Thursday, December 19, 2019

Selesai dengan Diri Sendiri

27 Mei 2019


Sekali dua tiga kali aku mengunjungi klinik psikiatri di rumah sakit milik pemerintah. Duduk mengantri bersama orang-orang yang kulihat betul-betul sudah hilang arah.

Aku tidak. Kupikir, aku tidak. Aku percaya, aku tidak hilang arah. Aku berangkat sendiri, dengan kesadaranku sendiri, atas dasar kemauanku sendiri. Aku sendiri saja, tidak perlu ditemani.

Lalu, dokter yang membaca hasil uji kejiwaanku berkata, “Kamu belum selesai dengan dirimu sendiri.”

Aku bertanya-tanya. Siapakah yang benar-benar telah selesai dengan diri mereka sendiri? Siapakah yang tidak membawa-bawa kesedihan, trauma, luka, gelap masa lalu, kecemasan, harapan yang patah, kekecewaan, dan hal-hal lain yang masih belum mendapat jawaban melegakan? Siapakah orang itu? Apakah kamu? Atau apakah kamu mengenal seseorang itu?



Wednesday, December 18, 2019

Mencatat Gejala

8 Mei 2019, 14.07

Hal-hal yang ikut pergi bersamamu: makan malam dan tidur malam.




8 Mei 2019, 18.33

Kita membicarakan cuaca
“Di sana hujan, ya?”
“Di sini cerah.”

Tetapi tidak perasaan kita



Membicarakan orang-orang dan peristiwa
Tetapi tidak perasaan kita

Atap bocor, rumput tinggi
Lampu mati, perlu diganti

Tetapi tidak perasaan kita

Kemarin dan hari ini
Tumpang tindih
Besok, lusa, atau hari ini

Kita melupakan

Perasaan-perasaan kita





14 Mei 2019, 23.35

Aku ingin membayangkanmu sebagai bunga matahari yang baru saja dipetik. Bunga matahari di dalam beling jambang. Jambang pada sudut meja yang menghadap kaca jendela.

Kelopakmu merekah ke arah cahaya.

Tapi kau bukan bunga matahari. Dan aku bukan cahaya. 





15 Mei 2019, 13.36

"Listrik habis,” katamu. Mengikat tali sepatu. Menggantung tas di bahu.

“Ya,” sahutku. “Air minum habis.”

“Ya.”

Repet sinyal meteran listrik. Aku mendengarnya sejelas kau melihat galon kosong di atas mesin dispenser.

Kita membicarakan hal-hal praktis.

“Pergi dulu, sayang.”

“Ya, sayang.”

Perasaan sekadar kata sapaan.





18 Juli 2019, 22.42


Entah kapan
Pada suatu hari yang tenang
Dan biasa-biasa saja
Ulang tahun pernikahan
Tanpa perayaan
Tanpa makan-makan




14 September 2019, 07.56

Kamu memesan Americano dengan gula aren
Seperti yang selalu ia pesan
Di kedai yang bukan kedai langganan kalian
Yang jauh dari tempat tinggal kalian

Kamu selalu memesan latte
Susu dengan espresso
Tapi kali ini kamu memerlukan pengingat

Kopi itu mendingin di atas meja
Dibiarkan di antara pembicaraan
Dia berkata, “Kamu minum kopinya lama, ya.”
Sementara yang sebenarnya terjadi di kepalamu adalah
kamu                                  sedang
                   melupakan           seseorang
                                  yang
selalu
                      memesan Americano
            dengan gula
aren.




13 November 2019, 23.26

Dia sampai tapi
tidak segera turun dari kendaraan sementara
hujan turun terlalu deras.

Dia mematikan mesin lalu
duduk diam berlama-lama selagi
hujan turun terlalu deras.

Sekilat petir sampai ke pandangan dan
dia berharap tersambar sekalian
terbakar di dalam kendaraannya ketika
hujan turun terlalu deras.






Tuesday, December 17, 2019

Ditulis Sebelum Menyapih Kamu

Ulang tahun Arka ke 2



Kamu tahu, aku hampir menyerah.

Tiga bulan pertama, yang aku rasa cuma sakit sakit sakit.

Tidak ada haru atau bahagia atau indah seperti di gambar-gambar pada selebaran propaganda pentingnya air susu ibu.

Terus terang, kadang aku dengan sengaja membiarkan kamu menangis lebih lama. Sebab aku takut. 

Meski semua orang- yang pernah bahkan yang belum atau tidak akan pernah mengalaminya tetapi cukup kurang ajar untuk berlagak tahu segalanya- berpesan supaya aku bertahan. Aku akan menyesal jika aku tidak bertahan, akan ada sesuatu yang indah di ujung sana saat aku berhasil bertahan. 

Sebentar. Sebentar lagi. 

Tapi tiga bulan, setiap hari, setiap selang satu dua jam, selama berjam-jam merasakan sakit betul-betul bikin aku hampir menyerah. 

Lalu puncaknya ketika mastitis mampir. 

Selama kira-kira sebulan, post partum syndrome seperti teman dekat. Menangis lama-lama di kamar mandi. Menangis saat menyusui. Sakit lecet puting ditambah sakit infeksi, berat bengkak payudara, air susu semakin sedikit. Lalu kamu mulai menolak menyusu. 

Lalu kita sering menangis bersama. Kamu kelaparan, aku kesakitan. 

Sampai akhirnya aku menangis di depan semua orang. 




Aku capek dan sakit.





Kamu tahu, aku hampir menyerah. 

Pasca insisi dan drainase abses akibat mastitis, dokter bilang hal semacam ini bisa terulang. Dokter bilang, ada cara untuk menghentikan produksi air susu agar mastitis tidak punya peluang untuk kembali. Pilihannya adalah menyerah atau meneruskan menyusui. 
Dokter menulis resep, aku menebus obat. Obat yang tidak pernah aku minum.

Kamu tahu, aku bersyukur karena tidak menyerah. 


Sebab setelah tiga bulan. Setelah tidak ada lecet puting. Setelah selesai masa penyembuhan. Setelah pelekatan kita berdua sempurna. Aku akhirnya merasakan kebahagiaan setiap kali kamu datang menyusu. Akhirnya tahu, mengapa para ibu di selebaran propaganda pentingnya air susu itu selalu digambarkan menyungging senyum damai di wajah mereka.

Sekarang kamu hampir satu tahun, ya. Dan caramu menyusu semakin seru, ya. Sambil berguling-guling, sambil duduk, sambil berdiri. Kamu mengajaknya bicara, kamu sayang-sayang, kamu kejar-kejar. Dan kita berdua selalu senang, ya.

Jadi, aku mau melakukan ini lebih lama lagi. Kalau menyusu dan menyusui ini masih terasa wajar bagi kita berdua, aku belum mau berhenti.



15 Februari 2018