Wednesday, December 19, 2018

Pak Tou


Pak Tou,

Pernah ada masa, Sabtu dan Minggu rumah Bapak dibuka untuk mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang sedang kebut-kebutan menyelesaikan skripsi.

Rumah kecil yang terasnya rimbun. Buku-buku menumpuk di setiap sudut. Foto-foto keluarga, cendera mata, dan piagam penghargaan berderet dalam lemari kaca. Serta kue-kue kering dalam toples beling di atas meja. Rumah yang selalu ramai di akhir pekan.

Saya ingat menunggu di teras rumah Bapak. Sendiri, berdua, bertiga, beramai-ramai. Datang dari sore, diterima ketika malam.  Tidak mengapa, tidak terasa. Toh, Bapak justru merelakan hari libur untuk bekerja.

Saya ingat Bapak membaca naskah skripsi saya lalu berkata, “Konyol kamu.” Saya membayangkan keluasan ilmu Bapak dan mengetahui betapa sempit pengetahuan saya. Tentu saja naskah itu sekadar kekonyolan bagi Bapak. Tetapi saya juga percaya, ‘Konyol kamu’ itu adalah bentuk lain dari ‘Saya peduli padamu. Saya mau yang terbaik untukmu. Maka perbaiki tulisan ini.’

Saya ingat cerita Bapak tentang anak-anak ayam yang tidak ada hubungannya dengan skripsi yang sedang saya tulis. Saya terpaksa mengangguk-angguk menyetujui. Lihat, kadang Bapak juga bisa konyol.

Bapak mengingatkan kepada bapak saya sendiri; perawakan dan gerak-gerik yang serupa, juga kegigihan yang sama. Pernah sempat berandai; Bapak bertemu bapak saya lalu kalian berbicara panjang seperti sepasang kawan lama.

Tahun lalu, saya membaca tulisan Bapak di jurnal ilmiah. Bapak masih menulis. Tulisan terakhir, ya, Pak.

Bapak selalu punya rasa kagum dan hormat dari saya, juga terima kasih yang sayangnya tidak pernah secara terang saya sampaikan.

Selamat jalan, Pak. Sampai ketemu lagi dengan saya yang konyol ini.


2 Agustus 1954 - 16 November 2017  

No comments:

Post a Comment