Tuesday, December 17, 2019

Ditulis Sebelum Menyapih Kamu

Ulang tahun Arka ke 2



Kamu tahu, aku hampir menyerah.

Tiga bulan pertama, yang aku rasa cuma sakit sakit sakit.

Tidak ada haru atau bahagia atau indah seperti di gambar-gambar pada selebaran propaganda pentingnya air susu ibu.

Terus terang, kadang aku dengan sengaja membiarkan kamu menangis lebih lama. Sebab aku takut. 

Meski semua orang- yang pernah bahkan yang belum atau tidak akan pernah mengalaminya tetapi cukup kurang ajar untuk berlagak tahu segalanya- berpesan supaya aku bertahan. Aku akan menyesal jika aku tidak bertahan, akan ada sesuatu yang indah di ujung sana saat aku berhasil bertahan. 

Sebentar. Sebentar lagi. 

Tapi tiga bulan, setiap hari, setiap selang satu dua jam, selama berjam-jam merasakan sakit betul-betul bikin aku hampir menyerah. 

Lalu puncaknya ketika mastitis mampir. 

Selama kira-kira sebulan, post partum syndrome seperti teman dekat. Menangis lama-lama di kamar mandi. Menangis saat menyusui. Sakit lecet puting ditambah sakit infeksi, berat bengkak payudara, air susu semakin sedikit. Lalu kamu mulai menolak menyusu. 

Lalu kita sering menangis bersama. Kamu kelaparan, aku kesakitan. 

Sampai akhirnya aku menangis di depan semua orang. 




Aku capek dan sakit.





Kamu tahu, aku hampir menyerah. 

Pasca insisi dan drainase abses akibat mastitis, dokter bilang hal semacam ini bisa terulang. Dokter bilang, ada cara untuk menghentikan produksi air susu agar mastitis tidak punya peluang untuk kembali. Pilihannya adalah menyerah atau meneruskan menyusui. 
Dokter menulis resep, aku menebus obat. Obat yang tidak pernah aku minum.

Kamu tahu, aku bersyukur karena tidak menyerah. 


Sebab setelah tiga bulan. Setelah tidak ada lecet puting. Setelah selesai masa penyembuhan. Setelah pelekatan kita berdua sempurna. Aku akhirnya merasakan kebahagiaan setiap kali kamu datang menyusu. Akhirnya tahu, mengapa para ibu di selebaran propaganda pentingnya air susu itu selalu digambarkan menyungging senyum damai di wajah mereka.

Sekarang kamu hampir satu tahun, ya. Dan caramu menyusu semakin seru, ya. Sambil berguling-guling, sambil duduk, sambil berdiri. Kamu mengajaknya bicara, kamu sayang-sayang, kamu kejar-kejar. Dan kita berdua selalu senang, ya.

Jadi, aku mau melakukan ini lebih lama lagi. Kalau menyusu dan menyusui ini masih terasa wajar bagi kita berdua, aku belum mau berhenti.



15 Februari 2018

No comments:

Post a Comment