinggal seatap, dan saya tidak ingin seatap dengan anjing. Iya, keyakinan saya sudah bergeser. 

Tetapi anjing adalah makhluk hidup yang tidak bisa seenaknya dipindah-tempatkan saat sudah tidak menginginkan. 

Bagi Anton, Kyo seperti anak sendiri. Saya tentu tidak punya hati memisahkan. 

Saya terima Kyo dengan berbagai syarat, meski terus terang sudah tidak sayang. Di kehidupan sosial saya, Kyo tidak lagi mendapat sorotan. 

Tiga tahun lalu, Arka lahir. Saya benar-benar tidak mengurus Kyo lagi. 

Tapi Kyo tetaplah Kyo; yang menyayangi saya dan Anton tanpa syarat. 

Kyo dan Arka tidak akrab. Kyo menghindari Arka. Arka pun biasa-biasa saja. Tapi beberapa waktu terakhir, mereka kelihatan mulai menemukan satu sama lain. Arka mulai menunjukkan bahwa ia sayang Kyo. Kyo mulai menerima kehadiran Arka. 

Kyo memang sudah tua. 13 tahun usia anjing kira-kira 70 tahun usia manusia. Karena usia, Kyo mulai sakit. 

Pertengahan tahun ini, Kyo sempat menjalani operasi tumor. Lalu dia sehat kembali. 

Sebulan yang lalu dia mulai malas-malasan. Ya, wajar, namanya juga anjing tua. Tapi dia masih mau menggali tanah di halaman belakang, masih rajin berlari-lari, dan lahap makan. 

Seminggu terakhir, pelan-pelan, dia tidak bisa berdiri. 

Dua malam terakhir, Kyo selalu menangis melolong-lolong, dan tidak mau makan. 

Kami membawanya ke dokter yang menyatakan bahwa Kyo lumpuh. Kemarin, kami membawanya ke dokter lain yang menyatakan Kyo bisa sembuh. 

Tadi malam, saya tidak bisa tidur. Saya menunggui Kyo yang terus menangis. Saya minta maaf. Saya bilang bahwa kami ikhlas apapun yang terjadi asal Kyo tidak sakit lagi. 

Siang ini, entah mengapa, saya merasa harus ijin dari pekerjaan sebentar, harus menengok Kyo di rumah. 

Saya panggil Kyo yang tidur di teras belakang. Kyo tidak menjawab. Matanya kelabu. Saya tahu, dia sudah pergi. 

Selamat jalan, Kyo. Saya sayang kamu. 




Mengenang Kyoto Mamoru, 25 Desember 2005 - 20 Desember 2018

Wednesday, December 19, 2018

Pak Tou


Pak Tou,

Pernah ada masa, Sabtu dan Minggu rumah Bapak dibuka untuk mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang sedang kebut-kebutan menyelesaikan skripsi.

Rumah kecil yang terasnya rimbun. Buku-buku menumpuk di setiap sudut. Foto-foto keluarga, cendera mata, dan piagam penghargaan berderet dalam lemari kaca. Serta kue-kue kering dalam toples beling di atas meja. Rumah yang selalu ramai di akhir pekan.

Saya ingat menunggu di teras rumah Bapak. Sendiri, berdua, bertiga, beramai-ramai. Datang dari sore, diterima ketika malam.  Tidak mengapa, tidak terasa. Toh, Bapak justru merelakan hari libur untuk bekerja.

Saya ingat Bapak membaca naskah skripsi saya lalu berkata, “Konyol kamu.” Saya membayangkan keluasan ilmu Bapak dan mengetahui betapa sempit pengetahuan saya. Tentu saja naskah itu sekadar kekonyolan bagi Bapak. Tetapi saya juga percaya, ‘Konyol kamu’ itu adalah bentuk lain dari ‘Saya peduli padamu. Saya mau yang terbaik untukmu. Maka perbaiki tulisan ini.’

Saya ingat cerita Bapak tentang anak-anak ayam yang tidak ada hubungannya dengan skripsi yang sedang saya tulis. Saya terpaksa mengangguk-angguk menyetujui. Lihat, kadang Bapak juga bisa konyol.

Bapak mengingatkan kepada bapak saya sendiri; perawakan dan gerak-gerik yang serupa, juga kegigihan yang sama. Pernah sempat berandai; Bapak bertemu bapak saya lalu kalian berbicara panjang seperti sepasang kawan lama.

Tahun lalu, saya membaca tulisan Bapak di jurnal ilmiah. Bapak masih menulis. Tulisan terakhir, ya, Pak.

Bapak selalu punya rasa kagum dan hormat dari saya, juga terima kasih yang sayangnya tidak pernah secara terang saya sampaikan.

Selamat jalan, Pak. Sampai ketemu lagi dengan saya yang konyol ini.


2 Agustus 1954 - 16 November 2017